<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4134222016972542877</id><updated>2011-07-29T02:45:53.171-07:00</updated><category term='filsafat pendidikan'/><category term='pendidikan'/><category term='Silabus'/><title type='text'>perpustakaan muhmida</title><subtitle type='html'>SELAMAT DATANG DI PERPUSTAKAAN MUHMIDA
WAHANA DIALOG FILSAFAT PENDIDIKAN</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://muhmidayeli-perpustakaanmuhmida.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4134222016972542877/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhmidayeli-perpustakaanmuhmida.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>muhmidayeli</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08080079530456384027</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_sUDEfuQg6gw/SxYaajpzvvI/AAAAAAAAACU/jlIaHXHd_EA/S220/IMG_0122.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>9</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4134222016972542877.post-7076222781646002323</id><published>2010-03-05T05:58:00.000-08:00</published><updated>2010-10-04T00:39:45.602-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Silabus'/><title type='text'>SILABUS  Filsafat ILmu</title><content type='html'>MATA KULIAH     : FILSAFAT ILMU&lt;br /&gt;KOMPONEN        : MBB&lt;br /&gt;PROGRAM         : S1&lt;br /&gt;BOBOT           : 2 SKS&lt;br /&gt;DOSEN           : Prof. Dr. Muhmidayel, M.Ag&lt;br /&gt;-------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;A. DESKRIPSI MATA KULIAH&lt;br /&gt;Mata kuliah ini memberikan diskusinya tentang berberbagai system dan pendekatan filsafat dalam mencarikan pemecahan berbagai persoalan kehidupan manusia dalam mengembangkan keilmuan baik dalam wilayah dunia fisik maupun metafisika. Diskusi-diskusi penting dalam mata kuliah ini mencakup pembahasan tentang Pengertian ilmu dan filsafat, filsafat ilmu perspektif Islam, Perkembangan Ilmu , Arah dan Fungsi Filsafat Ilmu , Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi Ilmu dengan mengkaji ragam aliran yang berkembang untuk itu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. TUJUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata kuliah ini bertujuan untuk memberikan diskusi filosofis kepada mahasiswa agar terlatih dalam berpikir logis, sistematis dan mendalam tentang masalah-masalah yang berhubungan dengan realitas hidup dalam dunia filsafat yang berbicara masalah ilmu pengetahuan dan pengembangan ilmu pengetahuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. TOPIK INTI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pengertian ilmu dan filsafat, filsafat ilmu perspektif Islam&lt;br /&gt;2. Perkembangan Ilmu &lt;br /&gt;3. Arah dan Fungsi Filsafat Ilmu &lt;br /&gt;4. Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi Ilmu&lt;br /&gt;5. Ontologi:&lt;br /&gt;a. Idealisme vs Realisme&lt;br /&gt;b. Pragmatisme&lt;br /&gt;c. Positivisme&lt;br /&gt;d. Hakekat ilmu perspektif Islam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Epistemologi:&lt;br /&gt;a. Rasionalisme vs Emperisme&lt;br /&gt;b. Kritisisme&lt;br /&gt;c. Pragmatisme&lt;br /&gt;d. Positivisme dan Positivisme Logis&lt;br /&gt;e. Fenomenologi&lt;br /&gt;f. Hermeniutika&lt;br /&gt;g. Dekonstruksionisme&lt;br /&gt;h. Nalar Islami Mohammed Arkoun&lt;br /&gt;i. Nalar Bayani, Burhani dan ’Irfani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Aksiologi&lt;br /&gt;a. Ilmu Bebas Nilai vs Terikat Nilai&lt;br /&gt;b. Tujuan dan Fungsi Ilmu dalam Persepektif Islam&lt;br /&gt;c. Strategi Pengembangan ilmu dalam Islam &lt;br /&gt;a. Integrasi Ilmu sebuah landasa filosofis&lt;br /&gt;b. Jaringan laba-laba ilmu Islam&lt;br /&gt;c. Pohon Ilmu Islam  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;D. STRATEGI PEMBELAJARAN&lt;br /&gt;1.Metode&lt;br /&gt;Metode yang digunakan dalam pembelajaran mata kuliah ini adalah metode ceramah dan diskusi/dialog yang divariasikan dengan pemberian contoh melalui model berpikir filsafat. Penekanaan penggunaan metode dengan memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada mahasiswa untuk mengembangkan pola berpikir analisis-kritis, kreatif, reflektif dan inovatif terhadap berbagai pemikiran Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Media&lt;br /&gt;Untuk  membantu pelaksanaan pembelajaran selain menggunakan media yang lazim digunakan di kelas, juga dengan menggunakan LCD.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. EVALUASI &lt;br /&gt;Evaluasi yang digunakan adalah tes lisan, tulisan, dan hasil diskusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F. REFRENSI POKOK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amril M,  Sains Islam ; Sebuah Kajian Metodologis, makalah disampaikan pada pertemuan ACIS (Annual Conference Islam Studies) di Surakarta , November 2009&lt;br /&gt;---------------, Nilainisasi Ilmu, dalam Al-fikra¸ jurnal Ilmiah dan Pemikiran Islam No. Pogram Pascasarjana UIN Suska Riau, 2008 &lt;br /&gt;Osman Bakar, Classification of Knowledge in Islam, The Islamic  Texts Society, Cambridge, 1998.&lt;br /&gt;-----------------, Hierarki Ilmu: Membangun Rangka Pikir Islamisasi Ilmu Menurut al-Farabi, al-Ghazali dan Quthb al-Din al-Syirazi, Mizan, Bandung, 1997.&lt;br /&gt;Juhaya S. Praja, Filsafat dan Metodologi Ilmu dalam Islam dan Penerapannya di Indonesia, Teraju, Jakarta, 2002.&lt;br /&gt;Jujun S. Suryasumantri, Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer, Sinar Harapan, Jakarta, 1985.&lt;br /&gt;Miska M. Amin, Epistemologi Islam, UI Press, Jakarta, 1993.&lt;br /&gt;Fazlurrahman, Filsafat Sadra, Pustaka, Bandung, 2000.&lt;br /&gt;Mehdi Golshani, Filsafat Sains menurut al-Qur`an, Mizan, Bandung, 2003.&lt;br /&gt;Noeng Muhajir, Filsafat Ilmu: Positivisme, PostPositivisme dan PostModernisme, Rake Sarasisn, Yogyakarta, 2001. &lt;br /&gt;Mehdi Hairi Yazdi, The Principle of Efistemologi in Islamic Philosophy: Knowledge by Presence, University Of New York Press, Albany, 1992.&lt;br /&gt;C.A. van Peursen, Fakta, Nilai, Peristiwa, tentang Hubungan antara Ilmu Pengetahuan dan Etika, Gramedia, Jakarta, 1990.&lt;br /&gt;IAN G. Barbour, Issues in Science and Religion, Harper &amp; Row Publishers, London, 1976.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4134222016972542877-7076222781646002323?l=muhmidayeli-perpustakaanmuhmida.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhmidayeli-perpustakaanmuhmida.blogspot.com/feeds/7076222781646002323/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muhmidayeli-perpustakaanmuhmida.blogspot.com/2010/03/sap-filsafat-ilmu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4134222016972542877/posts/default/7076222781646002323'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4134222016972542877/posts/default/7076222781646002323'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhmidayeli-perpustakaanmuhmida.blogspot.com/2010/03/sap-filsafat-ilmu.html' title='SILABUS  Filsafat ILmu'/><author><name>muhmidayeli</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08080079530456384027</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_sUDEfuQg6gw/SxYaajpzvvI/AAAAAAAAACU/jlIaHXHd_EA/S220/IMG_0122.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4134222016972542877.post-1199372057195626011</id><published>2010-02-28T08:00:00.000-08:00</published><updated>2010-10-04T00:42:34.668-07:00</updated><title type='text'>SILABUS FILSAFAT PENDIDIKAN PAI</title><content type='html'>MATA KULIAH    : FILSAFAT PENDIDIKAN &lt;br /&gt;KOMPONEN       : MATA  KULIAH  KEILMUAN  DAN KETERAMPILAN (MKK)&lt;br /&gt;FAKULTAS       : TARBIYAH DAN KEGURUAN UIN SUSKA RIAU&lt;br /&gt;JURUSAN        : PAI&lt;br /&gt;PROGRAM        : S1&lt;br /&gt;SEMESTER       : IV &lt;br /&gt;BOBOT          : 4 SKS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. DESKRIPSI MATA KULIAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata kuliah ini memberikan diskusinya tentang berbagai problem yang berkenaan dengan pendidikan melalui pendekatan filsafat praktis guna untuk mencarikan pemecahannya secara mendalam, sistematis, logis, metodis dan komprehensif, sehingga terbentuk pengetahuan ideal tentang pendidikan Islam. Oleh karena itu, diskusi-diskusi penting dalam mata kuliah ini mencakup permasalahan tentang konsepsi manusia, pendidikan dan nilai dalam konteks Islam sebagai pemahaman awal yang akan menjadi landasan bagi pemikiran system strategi dan tehnik pendidikan yang dapat ditempuh untuk mengembangkan sumber daya manusia yang tidak lain adalah inti dari aktivitas kependidikan itu sendiri. Mata kuliah ini juga memperkenalkan aliran-aliran dalam filsafat pendidikan sebagai model berpikir filsafat dalam memecahkan masalah-masalah pendidikan. Kecuali itu, karena kegiatan kependidikan dalam lembaga pendidikan bukanlah suatu badan yang berdiri sendiri, maka dalam diskusi mata kuliah ini juga dibicarakan bagaimana keterkaitan pendidikan dengan ideologi politik negara yang akan tercermin dalam peraturan-peraturan dan perundang-undangan pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. TUJUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata kuliah ini bertujuan untuk melatih mahasiswa berpikir logis, sistematis dan mendalam tentang masalah-masalah yang berhubungan dengan aktivitas pendidikan Islam, sehingga memiliki pemahaman yang tajam tentang dunia pendidikan Islam dan terlatih menggunakan tata pikir filsafat untuk melahirkan pemikiran yang kreatif, konstruktif dan inovatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. TOPIK INTI&lt;br /&gt;I. Mengenal Kawasan Filsafat&lt;br /&gt;     A. Pengertian dan Ruang Lingkup Filsafat&lt;br /&gt;     B. Sej. Perkembangan Filsafat&lt;br /&gt;     C. Pengetahuan dan Kebenaran&lt;br /&gt;     D. Sistematika Berpikir Filsafat&lt;br /&gt;     E. Logika&lt;br /&gt;        1. Pengertian&lt;br /&gt;        2. Deskripsi/ Pengungkapan&lt;br /&gt;        3. Penyimpulan dan Putusan &lt;br /&gt;     F. Filsafat dan Ilmu Pengetahuan&lt;br /&gt;II. Pengertian, Kegunaan, Pendekatan dan Ruang Lingkup Filsafat Pendidikan &lt;br /&gt;     A. Pengertian&lt;br /&gt;     B. Pendidikan dan Filsafat Pendidikan &lt;br /&gt;     C. Pendekatan-Pendekatan Studi dalam Filsafat Pendidikan &lt;br /&gt;     D. Objek, Sumber dan Ruang Lingkup Filsafat Pendidikan &lt;br /&gt;III. Manusia, Alam dan Tuhan dam Implikasinya dalam Pendidikan &lt;br /&gt;     A. Hakikat dan Kedudukan Manusia di Dunia&lt;br /&gt;     B. Eksistensi Pendidikan dalam Pengembangan Fitrah Kemanusiaan&lt;br /&gt;     C. Hubungan Manusia, Alam dan Tuhan&lt;br /&gt;     D. Hubungan Manusia, Filsafat dan Pendidikan&lt;br /&gt;IV. Epistemologi Pendidikan&lt;br /&gt;V. Pengetahuan dan Nilai dalam ragam Aliran Filsafat&lt;br /&gt;     A. Nilai dan Pendidikan&lt;br /&gt;     B. Etika dan Pendidikan&lt;br /&gt;     C. Estetika dan Pendidikan&lt;br /&gt;VI. Teori-Teori Pengembangan Sumber Daya Manusia&lt;br /&gt;     A. Teori Pengembangan SDM dalam Islam&lt;br /&gt;     B. Idealisme&lt;br /&gt;     C. Rasionalistis&lt;br /&gt;     D. Realisme&lt;br /&gt;     E. Pragmatisme-Eksprimentalisme&lt;br /&gt;     F. Eksistensialisme&lt;br /&gt;     G. Dialog Antar Aliran dan Islam &lt;br /&gt;VII. Aliran-Aliran dalam Filsafat Pendidikan&lt;br /&gt;     A. Progresivisme&lt;br /&gt;     B. Essensialisme&lt;br /&gt;     C. Perenialisme&lt;br /&gt;     E. Dialog Antar Aliran dan Pengembangan Pendidikan Islam&lt;br /&gt;  X.      Pendidikan dan Ideologi Politik Negara&lt;br /&gt;XI.  Telaah Filsafat tentang Komponen Pendidikan&lt;br /&gt;XII. Pendidikan Islam dalam Era Global&lt;br /&gt;     A. Pendidikan Multi Kultural&lt;br /&gt;     B. Pendidikan dan Pembentukan Kepribadian&lt;br /&gt;     C. Watak dan Strategi Modernisasi Pendidikan Islam&lt;br /&gt;XIII.Pemikiran Filosofis Filsuf tentang Pendidikan&lt;br /&gt;     A. Ibn Sina&lt;br /&gt;     B. al-Ghazali&lt;br /&gt;     C. Ibn Miskawaih&lt;br /&gt;     D. al-Zarnuji&lt;br /&gt;     E. M. abduh&lt;br /&gt;     F. Ibn Khaldun&lt;br /&gt;     G. M. Iqbal&lt;br /&gt;     H. Ahmad Dahlan&lt;br /&gt;     I.   Hasyim Asy’ari&lt;br /&gt;     J.  HAMKA&lt;br /&gt;     K. Isma’il Raji al-Faruqi&lt;br /&gt;     L. Fazlur Rahman&lt;br /&gt;     M. Naquib al-Attas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. STRATEGI PEMBELAJARAN&lt;br /&gt;1.Metode&lt;br /&gt;Metode yang digunakan dalam pembelajaran mata kuliah ini adalah metode ceramah dan diskusi/dialog yang divariasikan dengan pemberian contoh dan tugas melalui model berpikir filsafat. Penekanaan penggunaan metode dengan memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada mahasiswa untuk mengembangkan pola berpikir analisis-kritis, kreatif, reflektif dan inovatif terhadap berbagai problem pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Media&lt;br /&gt;Untuk  membantu pelaksanaan pembelajaran selain menggunakan media yang lazim digunakan di kelas, juga dengan menggunakan OHP.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F. EVALUASI &lt;br /&gt;Evaluasi yang digunakan adalah tes lisan, tulisan, studi kasus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;G. REFRENSI POKOK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhmidayeli., Filsafat Pendidikan Islam, Aditya Medya, Yogyakarta, 2005&lt;br /&gt;Muhmidayeli., Teori-Teori Pengembangan Sumber Daya Manusia., Program Pas casarjana UIN Suska Riau dan LSFK2P, Pekanbaru, 2007&lt;br /&gt;John S. Brubacher, Modern Philosophy of Education, Mc.Graw Hill Publishing Company, New York, 1978.&lt;br /&gt;George F. Kneller, Introduction To The Philosophy of Education, John Wiley &amp; Sons, Inc, New York, 1971. &lt;br /&gt;Zuhairini, Filsafat Pendidikan Islam,  Bumi Aksara, Jakarta, 1992.&lt;br /&gt;Al-Syaibany, Omar Muhammad al-Toumy, Falsafah Pendidikan Islam, Bulan Bintang, Jakarta, 1979. &lt;br /&gt;`Ali Khalil Abu al-`Ainain, Falsafah al-Tarbiyah  al-Islamiyah fi al-Qur’an al-Karim, Dar al-Fikr al-`Arabiy, 1980&lt;br /&gt;Abdul Rahman Shalih, Educational Theory; A Qur`anic Outlook, Ummul Qura` University, Makkah, 1982.&lt;br /&gt;Uyoh Sadullah, Pengantar Filsafat Pendidikan, Al-fabeta, Bandung, 2003.&lt;br /&gt;Imam Barnadib, Filsafat Pendidikan Sistem dan Metode, Andi Offset, Yogyakarta, 1990.&lt;br /&gt;Imam Barnadib, Ke Arah Perspektif Baru Pendidikan, Dep. Pendidikan dan Kebudayaan, Direkto0rat Perguruan Tinggi, Jakarta, 1988.&lt;br /&gt;Titus, H. Hornorld, dkk., Persoalan-Persoalan Filsafat, Terj. Rasyidi, Bulan Bintang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;REFRENSI PENUNJANG&lt;br /&gt;Sir Thomson Gudfrey, A Modern Philosophy of Education,  George Allen  Unwin, London, 1975.&lt;br /&gt;Kingsley Price, Education and Philosophical Thought&lt;br /&gt;Imam Barnadib, Filsafat Pendidikan, Sistem dan Metode, IKIP Yogyakarta, Yogyakarta, 1985.&lt;br /&gt;Muhammad Nur Syam, Filsafat Pendidikan dan Dasar Filsafat Pancasila, Usaha Nasional, Surabaya, 1986.&lt;br /&gt;Hasan bin `Ali al-Hijaziy, Manhaj Tarbiyah Ibn Qayyum, edisi terjemahan, Pustaka, Bandung, 2001.&lt;br /&gt;Zulkarnaini, Filasafat Pendidikan Islam, Bumi Aksara, Jakarta, 1991.&lt;br /&gt;Richard Pratte, Contemporary Theories of Education, Educational Publishers, Scranton, 1971.&lt;br /&gt;Sayyed Husein Nasr, Tradisional Islam in The Modern World, Terj. Lukman Hakim, Pustaka, Bandung.&lt;br /&gt;………. Knowledge and The Sacred, Terj. Suharsono, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1997. &lt;br /&gt;Jalaluddin dan Abdullah Idi, Filsafat Pendidikan, Gaya Media Pratama, Jakarta, 1997.&lt;br /&gt;Mortimer J. Adler, The Conflict in Education.&lt;br /&gt;----------, The Crisis in Contemporary Education. &lt;br /&gt;B.Hamdani Ali, Filsafat Pendidikan,, Kota Kembang, Yogyakarta, 1993.&lt;br /&gt;Arthur K. Ellis dkk., Introduction To The Foundations of Education, Prentice Hall, New Jersey, 1986.&lt;br /&gt;Joe Park, Selected Reading in the Philosophy of Education, Mac Millan Publishing, Co. Inc., New York, 1974.&lt;br /&gt;Theodore Bramel, Philophies of Education in Cultural Perspektive, HO. It Renehart and Wiston, 1955.&lt;br /&gt;Jamaludin dkk., Filsafat Pendidikan, Gaya Media Pratama, Jakarta, 1997.&lt;br /&gt;Muhammad Iqbal, Asrar I Khudi, Terj. Bahrum Rangkuti, Bulan Bintang, Jakarta, t.t.&lt;br /&gt;Muhammad Iqbal, The Reconstruction of Religious Thought in Islam, Terj. Ali Audah dkk., Tinta Mas, Jakarta, 1966.&lt;br /&gt;John Dewey, Budaya dan Kebebasan, Terj. A.Rahman Zainuddin, Yayasan Obor Indonesia, 1998.&lt;br /&gt;Steven M. Chan (ed), New Studies in The Philosophy of John Dewey, The University Press of New England, New Hamesphire, 1977.&lt;br /&gt;Sidney Hook, Sosok Filsuf Humanis Demokrat dalam Tradisi Pragmatisme, Terj. I. Gatot dan Avi Mahaningtyas, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 1994.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4134222016972542877-1199372057195626011?l=muhmidayeli-perpustakaanmuhmida.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhmidayeli-perpustakaanmuhmida.blogspot.com/feeds/1199372057195626011/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muhmidayeli-perpustakaanmuhmida.blogspot.com/2010/02/mata-kuliah-filsafat-pendidikan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4134222016972542877/posts/default/1199372057195626011'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4134222016972542877/posts/default/1199372057195626011'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhmidayeli-perpustakaanmuhmida.blogspot.com/2010/02/mata-kuliah-filsafat-pendidikan.html' title='SILABUS FILSAFAT PENDIDIKAN PAI'/><author><name>muhmidayeli</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08080079530456384027</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_sUDEfuQg6gw/SxYaajpzvvI/AAAAAAAAACU/jlIaHXHd_EA/S220/IMG_0122.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4134222016972542877.post-8044375623931718979</id><published>2009-12-20T23:59:00.000-08:00</published><updated>2010-10-04T00:46:45.524-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Silabus'/><title type='text'>SILABUS Filsafat Pendidikan Islam</title><content type='html'>MATA KULIAH : FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM&lt;br /&gt;KOMPONEN      : MATA  KULIAH  KEILMUAN  DAN KETERAMPILAN (MKK)&lt;br /&gt;FAKULTAS        : TARBIYAH&lt;br /&gt;JURUSAN           : Pendidikan Kimia&lt;br /&gt;PROGRAM          : S1&lt;br /&gt;SEMESTER         : IV &lt;br /&gt;BOBOT                : 2 SKS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. DESKRIPSI MATA KULIAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata kuliah ini memberikan diskusinya tentang berbagai problem yang berkenaan dengan pendidikan Islam melalui pendekatan filsafat praktis guna untuk mencarikan pemecahannya secara mendalam, sistematis, logis, metodis dan komprehensif, sehingga terbentuk pengetahuan ideal tentang pendidikan Islam. Oleh karena itu, diskusi-diskusi penting dalam mata kuliah ini mencakup permasalahan tentang konsepsi manusia, pendidikan dan nilai dalam konteks Islam sebagai pemahaman awal yang akan menjadi landasan bagi pemikiran system stategi dan tehnik pendidikan yang dapat ditempuh untuk mengembangkan sumber daya manusia yang tidak lain adalah inti dari aktivitas kependidikan itu sendiri. Mata kuliah ini juga memperkenalkan aliran-aliran dalam filsafat pendidikan sebagai model berpikir filsafat dalam memecahkan masalah-masalah pendidikan. Kecuali itu, karena kegiatan kependidikan dalam lembaga pendidikan bukanlah suatu badan yang berdiri sendiri, maka dalam diskusi mata kuliah ini juga dibicarakan bagaimana keterkaitan pendidikan dengan ideology politik negara yang akan tercermin dalam peraturan-peraturan dan perundang-undangan pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. TUJUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata kuliah ini bertujuan untuk melatih mahasiswa berpikir logis, sistematis dan mendalam tentang masalah-masalah yang berhubungan dengan aktivitas pendidikan Islam, sehingga memiliki pemahaman yang tajam tentang dunia pendidikan Islam dan terlatih menggunakan tata pikir filsafat untuk melahirkan pemikiran yang kreatif, konstruktif dan inovatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. TOPIK INTI&lt;br /&gt;1. Mengenal Kawasan Filsafat Pendidikan Islam&lt;br /&gt;2. Epistemologi Pendidikan Islam&lt;br /&gt;3. Nilai dan Pendidikan Islam&lt;br /&gt;a. Hakikat Nilai dalam Islam&lt;br /&gt;b. Etika dan Pendidikan&lt;br /&gt;c. Estetika dan Pendidikan&lt;br /&gt;4. Teori-Teori Pengembangan Sumber Daya Manusia&lt;br /&gt;a. Idealisme-Rasionalistis&lt;br /&gt;b. Realisme&lt;br /&gt;c. Pragmatisme-Eksprimentalisme&lt;br /&gt;d. Eksistensialisme&lt;br /&gt;e. Islam&lt;br /&gt;5. Aliran-Aliran dalam Filsafat Pendidikan&lt;br /&gt;a. Progresivisme&lt;br /&gt;b. Essensialisme&lt;br /&gt;c. Perenialisme&lt;br /&gt;d. Rekonstrusionisme&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. STRATEGI PEMBELAJARAN&lt;br /&gt;1.Metode&lt;br /&gt;Metode yang digunakan dalam pembelajaran mata kuliah ini adalah metode ceramah dan diskusi/dialog yang divariasikan dengan pemberian contoh dan tugas melalui model berpikir filsafat. Penekanaan penggunaan metode dengan memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada mahasiswa untuk mengembangkan pola berpikir analisis-kritis, kreatif, reflektif dan inovatif terhadap berbagai problem pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Media&lt;br /&gt;Untuk  membantu pelaksanaan pembelajaran selain menggunakan media yang lazim digunakan di kelas, juga dengan menggunakan OHP.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F. EVALUASI &lt;br /&gt;Evaluasi yang digunakan adalah tes lisan, tulisan, studi kasus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;G. REFRENSI POKOK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhmidayeli., Filsafat Pendidikan Islam, Aditya Medya, Yogyakarta, 2005&lt;br /&gt;Muhmidayeli., Teori-Teori Pengembangan Sumber Daya Manusia., Program Pas casarjana UIN Suska Riau dan LSFK2P, Pekanbaru, 2007&lt;br /&gt;John S. Brubacher, Modern Philosophy of Education, Mc.Graw Hill Publishing Company, New York, 1978.&lt;br /&gt;George F. Kneller, Introduction To The Philosophy of Education, John Wiley &amp; Sons, Inc, New York, 1971. &lt;br /&gt;Zuhairini, Filsafat Pendidikan Islam,  Bumi Aksara, Jakarta, 1992.&lt;br /&gt;Al-Syaibany, Omar Muhammad al-Toumy, Falsafah Pendidikan Islam, Bulan Bintang, Jakarta, 1979. &lt;br /&gt;`Ali Khalil Abu al-`Ainain, Falsafah al-Tarbiyah  al-Islamiyah fi al-Qur’an al-Karim, Dar al-Fikr al-`Arabiy, 1980&lt;br /&gt;Abdul Rahman Shalih, Educational Theory; A Qur`anic Outlook, Ummul Qura` University, Makkah, 1982.&lt;br /&gt;Uyoh Sadullah, Pengantar Filsafat Pendidikan, Al-fabeta, Bandung, 2003.&lt;br /&gt;Imam Barnadib, Filsafat Pendidikan Sistem dan Metode, Andi Offset, Yogyakarta, 1990.&lt;br /&gt;Imam Barnadib, Ke Arah Perspektif Baru Pendidikan, Dep. Pendidikan dan Kebudayaan, Direkto0rat Perguruan Tinggi, Jakarta, 1988.&lt;br /&gt;Titus, H. Hornorld, dkk., Persoalan-Persoalan Filsafat, Terj. Rasyidi, Bulan Bintang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;REFRENSI PENUNJANG&lt;br /&gt;Muhmidayeli, Pemikiran Etika Ibn Miskawaih dan J.J. Rousseau,&lt;br /&gt;Sir Thomson Gudfrey, A Modern Philosophy of Education,  George Allen  Unwin, London, 1975.&lt;br /&gt;Kingsley Price, Education and Philosophical Thought&lt;br /&gt;Imam Barnadib, Filsafat Pendidikan, Sistem dan Metode, IKIP Yogyakarta, Yogyakarta, 1985.&lt;br /&gt;Muhammad Nur Syam, Filsafat Pendidikan dan Dasar Filsafat Pancasila, Usaha Nasional, Surabaya, 1986.&lt;br /&gt;Hasan bin `Ali al-Hijaziy, Manhaj Tarbiyah Ibn Qayyum, edisi terjemahan, Pustaka, Bandung, 2001.&lt;br /&gt;Zulkarnaini, Filasafat Pendidikan Islam, Bumi Aksara, Jakarta, 1991.&lt;br /&gt;Richard Pratte, Contemporary Theories of Education, Educational Publishers, Scranton, 1971.&lt;br /&gt;Sayyed Husein Nasr, Tradisional Islam in The Modern World, Terj. Lukman Hakim, Pustaka, Bandung.&lt;br /&gt;………. Knowledge and The Sacred, Terj. Suharsono, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1997. &lt;br /&gt;Jalaluddin dan Abdullah Idi, Filsafat Pendidikan, Gaya Media Pratama, Jakarta, 1997.&lt;br /&gt;Mortimer J. Adler, The Conflict in Education.&lt;br /&gt;----------, The Crisis in Contemporary Education. &lt;br /&gt;B.Hamdani Ali, Filsafat Pendidikan,, Kota Kembang, Yogyakarta, 1993.&lt;br /&gt;Arthur K. Ellis dkk., Introduction To The Foundations of Education, Prentice Hall, New Jersey, 1986.&lt;br /&gt;Joe Park, Selected Reading in the Philosophy of Education, Mac Millan Publishing, Co. Inc., New York, 1974.&lt;br /&gt;Theodore Bramel, Philophies of Education in Cultural Perspektive, HO. It Renehart and Wiston, 1955.&lt;br /&gt;Jamaludin dkk., Filsafat Pendidikan, Gaya Media Pratama, Jakarta, 1997.&lt;br /&gt;Muhammad Iqbal, Asrar I Khudi, Terj. Bahrum Rangkuti, Bulan Bintang, Jakarta, t.t.&lt;br /&gt;Muhammad Iqbal, The Reconstruction of Religious Thought in Islam, Terj. Ali Audah dkk., Tinta Mas, Jakarta, 1966.&lt;br /&gt;John Dewey, Budaya dan Kebebasan, Terj. A.Rahman Zainuddin, Yayasan Obor Indonesia, 1998.&lt;br /&gt;Steven M. Chan (ed), New Studies in The Philosophy of John Dewey, The University Press of New England, New Hamesphire, 1977.&lt;br /&gt;Sidney Hook, Sosok Filsuf Humanis Demokrat dalam Tradisi Pragmatisme, Terj. I. Gatot dan Avi Mahaningtyas, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 1994.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4134222016972542877-8044375623931718979?l=muhmidayeli-perpustakaanmuhmida.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhmidayeli-perpustakaanmuhmida.blogspot.com/feeds/8044375623931718979/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muhmidayeli-perpustakaanmuhmida.blogspot.com/2009/12/sap-filsafat-pendidikan-islam.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4134222016972542877/posts/default/8044375623931718979'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4134222016972542877/posts/default/8044375623931718979'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhmidayeli-perpustakaanmuhmida.blogspot.com/2009/12/sap-filsafat-pendidikan-islam.html' title='SILABUS Filsafat Pendidikan Islam'/><author><name>muhmidayeli</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08080079530456384027</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_sUDEfuQg6gw/SxYaajpzvvI/AAAAAAAAACU/jlIaHXHd_EA/S220/IMG_0122.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4134222016972542877.post-2545955253000920954</id><published>2009-12-09T20:38:00.000-08:00</published><updated>2010-10-04T01:00:50.033-07:00</updated><title type='text'>Pendidikan Islam era Global</title><content type='html'>PENDIDIKAN ISLAM DI DUNIA GLOBAL; SEBUAH TELAAH EPISTEMIK TERHADAP MORALITAS KEPENDIDIKAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Muhmidayeli*&lt;br /&gt;E-mail: muhmidayeli@yahoo.co.id &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abstrak&lt;br /&gt;Pendidikan Islam sebagai wadah perubahan dan kebaikan dapat dikatakan sebagai sarana rekayasa individual dan sosial ke arah pembangunan kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, maka penyesuaian misi pendidikan dengan kebutuhan  masyarakat merupakan suatu kemestian. Era globalisasi yang berdampak pada benturan budaya dan agama tentu mesti direspon dengan gerak upaya pendidikan sehingga pendidikan benar-benar dapat menjadi wadah rekayasa dan perubahan sosial kemasyarakatan sesuai dengan ruh Islam itu sendiri..&lt;br /&gt;Iman sebagai implementasi praktis dari jiwa ketauhidan dalam Islam meniscayakan adanya rencana aksi kependidikan yang tidak hanya bergerak pada upaya metodologis-aplikatif akan pentransferan berbagai ilmu pengetahuan dan pembentukan skill an sich, tetapi juga pada upaya pentransferan nilai-nilai moral ke-Ilahi-an yang bersumber dari al-Qur’an dan sunah Nabi Muhamad SAW. &lt;br /&gt;Moralitas kependidikan Islam yang berdimensikan nilai-nilai ke-Ilahi-an sebagai wujud dari jiwa ketauhidan ini, secara kategoris akan menjelmakan manusia-manusia yang kuat dalam iman, ilmu dan amal sebagai lambang jiwa produktivitas manusia yang dapat menopang dinamika kehidupan alam global. Moralitas kependidikan Islam ini mesti ditata dalam konteks pembentukan kepribadian yang cerdas, tangkas dan penuh dedikasi mencari kebenaran Islami agar semangat pengembangan intelektual terarah untuk menjadikan dirinya sebagai insan muttaqin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Kunci&lt;br /&gt;Pendidikan Islam, globalisasi, epistemologi pendidikan, moralitas pendidikkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Pendahuluan&lt;br /&gt;Firman Allah SWT dalam al-Qur`an surah al-Nahl ayat 78 memberi petunjuk pentingnya proses panjang untuk mengisi kemanusiaan. Ayat di atas memberikan pemahaman bahwa manusia tidak akan dapat menjadi manusia utuh yang memiliki ilmu pengetahuan yang berguna bagi kemudahan kehidupannya, jika ia belum mampu memaksimalkan fungsi instrumen-instrumen jasmani dan ruhaninya. Hanya dengan cara demikian seseorang menjadi lebih baik dan memiliki nilai-nilai kemanusiaan sebagai lambang bagi dirinya. Hal yang sedemikian itu memerlukan pengkondisian yang terarah dan tertata rapi, sehingga dua potensi manusia itu dapat berkembang dan terbina untuk melahirkan berbagai pengetahuan yang akan membentuk pemikirannya yang selanjutnya menjadi sikap diri yang menunjuk pada jati diri manusia itu sendiri. Upaya pengaturan kondisi inilah yang menjadi karakter utama pendidikan Islam. &lt;br /&gt;Untuk membangun pendidikan Islam seperti ini menjadikan pengupayaaan pembinaan kesadaran subjek-subjek didik ini dapat dilakukan melalui pendekatan rasional, yaitu suatu pendekatan moral melalui pendidikan dan pembinaan pada pembuatan putusan moral melalui pertimbangan-pertimbangan rasional. Hal ini sangat penting, terutama mengingat kesadaran manusia atas sesuatu selalu berhubungan dengan dapat tidaknya rasio mereka mencerna dan menerima sebuah ajaran sebagai sebuah keyakinan ontologis yang mesti diaktualisasikan dalam tindakan senyatanya.&lt;br /&gt;Era globalisasi yang sarat dengan dinamika kehidupan yang begitu cepat secara langsung atau tidak akan mempengaruhi model berpikir dan cara orang dalam mengambil sikap hidup. Hal yang paling terdepan dapat membentuk pola itu, adalah peran dan pola pendidikan yang berlangsung. Pendidikan Islam dengan jiwa pembangunan humanitas yang ditawarkan pada hakikatnya akan mampu menjadikan kepribadian yang kokoh dan tangguh dalam membuat keputusan humanitas. Hal ini tidak saja pola dan corak yang dibangun atas nilai moral sebagai bagian utama kemanusian, tetapi juga pemahaman moralitas sebagai ekspresi nilai-nilai ketauhidan yang tampil dalam wujud prilaku paripuna kemanusiaan. Jika ini ditata dan dikembangkan dalam konteks kekinian, maka pendidikan Islam akan menjadi tumpuan harapan penyelamatan jiwa kemanusiaan yang mungkin kosong akibat kebingungan dan kehampaan nilai yang muncul akibat gaya hidup yang ditawarkan dalam konteks gl;obalisasi saat ini.&lt;br /&gt;Tulisan ini mencoba menelaah secara epistemik moralitas kependidikan Islam guna menjawab kebutuhan masyarakat global yang cenderung mengabaikan persoalan yang bernuansakan etis, baik yang esoterik.maupun yang eksoterik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Pendidikan Islam sebagai Rekayasa Masyarakat Moralis &lt;br /&gt;Esensi pendidikan dalam usaha persekolahan tidak lain adalah pengupayaan perubahan ke arah yang lebih “baik”, sehingga jika tanpa ada perubahan dan kebaikan yang mengarah pada pengembangan, menurut tujuan–tujuan yang telah ditetapkan, sama artinya proses kependidikan yang berlangsung tanpa makna dan nilai. Esensinya yang sedemikian, meniscayakan pendidikan berorientasi pada masa depan, bukan masa sekarang, dan atau hanya sekedar pelestarian nilai-nilai semata. &lt;br /&gt;Sebagai wadah perubahan dan kebaikan yang bermuatan pengembangan tentunya pendidikan persekolahan dapat dikatakan sebagai sarana rekayasa individual dan sosial, pengembangan kemanusian  ke arah pembangunan kehidupan masyarakat yang lebih baik yang menjadi lambang bagi entitasnya. Oleh karena itu, maka penyesuaian misi pendidikan Islam dengan kebutuhan masyarakat yang terlibat di dalam aktivitasnya merupakan suatu kemestian. Tanpa itu, maka apa yang dilakukan dunia pendidikan tidak akan dapat menjawab persoalan-persoalan masyarakat itu sendiri dan ini berarti upaya pendidikan menjadi sia-sia dan atau tanpa makna, yang pada gilirannya akan dapat menghilangkan fungsi utama sekolah seperti diungkap di atas. Di sinilah letak pentingnya sekolah mesti mengikutkan misi pengembangan dan pembangunan masyarakat, sehingga sekolah mesti benar-benar dapat menjadi wadah rekayasa dan perubahan sosial kemasyarakatan.&lt;br /&gt;Dikatakan sebagai agen rekayasa dan perubahan sosial masyarakat, karena di sekolah terjadi suatu proses yang mana seseorang menginternalisasikan norma dan nilai yang memiliki korelasi dengan kehidupan masa depan. Proses internalisasi ini berlanjut dalam nilai dan perilaku, baik di tengah-tengah keluarga maupun dalam pergaulan. Yang  paling penting di sini adalah bahwa sekolah dianggap sebagai area yang paling utama dalam proses rekayasa dan perubahan dari pada lembaga keluarga dan lingkungan. Jadi, sekolah merupakan instrumen yang paling penting dan efektif untuk percepatan pembangunan dan pengembangan suatu masyarakat. Yang  lebih penting lagi adalah bahwa sistem sekolah hanya mampu menghasilkan tujuan ideal jika misi sekolah berkorelasi dengan kebijakan pemerintah yang akan menggiring masyarakat pada akselerasi pembangunan dan pengembangan masyarakat. Oleh karena itu, pendidikan persekolahan sebagai lembaga pembinaan dan penanaman nilai-nilai humanitas mesti memiliki korelasi yang positif dengan proses modernisasi dan transformasi dalam kehidupan sosial masyarakat. Pendidikan merupakan sarana penting yang sangat diperlukan dalam proses perubahan sistem sosial, ekonomi dan politik. &lt;br /&gt;Kemestian untuk mengikutkan pendidikan dalam program modernisasi, karena memang baik dalam aspek ontologis, epistemologis dan aksiologis, pendidikan me-miliki kaitan yang signifikan dengan kualitas suatu masyarakat. Kesadaran akan eksistensi pendidikan seperti ini-lah, maka para pakar pendidikan selalu mengadakan pembaharuan-pembaharuan di bidang pendidikan agar segala aktivitas yang dilakukan di dalamnya benar-benar dapat menjawab personalan-persoalan yang berkembang di tengah-tengah masyarakat.  &lt;br /&gt;Jadi dapat dikatakan, bahwa lembaga pendidikan merupakan hal yang strategis untuk pengembangan suatu masyarakat ke arah yang lebih baik, sehingga tidak-lah berlebihan jika dikatakan bahwa kemajuan moderni-tas suatu bangsa dan negara ditentukan oleh kualitas pendidikan. Karena posisinya yang centre of excellence dalam membangun peradaban suatu masyarakat, maka adalah suatu kemestian untuk menjadikan lembaga pendidikan sebagai lembaga rekayasa masyarakat ke arah yang lebih baik. &lt;br /&gt;Sekalipun sekolah sebagai lembaga rekayasa dan perubahan masyarakat, ternyata harapan tersebut belum memuaskan, boleh jadi hal ini lebih dikarenakan sekolah kurang lagi  mampu menjalankan fungsionalitas internalisasi nilai-nilai kepada anak didiknya. Hal ini dikarenakan sekolah dalam konteks ini lebih terseret pada pengembangan kognisi dari pada pengembangan kreativitas yang akan dapat menjawab kebutuhan masyarakat yang bernilai etis. &lt;br /&gt;Diakui memang bahwa peranan pendidikan perse-kolahan seperti ini agak sedikit membawa ketegangan akan fungsi institusi sosial ini sebagai  promotor perubahan social dan sebagai sarana bagi terciptanya  struktur sosial. Namun bila dilakukan dengan tetap berpedoman pada kesepakatan nasional yang telah terujud dalam suatu bentuk perundang-undangan, maka dua fungsi pendidikan dan sekolah seperti diutarakan di atas justru semakin mempermudah fungsionalisasi  institusi sosial ini. Kesulitan dan ketegangan akan tumbuh subur manakala pendidikan persekolahan terjebak dalam kepentingan kelompok dan sikap promordialistik.&lt;br /&gt;Sebagai ujung tombak bangunan peradaban manusia, pendidikan sekolah selalu berhadapan dengan kebutuhan-kebutuhan pembangunan manusia dalam berbagai aspeknya. Pembangunan kualitas sumber daya manusia banyak bertumpu pada kualitas pendidikan sekolah. Persoalannya adalah bahwa dalam penyelenggaraannya tidaklah berdiri sendiri, karena ada banyak varian yang bergelayut di atasnya, baik dari subjek, maupun dari varian lain yang berada di luar dirinya. Pengendalian kesemuanya tergantung pada keikutsertaan semua pihak dalam jalinan kerjasama yang harmonis dalam menata dan membangun pendidikan persekolahan yang benar-benar dapat memenuhi kebutuhan percepatan perubahan dan perbaikan masyarakat ke arah yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Moralitas sebagai Penyangga Utama Pembangunan Masyarakat Global&lt;br /&gt;Moralitas adalah lambang humanitas tertinggi, karena memang ia diciptakan untuk itu. Oleh karena itu, potensi psikis berupa akal, kemauan dan perasaan agar ia mampu berkreativitas dan berimajinasi dalam kehidupannya mesti senantiasa diarahkan pada nilai-nilai moralitas yang tinggi. Kondisi fitrah manusia sedemikian ini memerlukan pemeliharaan dan pengembangan melalui penyiapan berbagai perangkat pendukung bagi lahirnya perilaku moral potensial menjadi perilaku moral aktual.  &lt;br /&gt;Firman Allah SWT dalam al-Qur`an surah al-Nahl ayat 78  memberi petunjuk betapa pentingnya proses panjang untuk mengisi kemanusiaan. Ayat ini memberikan pemahaman bahwa manusia tidak akan dapat menjadi manusia yang utuh memiliki ilmu pengetahuan yang berguna bagi kemudahan kehidupannya, jika ia belum mampu memaksimalkan fungsi instrumen-instrumen jasmani dan ruhaninya. Hanya dengan cara demikian seseorang menjadi lebih baik dan memiliki nilai-nilai kemanusiaan sebagai lambang bagi dirinya.  Hal seperti ini memerlukan pengkondisian yang terarah dan tertata rapi, sehingga dua potensi manusia itu dapat berkembang dan terbina untuk melahirkan berbagai pengetahuan yang akan membentuk pemikirannya, selanjutnya menjadi sikap diri yang menunjuk pada jati diri manusia itu sendiri. Upaya pengaturan kondisi inilah yang disebut dengan pendidikan. &lt;br /&gt;Pendidikan dalam hal ini dapat dilihat sebagai pengupayaan manusia sejatinya, disengaja, terarah dan tertata sedemikian rupa menuju pembentukan manusia-manusia yang ideal bagi kehidupannya, atau dengan kata lain, pendidikan tidak lain adalah segala pengupayaan yang dilakukan secara sadar dan terarah untuk menjadikan manusia sebagai manusia yang baik dan ideal. &lt;br /&gt;Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pendidikan merupakan penyediaan kondisi yang baik untuk menjadikan perilaku-perilaku potensial yang dianugerahkan kepada manusia tidak lagi sebatas kecenderung-an manusiawi an sich, tetapi benar-benar aktual dalam realita kehidupannya. Jika demikian, pendidikan adalah suatu kemestian bagi pemanusiaan manusia &lt;br /&gt;Sedemikian berartinya pendidikan bagi pemanusiaan manusia, maka sudah semestinya pendidikan ditata dan dipersiapkan sebaik-baiknya sehingga cita-cita  “pemanusiaan” dapat diwujudkan sejatinya. Perbaikan-perbaikan dalam kehidupan  sebagai bukti nyata adanya aktivitas pendidikan akan hanya merupakan sebutan saja jika pengupayaannya tidak ditaja dengan terencana, sistematis dan terpadu.&lt;br /&gt;Mengingat esensi kemanusiaan sepenuhnya berada pada yang ruhaniah, maka pengembangan kemanusiaan semestinya pulalah diarahkan pada pengembangan ruhaniah manusia yang sarat dengan moralitas. Pengembangan manusia dalam konteks jasmaniah dan material semata-mata untuk mendukung kemanusiaan yang sesungguhnya lebih berdimensikan ruhaniah. &lt;br /&gt;Pendidikan adalah tugas bersama manusia dalam merealisasikan misi kemanusiaan. Oleh karena itu pendidikan mesti diatur berdasarkan hubungan intersubjektif dan interrelasional, sehingga semua komponen benar-benar berjalan secara fungsional struktural dalam kerangka yang jelas dan terarah pada peraihan tujuan-tujuan yang diinginkan. Pendeknya pendidikan adalah usaha sadar bersama yang secara fungsional struktural melaksanakan tugas-tugasnya menuju terciptanya manusia-manusia ideal, yakni manusia yang memiliki kepribadian moralis, baik fungsinya sebagai mu`abbid, khalifah fi al-ardh dan `immarah fi al-ardh.&lt;br /&gt;Mengingat Islam memandang bahwa tujuan kemanusiaan sarat nilai dan moral seperti diuraikan pada bagian sebelumnya, maka menfungsikan sekolah sebagai usaha aplikatif-kolektif untuk mewujudkan penumbuh-kembangan  perilaku moral subjek didik hendaklah menjadi orientasi bagi setiap aktivitas kependidikannya. Jack R. Fraenkel dalam hal ini menyebutkan, bahwa pendidikan moral mesti berlangsung pada setiap waktu di sekolah, tidak saja dalam kurikulum, tetapi juga dalam interaksi keseharian di sekolah, baik antara siswa dengan guru maupun dengan staf sekolah.  &lt;br /&gt;Kendatipun dalam sejarah lahirnya pendidikan sekolah tidak lain adalah dalam rangka penumbuhkembangan perilaku moral, namun di era sekarang semangatnya kurang terasa atau bahkan ditinggalkan. &lt;br /&gt;Robert L Ebel Mengungkapkan, bahwa beberapa penyebab ketepinggiran perhatian pendidikan sekolah terhadap penumbuhkembangan perilaku moral subjek didiknya diantaranya:&lt;br /&gt;1. bahwa dalam masyarakat telah terjadi penekanan yang amat kuat terhadap  kebebasan  individu dari pada tanggung jawab personal, &lt;br /&gt;2. lebih mementingkan hak-hak sipil dari pada kewajiban sipil  &lt;br /&gt;3. adanya semacam kecenderungan dalam masyarakat yang melihat perubahan dan inovasi sebagai sesuatu yang lebih baik dari tradisi dan stabilitas di dalam kehidupan.  &lt;br /&gt;Merujuk firman Allah SWT dalam surah Ali Imran ayat 110; “Kamu adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah SWT.’, maka ada empat konsep penting yang dicakup di dalamnya, yaitu konsep tentang umat yang baik; aktivitas sejarah; pentingnya kesadaran; dan etika profetik.  Umat dapat dikatakan sebagai umat terbaik, jika memenuhi syarat mengerjakan tiga hal yang diungkap dalam ayat, yaitu amar ma`ruf, nahi munkar dan beriman kepada Allah SWT. Dalam hal aktivitas sejarah dapat dipahami bahwa manusia bekerja di tengah-tengah ma-nusia dalam membuat sejarah. Nilai-nilai ilahiyah (amar ma`ruf, nahi munkar dan iman) menjadi tumpuan bagi aktivitas manusia dalam membentuk sejarahnya, sehingga dapat dipahami bahwa kesadaran dalam konteks Islam selalu berorientasi pada kesadaran ilahiyah yang berbeda dengan kesadaran dalam konteks lainnya. Sedemikian rupa, sehingga dapat dikatakan bahwa manusia Muslim dalam melakukan setiap aktivitas kemanusiaannya akan selalu melandasinya dengan orientasi ke-Ilahi-an. Dalam konteks inilah maka banyak filsuf Muslim yang menyebutkan bahwa moralitas manusia pada dasarnya adalah perefleksian sifat-sifat Tuhan ke dalam diri manusia yang menjadikannya sebagai bagian yang tidak terlepaskan dari dirinya.   &lt;br /&gt;Dalam konteks Islam, iman sebagai realisasi ketauhidan manusia memiliki implikasi dan konsekuensi terhadap penegakan nilai-nilai moral yang tinggi dan mulia. Penumbuhkembangan perilaku moral manusia selalu berkenaan dengan sejauh mana ia menyadari, bahwa perilaku itu harus ia lakukan. Kesadaran dalam hal ini adalah bukti nyata dari sebuah keyakinan mendalam seseorang atas sesuatu yang dalam bahasa agama disebut dengan iman. Manusia yang menyadari bahwa dirinya, alam jagad raya  dan Tuhannya merupakan tiga bagian yang tidak dapat dilupakan begitu saja dalam segala aktivitas kehidupannya, akan selalu mengorientasikan diri dan perilakunya pada keinginan  Tuhannya, yakni dengan menjalankan secara ikhlas segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya. Dengan demikian terlihat, bahwa manusia tauhid akan selalu mengorientasikan tindakan-tindakannya baik bagi dirinya, masyarakat maupun alam jagad raya, pada pendekatan diri dengan Penciptanya. Dalam konteks inilah, dapat dikatakan, bahwa manusia tauhid tidak akan pernah melupakan fungsi eksistensialitas dirinya sebagai mu`abbid, khalifah Allah SWT fi al-ardh dan `immarah fi al-ardh seperti telah diungkap sebelumnya. &lt;br /&gt;Mengingat tauhid merupakan dasar bagi pemunculan sikap tanpa pamrih sebagai identitas yang menunjuk pada moralitas, maka pengupayaan moralitas mestilah pula diawali dengan penanaman nilai-nilai ketauhidan ini. Hanya dengan cara demikian, maka  perilaku moral yang diinginkan oleh Allah SWT sebagai "personal" yang diwakili dapat ditumbuhkembangkan dengan baik. &lt;br /&gt;Manusia tauhid,  tidak akan pernah memiliki keinginan apalagi melakukan segala sesuatu yang berseberangan dengan keyakinan tauhid yang ia miliki. Dalam pengertian lain dapat diungkapkan, bahwa manusia tauhid adalah manusia yang dalam segala aktivitasnya selalu menampilkan perilaku moral yang didasari pada nilai-nilai ke-Illahi-an. Allah SWT, tidak hanya sebagai orientasi kehidupanya, tetapi juga sebagai "personal" yang diwakilinya di dunia ini, segala tindakannya selalu hendak mengaplikasikan sifat-sifat Tuhan ke dalam dirinya.&lt;br /&gt;Kecuali hal di atas, manusia tauhid pun selalu menginginkan sesuatu yang benar dan senantiasa menegakkan kebenaran,  karena memang tidak akan ada suatu keyakinan ketauhidan tanpa kebenaran. Oleh karena itu pula manusia tauhid adalah manusia-manusia yang bertanggungjawab atas setiap apa yang diucapkan dan yang dilakukannya. Sedemikian rupa sehingga setiap perilakunya selalu disandarkan kepada nama Tuhannya yang Tinggi, karena memang ilmu yang ia peroleh bersifat relatif , tidak seperti ilmu Tuhannya yang mutlak.&lt;br /&gt;Implementasi praktis dalam aktivitas kependidikan, tentunya tidak hanya bergerak pada upaya metodologis-aplikatif akan pentransferan berbagai ilmu pengetahuan dan pembentukan skill an sich yang hakekatnya akan selalu berubah dan berkembang, tetapi juga pada upaya pentransferan  nilai-nilai moral ke-Ilahi-an yang bersumber dari al-Qur’an dan sunah Nabi Muhamad SAW. Dalam konteks inilah dikatakan bahwa pendidik-an Islam secara kategoris, tidak dapat dilepaskan dari dimensi ke-Ilahi-an sebagai wujud dari ketauhidannya. Apa  pun yang dilakukan Islam termasuk persoalan moral mesti selalu terkait dengan Allah SWT. &lt;br /&gt;Mengingat  seluruh tingkah laku manusia yang baik ataupun yang buruk yang dilakukan berdasarkan hasil pilihan bebas manusia itu sendiri selalu berkenaan dengan rasionalitas manusia itu sendiri, sedangkan rasionalitas itu selalu bersentuhan dengan kesadaran imani seseorang seperti diuraikan di atas, maka berarti di sini kesadaran merupakan starting point bagi realisasi moral manusia. Ketika ia memutuskan bahwa suatu perbuatan itu baik dan berguna bagi dirinya, maka ia pun akan memilihnya sebagai suatu perilaku yang mesti dilakukan.  &lt;br /&gt;Karena  memang kesadaran adalah kata kunci bagi perealisasian moral dalam setiap gerak kehidupan manusia, seperti disinggung di atas, maka implikasinya dalam proses pendidikan Islam adalah bahwa setiap upaya yang dilakukan mestilah didasari pada kesadaran pendidik untuk menumbuhkan kesadaran moral pada anak didiknya agar dengan suka rela dan tanpa paksaan selalu mengarahkan perilakunya pada dimensi moral dan senantiasa atas dasar nilai moral. &lt;br /&gt;Berdasarkan tesis ini pulalah, maka pendidikan  Islam yang diarahkan pada pengupayaaan pembinaan kesadaran anak didik ini dapat dilakukan melalui pendekatan rasional, yaitu suatu pendekatan moral melalui pendidikan dan pembinaan pada pembuatan putusan moral melalui pertimbangan-pertimbangan rasional. Hal ini sangat penting, terutama mengingat kesadaran manusia atas sesuatu selalu berhubungan dengan dapat tidaknya rasio mereka mencerna dan menerima sebuah ajaran sebagai sebuah keyakinan ontologis yang mesti diaktualisasikan dalam tindakan nyata.&lt;br /&gt;Pendidikan Islam yang diorientasikan pada nilai-nilai moral dan agama merupakan suatu kebutuhan dan memiliki urgensi bagi penumbuhkembangan perilaku moral senyatanya pada anak didik. Membangkitkan nilai-nilai moral sebagai motivasi dalam segala aktivitas pendidikan dalam hal ini adalah suatu kemestian. Hal ini tidak saja mengingat bahwa upaya pendidikan selalu mengarah pada perbaikan dan perubahan, tetapi lebih dari itu adalah bahwa pendidikan bersentuhan langsung dengan penumbuh-kembangan moralitas yang merupakan suatu hal yang esensial bagi humanitas manusia.  Konsekuensinya dalam pengembangan kemampuan memahami suatu ilmu pengetahuan semestinya pula diiringi dengan kemampuan pengapresiasian nilai-nilai moral yang ada dalam ilmu pengetahuan tersebut. Dalam konteks evaluasi pembelajaran pun selain dievaluasi kemampuan memahami suatu ilmu tidak hanya diukur dari seberapa jauh kemampuan memahami dan menguasai ilmu pengetahuan tertentu, tetapi mesti juga diiringi dengan mengapresiasikan nilai-nilai moral yang ada dalam ilmu tersebut dalam tindakan nyata. Tegasnya saat ini dunia pendidikan tidak lagi hanya melahirkan  orang pintar  yang  menguasai disiplin ilmu pengetahuan, tetapi mampu melahirkan orang yang cerdas dan brilian dalam mengapresiasikan nilai-nilai moral dari ilmu pengetahuan yang dimilikinya sehingga teraktualisasi ke dalam perilaku moral yang terpuji.      &lt;br /&gt;Sebagai subjek dan objek moral, manusia dituntut  memainkan peran proaktifnya dalam rangka menumbuh-kembangkan perilaku moral dalam setiap aktivitas kehidupannya, terlebih lagi pada aktivitas pembelajaran di sekolah yang memang memiliki fungsi untuk itu. Untuk lebih meningkatkan fungsi utama sekolah seperti ini,  diperlukan adanya upaya peningkatan pendidikan melalui rekonstruksi metodologis aplikatif pembelajaran dalam upaya menumbuh-kembangkan moralitas subjek didik agar ianya menjadi landasan bagi segala tindak-tanduk dan perilakunya dalam kehidupan individu dan sosial kemasyarakatan. Hal ini penting, karena ketaqwaan sebagai lambang manusia tauhid akan terjelma dalam moralitas Islam yang senantiasa ingin berbuat yang terbaik dan selalu berjuang untuk kebaikan umat manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Watak Globalisasi Meniscayakan Penumbuhkembangan Moralitas Pendidikan Islam; &lt;br /&gt;Moralitas pendidikan Islam pada prinsipnya adalah bagaimana memberikan pembinaan dan pengembangan jiwa humanitas tertinggi melalui dunia pendidikan. Oleh karena itu, potensi psikis berupa akal, kemauan dan perasaan subjek didik mesti diarahkan untuk mampu berkreativitas dan berimajinasi dalam kehidupannya dengan mengacu pada nilai-nilai moralitas yang tinggi. Kondisi fitrah manusia sedemikian memerlukan pemeliharaan dan pengembangan melalui penyiapan berbagai perangkat pendukung lahirnya perilaku moral potensial menjadi perilaku moral aktual.  &lt;br /&gt;Seperti disebutkan di depan, bahwa pembentukan humanitas yang sarat dengan nuansa moralitas merupakan sesuatu yang tidak dapat ditawar-tawar dalam membangun peradaban masyarakat. Mengingat eksistensi sekolah memiliki korelasi signifikan dengan transformasi masyarakat, seperti telah diungkap di atas, menjadikan nilai-nilai moral sebagai identitas yang tidak dapat dilepaskan dengan jati diri manusia, tentunya upaya pembinaan dan pembangunan di bidang ini mesti mendapat tempat terdepan dalam orientasi dan proses kependidikan sekolah. Hal ini akan semakin diperlukan terutama bila dihubungkan dengan fungsi sekolah yang memiliki korelasi signifiksn dengan pemenuhan kebutuhan transformasi sosial masyarakat. Bukankah orang-orang bermoral dalam Islam adalah orang-orang yang mampu menampakkan wujud sejatinya dalam realitas yang terjelma dalam ragam tindakan kemanusiaan sebagai realisasi nyata dari wujud sifat-sifat Tuhan ke dunia? Walaupun manusia tidak mungkin sampai pada jelmaan hakiki, tetapi ia punya potensi untuk menjelmakanNya dalam kategori insani. &lt;br /&gt;Dapat diambil contoh, bahwa Tuhan adalah sosok yang Maha pencipta, maka tentulah Ia menyukai orang-orang yang dalam hidupkan selalu berkarya, berbuat, dan atau beramal. Ini juga berlaku bagi nilai-nilai (sifat) ketuhanan lainnya. Jika moralitas itu dibangun dalam tataran manejeral kependidikan Islam, tentulah memiliki relasi yang kuat dengan watak globalisasi yang sarat dengan percepatan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan tidak memudarkan nilai-nilai Islam. Bahkan subjek didik akan memiliki kepribadian yang kokoh dalam menghadapi benturan-benturan budaya dan agama yang ada.&lt;br /&gt;Berdasarkan realitas inilah maka pendidikan Islam mesti mampu menjadikan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang diberikan senantiasa sebagai wahana realisasi nilai-nilai moral. Hal ini sangat penting artinya terutama mengingat pengembangan watak manusia dalam menghasilkan budaya selalu bergerak dari interaksinya dengan kondisi-kondisi yang mengitarinya. Kondisi edukatif yang tertata dan terprogram akan menjadi hal yang kondusif untuk membangun peradaban masyarakat ke arah yang diinginkan. Jika sekolah tidak lagi berorientasi pada penumbuhkembangan nilai-nilai moral seperti digambarkan di depan, sama halnya sekolah telah beralih fungsi dan keluar dari esensi kemanusiaan yang sarat dengan nilai-nilai moral&lt;br /&gt;Dalam konteks Islam, iman sebagai realisasi ketauhidan manusia memiliki implikasi  dan konsekuensi terhadap penegakan nilai-nilai moral yang tinggi dan mulia.  Penumbuhkembangan  perilaku moral manusia selalu berkenaaan dengan sejauh mana ia menyadari, bahwa perilaku itu harus ia lakukan. Kesadaran dalam hal ini adalah bukti nyata dari sebuah keyakinan mendalam seseorang atas sesuatu yang dalam bahasa agama disebut dengan iman. Manusia yang menyadari bahwa dirinya, alam  jagad raya  dan Tuhannya merupakan tiga bagian yang tidak dapat dilupakan begitu saja dalam segala aktivitas kehidupannya, akan selalu mengorientasikan diri dan perilakunya pada keinginan   Tuhannya, yakni dengan menjalankan secara ikhlas segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya. Dengan demikian terlihat, bahwa manusia tauhid akan selalu mengorientasikan tindakan-tindakannya baik untuk dirinya, masyarakat maupun alam jagad raya, pada pendekatan diri dengan Penciptanya. Dalam konteks inilah, dapat dikatakan, bahwa manusia tauhid tidak akan pernah melupakan fungsi eksistensialitas dirinya sebagai mu`abbid, khalifah Allah SWT fi al-ardh dan `immarah fi al-ardh seperti telah diungkap sebelumnya. &lt;br /&gt;Mengingat tauhid merupakan dasar bagi pemunculan sikap tanpa pamrih sebagai identitas yang menunjuk pada moralitas, maka pengupayaan moralitas mestilah pula diawali dengan penanaman nilai-nilai ketauhidan ini. Hanya dengan cara demikian, maka  perilaku moral yang diinginkan oleh Allah SWT sebagai "personal" yang diwakili dapat ditumbuhkembangkan dengan baik. &lt;br /&gt;Manusia tauhid,  tidak akan pernah memiliki keinginan apalagi melakukan segala sesuatu yang berseberangan  dengan keyakinan tauhid yang ia miliki. Dalam pengertian lain dapat diungkapkan, bahwa manusia tauhid adalah manusia yang dalam segala aktivitasnya selalu menampilkan perilaku moral yang didasari pada nilai-nilai ke-Illahi-an. Allah SWT, tidak hanya sebagai orientasi kehidupanya, tetapi juga sebagai "personal" yang diwakilinya di dunia ini, segala tindakannya selalu hendak mengaplikasikan sifat-sifat Tuhan ke dalam dirinya.&lt;br /&gt;Kecuali hal di atas, manusia tauhid pun selalu menginginkan sesuatu yang benar dan senantiasa menegakkan kebenaran, karena memang tidak akan ada suatu keyakinan ketauhidan tanpa kebenaran. Oleh karena itu pula manusia tauhid adalah manusia-manusia yang bertanggungjawab atas setiap apa yang diucapkan dan yang dilakukannya. Sedemikian rupa sehingga setiap perilakunya selalu disandarkan kepada nama Tuhannya yang Tinggi, karena memang ilmu yang ia peroleh bersifat relatif, tidak seperti ilmu Tuhannya yang mutlak. Kondisi semacam ini pun akan bergerak maju menjadikan perbedaan sebagai sebuah rahmah untuk menemukan jati diri yang semakin kokoh dan kuat. &lt;br /&gt;Pendidikan sekolah yang diorientasikan pada nilai-nilai moral dan agama merupakan suatu kebutuhan dan memiliki urgensi bagi penumbuhkembangan perilaku  moral senyatanya pada subjek didik. Membangkitkan nilai-nilai moral sebagai motivasi dalam segala aktivitas pendidikan dalam hal ini adalah suatu kemestian. Hal ini tidak saja mengingat bahwa upaya pendidikan selalu mengarah pada perbaikan dan perubahan, tetapi lebih dari itu adalah bahwa pendidikan bersentuhan langsung dengan penumbuh-kembangan moralitas yang merupakan suatu hal yang esensial bagi humanitas manusia.  &lt;br /&gt;Konsekuensinya dalam pengembangan kemampuan memahami suatu ilmu pengetahuan semestinya pula diiringi dengan kemampuan pengapresiasian nilai-nilai moral yang ada dalam ilmu pengetahuan tersebut. Dalam konteks evaluasi pembelajaran pun selain dievaluasi kemampuan memahami suatu ilmu tidak hanya diukur dari seberapa jauh kemampuan memahami dan menguasai ilmu pengetahuan tertentu, tetapi mesti juga diiringi dengan mengapresiasikan nilai-nilai moral yang ada dalam ilmu tersebut dalam tindakan nyata. Tegasnya saat ini sekolah tidak lagi hanya melahirkan  orang pintar  yang  menguasai disiplin ilmu pengetahaun, tetapi mampu melahirkan orang yang cerdas dan brilian dalam mengapresiasikan nilai-nilai moral dari ilmu pengetahuan yang dimilikinya sehingga teraktualisasi ke dalam perilaku moral yang terpuji.      &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Penutup&lt;br /&gt;Watak  humanitas yang sarat dengan nuansa moral memestikan pengembangan masyarakat pun juga mengikut sertakan nilai-nilai moral agar ianya tidak lari dari dimensi subjek dan objek pendidikan itu sendiri. dalam konteks isi dan pengem-bangan kurikulum, bahkan tulisan ini pun memberikan tawaran yang berarti dalam pembentukan strategi pembelajaran moral di kelas.  Hal ini sangat diperlukan, tidak saja karena begitu pentingnya moralitas dalam diri manusia sebagai pengguna dan pengendali realitas dunia, tetapi juga mengingat arus pengembangan pengetahuan yang berjalan saat ini, dalam kerangkanya sendiri, mengisyaratkan akan penegasian nilai-nilai humanitas yang sarat moral. &lt;br /&gt;Sebagai subjek dan objek moral, manusia dituntut  memainkan peran proaktifnya dalam rangka menumbuhkembangkan perilaku moral dalam setiap aktivitas kehidupannya, terlebih lagi pada aktivitas pembelajaran di sekolah yang memang memiliki fungsi untuk itu. Untuk lebih meningkatkan fungsi utama sekolah seperti ini,  diperlukan adanya upaya peningkatan pendidikan melalui rekonstruksi metodologis aplikatif pembelajaran dalam upaya menumbuhkembangkan moralitas subjek didik agar ianya menjadi landasan bagi segala tindak-tanduk dan perilakunya dalam kehidupan individu dan sosial kemasyarakatan, terutama dalam gonjang ganjing kehidupan di era global saat ini.&lt;br /&gt;Keterpaduan moral dan pendidikan dalam berbagai konteks pengetahuan, keterampilan dan sikap yang melibatkan keseluruhan dimensi kependidikan yang ada di sekolah mesti ditata ke dalam misi pendidikan sebagai wahana penegakan dan pengembangan nilai-nilai moral. Komitmen semacam ini memestikan pendidikan Islam menjadikan moralitas tidak lagi sebagai entitas yang terpisah dalam setting pengupayaan berbagai aktivitas kependidikan yang ada, tetapi benar-benar terjelma dalam keseluruhan komponen kependidikan yang ada. &lt;br /&gt;Pembentukan dan pengembangan nilai-nilai humanitas yang memang sarat dengan nuansa moral, menjadikan moralitas sebagai identitas utama manusia tidak lagi berjalan di luar diri manusia itu sendiri. Saya berasumsi bahwa moralitas dunia pendidikan Islam memberikan jawaban atas kebutuhan esensial manusia yang cenderung terabaikan saat ini, bahkan kadang kala melupakan hakekat  kehidupannya yang mesti bermuara pada nilai-nilai humanitas; moral.&lt;br /&gt;Penulis, &lt;br /&gt; Muhmidayeli&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4134222016972542877-2545955253000920954?l=muhmidayeli-perpustakaanmuhmida.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhmidayeli-perpustakaanmuhmida.blogspot.com/feeds/2545955253000920954/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muhmidayeli-perpustakaanmuhmida.blogspot.com/2009/12/pendidikan-islam-era-global.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4134222016972542877/posts/default/2545955253000920954'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4134222016972542877/posts/default/2545955253000920954'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhmidayeli-perpustakaanmuhmida.blogspot.com/2009/12/pendidikan-islam-era-global.html' title='Pendidikan Islam era Global'/><author><name>muhmidayeli</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08080079530456384027</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_sUDEfuQg6gw/SxYaajpzvvI/AAAAAAAAACU/jlIaHXHd_EA/S220/IMG_0122.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4134222016972542877.post-7837228563499447533</id><published>2009-11-29T21:17:00.000-08:00</published><updated>2009-11-29T21:21:25.929-08:00</updated><title type='text'>Epistemologi pendidikan M. Iqbal</title><content type='html'>&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;?xml:namespace prefix = o ns = "urn:schemas-microsoft-com:office:office" /&gt;&lt;o:p&gt; &lt;p style="TEXT-ALIGN: center; LINE-HEIGHT: 23pt; MARGIN: 0in 0in 0pt; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal" align="center"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Filsafat Khudi Muhammad Iqbal: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: center; LINE-HEIGHT: 23pt; MARGIN: 0in 0in 0pt; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal" align="center"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Sebuah Analisis Epistemik Pendidikan dalam Konteks Teori Perubahan Masyarakat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: center; LINE-HEIGHT: 23pt; MARGIN: 0in 0in 0pt; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal" align="center"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Oleh: Muhmidayeli&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: center; LINE-HEIGHT: 23pt; MARGIN: 0in 0in 0pt; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal" align="center"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;E-mail: &lt;a href="mailto:muhmidayeli@yahoo.co.id"&gt;muhmidayeli@yahoo.co.id&lt;/a&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 23pt; MARGIN: 0in 0in 0pt; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 23pt; MARGIN: 0in 0in 0pt; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Abstrak&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: 37.4pt; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Pendidikan persekolahan adalah wadah strategis dalam mempercepat lahirnya ragam perubahan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Kondisi semacam ini meniscayakan pendidikan dibangun di atas landasan epistemologi yang kokoh yang tentu dilandasai pada konsep ontologi dan epistemologi dalam melihat bagaimana menggiring manusia untuk berkembang ke arah kesempurnaan yang diiinginkan. Muhammad Iqbal menawarkan gerakan perubahan masyarakat dengan menekankan prinsip kebebasan dan kreativitas sebagai dasar pengembangan watak kemanusiaan yang bergerak maju ke arah kesempurnaan. Prinsip dasar ini meniscayakan pembangunan manusia dalam konteks pengalaman materi, hidup, penuh makna dan kesadaran. Oleh karena itu, pendidikan mesti diorientasikan pada pembentuhan masyarakat baru yang lebih baik dan sempurna.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: 37.4pt; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Kata Kunci:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Filsafat Khudi; Epistemologi Pendidikan; Perubahan Masyarakat &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: -18.7pt; MARGIN: 0in 0in 0pt 18.7pt; tab-stops: 18.7pt; mso-line-height-rule: exactly; mso-list: l2 level1 lfo1" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore"&gt;A.&lt;span style="FONT: 7pt 'Times New Roman'"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Pendahuluan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: 37.4pt; MARGIN: 0in 0in 0pt; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Diskursus pembaharuan dan perubahan masyarakat dalam banyak variasi dinamika&lt;span style="mso-spacerun: yes"&gt;  &lt;/span&gt;sejarah sosial dan perjuangannya akan senantiasa menjadi fokus pembicaraan para ilmuan dan praktisi sosial. Diskusi-diskusi tentang problem ini memiliki implikasi logis terhadap tata pikir dan pemahaman banyak orang tentang restrukturisasi berbagai peristiwa gerakan kemasyarakatan di berbagai bidang kehidupan yang pada gilirannya akan menciptakan konteks sosial baru bagi dinamika gerakan dan pertumbuhan mobilitas suatu masyarakat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: 37.4pt; MARGIN: 0in 0in 0pt; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Dalam konteks kependidikan, gerakan perubahan suatu masyarakat dan sosial lebih diarahkan pada upaya bagaimana penyelenggaraan pendidikan diorientasikan untuk menjawab ragam persoalan dan kebutuhan masyarakat dalam gerak bangun kemajuan di berbagai sektor kehidupan. Sedemikian rupa, pendidikan mesti diselenggarakan atas dasar prinsip-prinsip epistemologi yang benar-benar yang merupakan refleksi nyata atas model gerak manusia dalam mengatur diri dan kediriannya agar dapat benar-benar berfungsi dan difungsikan sebagai penggerak potensial perubahan yang senantiasa membawanya melangkah maju.ke arah kemajuan di berbagai sektor.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 24pt; TEXT-INDENT: 37.4pt; MARGIN: 0in 0in 0pt; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Pendidikan persekolahan adalah wadah strategis dalam mempercepat lahirnya perbaikan-perbaikan dalam berbagai bidang kehidupan di tengah-tengah masyarakat, baik dalam konteks pengembangan individu-individu yang bergabung dalam suatu tatanan masyarakat, maupun dalam konteks kollektivitas dan kelembagaan yang meniscayakan munculnya masyarakat baru yang lebih arif dan tanggap untuk berbuat yang mengarah pada perbaikan-perbaikan taraf hidup di berbagai lini. Atas dasar tesis inilah maka dikatakan, bahwa kualitas suatu masyarakat sangat tergantung pada kualitas lembaga pendidikan sekolah.&lt;a style="mso-footnote-id: ftn1" title="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4134222016972542877#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="FONT-FAMILY: 'Times New Roman'; FONT-SIZE: 12pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA" lang="IN"&gt;&lt;span style="color:#800080;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Peran lembaga pendidikan persekolahan sedemikian menjadikan eksistensinya sebagai menara gading bagi penciptaan masyarakat baru yang lebih baik dan lebih beradab dari sebelumnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-INDENT: 37.4pt; MARGIN: 6pt 0in 0pt" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="FONT-SIZE: 12pt; mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Esensi pendidikan Islam sebagai pengupayaan perubahan ke arah yang lebih “baik”, yang mengarah pada pengembangan, menurut tujuan–tujuan yang telah ditetapkan, meniscayakan pendidikan berorientasi pada masa depan masyarakat, bukan masa sekarang, dan atau hanya sekedar pelestarian nilai-nilai semata. Dalam konteks ini, masyarakat tidak dapat dipandang sebagai sebuah sistem yang kaku. Hal ini mengingat di dalamnya terdapat jaringan-jaringan yang saling mempengaruhi satu dari yang lainnya yang bermuara pada sebuah peristiwa yang bergerak maju ke arah perubahan-perubahan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: 37.4pt; MARGIN: 0in 0in 0pt; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Dari tesis ini dapat dikatakan bahwa, pergeseran-pergeseran di berbagai bidang seperti ekonomi, sosial budaya, politik dan lain sebagainya dapat menciptakan pola dan gerakan baru dalam kehidupan masyarakat yang dalam banyak variannya sangat ditentukan oleh bagaimana anggota-anggota masyarakat bergerak ke arah perbaikannya. Pergerakan setiap unsur lapisan ini memiliki hubungan signifikan dengan bagaimana pendidikan berlangsung dalam suatu masyarakat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: 37.4pt; MARGIN: 0in 0in 0pt; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Muhammad Iqbal adalah salah satu tokoh yang banyak berbicara tentang pola manusia membentuk dirinya di dunia yang akan meniscayakan pola akselerasi pengembangan dan kemajuan suatu masyarakat. Filsafat eksistensial Muhammad Iqbal banyak menawarkan cara bagaimana manusia dapat menjadi dirinya yang kamil. Bahkan ajarannya tentang bagaimana mengobati gonjang ganjing kehidupan modernitas dengan cara mengembalikan fungsi ilmu pengetahuan yang semestinya mengajari anak manusia bagaimana hidup, sedemikian rupa menjadikan dirinya mampu mengatur peradaban yang arif akan memiliki signifikansi metodologis dalam membangun masyarakat baru di era globalisasi saat ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: 37.4pt; MARGIN: 0in 0in 0pt; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Falsafah &lt;i&gt;khudhi &lt;/i&gt;yang dibincangkannya dalam buku &lt;i&gt;Asrar-i-Khudhi &lt;/i&gt;menawarkan beragam prinsip dasar pengembangan watak insani yang memiliki implikasi pada penataan kependidikan yang akan bermuara pada &lt;span style="mso-spacerun: yes"&gt; &lt;/span&gt;pembentukan masyarakat yang moralis yang sarat dengan kemajuan-kemajuan. Bahkan dapat dikatakan bahwa masyarakat moralis identik dengan masyarakat yang penuh dengan makna kemajuan-kemajuan dalam berbagai lini kehidupan dalam konteks keseluruhan kebutuhan manusia. Sedemikian rupa, falsafah&lt;i&gt; khudi &lt;/i&gt;Muhammad Iqbal yang membincangkan persoalan watak insani dalam membentuk diri sejati yang bermuara pada pelahiran insan kamil menjadi fokus utama dalam gerak humanitas yang akan menentukan corak bangun kemajuan suatu masyarakat. Tarnsformasi sosial dan masyarakat memiliki korelasi dengan proses pembentukan watak manusia yang digambarkan Muhammad Iqbal dalam konsep &lt;i&gt;khudi-&lt;/i&gt;nya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: 37.4pt; MARGIN: 0in 0in 0pt; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Falsafah hidup yang tertuang dalam setiap pemikiran Muhammad Iqbal menyoroti persoalan dan tujuan hidup manusia yang meniscayakan implikasi edukasi yang akan menjadi landasan bagi falsafah pendidikan yang tentu akan mempengaruhi bagi arah bangun pengembangan individu maupun kelompok dalam kehidupan masyarakat. Pengembangan teori pendidikan mana pun selalu&lt;span style="mso-spacerun: yes"&gt;  &lt;/span&gt;beranjak dari asas yang mendasarinya tentang hakikat manusia dalam konteks individualitas dan sosial dalam kaitannya dengan pembentukan jati diri dan kemanusiaan. Kejelasan pandangan tentang prinsip dasar ini akan mempertegas makna, hakikat dan strategi pendidikan. Pendeknya, tidak mungkin ada teori tentang pendidikan tanpa memiliki kejelasan konsep tentang kedirian manusia dalam pembentukan watak insaninya. Persoalan ini dibahas secara khusus oleh Muhammad Iqbal dalam karyanya yang ditulis dalam bahasa Parsi yang berjudul &lt;i&gt;Asrari Khudi &lt;/i&gt;(rahasia diri). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: 37.4pt; MARGIN: 0in 0in 0pt; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Transformasi sosial dan masyarakat dalam berbagai dimensinya memiliki hubungan strategis dengan epistemologi pendidikan yang dalam banyak varian memiliki kaitan dengan pandangan dan konep diri yang dianut. Oleh karena itu, pengkajian secara kritis epistemologi pendidikan yang dibangun oleh Muhammad Iqbal dalam kaitannya dengan perubahan suatu masyarakat diharapkan dapat sebagai wacana bagi pengembangan pola rekonstruksi pendidikan Islam yang berdimensikan pergerakan perubahan-perubahan dalam masyarakat yang dicita-citakan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 23pt; MARGIN: 0in 0in 0pt; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;B. Riwayat Hidup Muhammad Iqbal&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: 37.4pt; MARGIN: 0in 0in 0pt; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Muhammad Iqbal lahir di Sialkot, Punjab pada tanggal 22 Februari 1873 dan wafat di Lahore 21 April 1938. Ia adalah seorang filsuf dan penya`ir yang sangat peduli terhadap dinamika perkembangan sosial kemasyarakatan Muslim pada masanya. Ia berasal dari keturunan Brahmana Kashmir yang telah memeluk Islam tiga abad sebelum kelahirannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: 37.4pt; MARGIN: 0in 0in 0pt; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Ayahnya bernama Nur Muhammad yang bekerja sebagai penjahit dan penyulam. Sebagai seorang muslim yang taat dan sufi, ayahnya banyak mendorong Muhammad Iqbal untuk menghafal al-Qur`an secara teratur dan memang sangat mempengaruhi perjalanan spritual Muhammad Iqbal selanjutnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: 37.4pt; MARGIN: 0in 0in 0pt; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Pendidikan dasar dan menengah didapatkannya di daerah kelahirannya, Punjab. Kendatipun Muhammad Iqbal pernah merasakan ketidakbahagiaan dalam kehidupan pribadinya ketika menikahi putri dari seorang dokter yang telah memberinya dua orang anak yang bernama Javid Muhammad Iqbal dan Munirah Banu, namun ketika mendapat beasiswa untuk menempuh pendidikan magister di bidang filsafat pada Goverment College di Lahore ia mampu menyeleasaikannya dalam tempo dua tahun dengan prediket cum laude. Masa pendidikannya inilah yang memberi kesempatan pertemuannya dengan Sir Thomas Arnold, seorang orientalis yang mengarang buku &lt;i&gt;The Preaching of Islam&lt;/i&gt; (1896).&lt;a style="mso-footnote-id: ftn2" title="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4134222016972542877#_ftn2" name="_ftnref2"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="FONT-FAMILY: 'Times New Roman'; FONT-SIZE: 12pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA" lang="IN"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: 37.4pt; MARGIN: 0in 0in 0pt; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Setelah menamatkan pendidikannya pada perguruan ini, Muhammad Iqbal mengajar dalam bidang sejarah dan filsafat di Oriental College. Bahkan ia juga diberi kepercayaan untuk mengajar filsafat dan bahasa Inggeris di almamaternya &lt;i&gt;Goverment College.&lt;a style="mso-footnote-id: ftn3" title="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4134222016972542877#_ftn3" name="_ftnref3"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal"&gt;&lt;span style="FONT-FAMILY: 'Times New Roman'; FONT-SIZE: 12pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA" lang="IN"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/i&gt; Pada tahun 1905 ia melanjutkan studinya ke Eropa dan memperoleh gelar doktor dalam filsafat dari Universitas Munich. Disertasi Muhammad Iqbal berjudul &lt;i&gt;The Development of Metaphysics in persia. &lt;/i&gt;Gelar doktor lainnya, di bidang kesusasteraan didapatnya dari Universitas Punjab pada tahun 1935. Muhammad Iqbal menyelesaikan pendidikan tinggi di Scotch Mission College yang kemudian berganti nama dengan Murray College. Di sinilah kemudian Muhammad Iqbal bertemu seorang ulama besar yang bernama Sayyid Mir. Hasan yang tidak lain adalah seorang sahabat orang tuanya.yang tidak lain adalah seorang penya`ir dan ahli bahasa Urdu dan Persia. Pertemuan dengan Mir Hasan inilah kemudian menjadikan Muhammad Iqbal banyak belajar sya`ir-sya`ir yang menjadi semakin kukuh setelah ia menemukan seorang ahli sya`ir Urdhu Mirza Khan (1831-1905) dari Hyderabad. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: 37.4pt; MARGIN: 0in 0in 0pt; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Pada &lt;span style="mso-tab-count: 1"&gt;   &lt;/span&gt;tahun &lt;span style="mso-tab-count: 1"&gt;   &lt;/span&gt;1927 ia pernah dipilih menjadi anggota Majelis Legislatif Punjab dan pada tahun 1930 ia juga pernah dipilih sebagai Presiden sidang tahunan dari Liga Muslimin. Karena pada periode ini, ia mendukung gagasan tentang sebuah negara Islam di wilayah Timur Laut India, maka ia, oleh para pendukung negara Pakistan, dianggap sebagai pemimpin mereka. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: 37.4pt; MARGIN: 0in 0in 0pt; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Adapun karya-karya Muhammad Iqbal terkenal antara lain:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: -0.25in; MARGIN: 0in 0in 0pt 55.4pt; tab-stops: list 55.4pt; mso-line-height-rule: exactly; mso-list: l0 level1 lfo3" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-style: italic" lang="IN"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore"&gt;1.&lt;span style="FONT: 7pt 'Times New Roman'"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;The Development of Metaphysics in Persia&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: -0.25in; MARGIN: 0in 0in 0pt 55.4pt; tab-stops: list 55.4pt; mso-line-height-rule: exactly; mso-list: l0 level1 lfo3" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-style: italic" lang="IN"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore"&gt;2.&lt;span style="FONT: 7pt 'Times New Roman'"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Asrar i Khudi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: -0.25in; MARGIN: 0in 0in 0pt 55.4pt; tab-stops: list 55.4pt; mso-line-height-rule: exactly; mso-list: l0 level1 lfo3" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-style: italic" lang="IN"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore"&gt;3.&lt;span style="FONT: 7pt 'Times New Roman'"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Rumuz i Khudi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: -0.25in; MARGIN: 0in 0in 0pt 55.4pt; tab-stops: list 55.4pt; mso-line-height-rule: exactly; mso-list: l0 level1 lfo3" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-style: italic" lang="IN"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore"&gt;4.&lt;span style="FONT: 7pt 'Times New Roman'"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;The Reconstruction of Religious Thought in Islam&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 23pt; MARGIN: 0in 0in 0pt 37.4pt; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: -0.5in; MARGIN: 0in 0in 0pt 0.5in; tab-stops: list 18.7pt; mso-line-height-rule: exactly; mso-list: l1 level1 lfo2" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore"&gt;C.&lt;span style="FONT: 7pt 'Times New Roman'"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Hakikat Manusia dalam Teori Ego/Khudhi Muhammad Iqbal&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: 37.4pt; MARGIN: 0in 0in 0pt; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Beragam pandangan filsuf bergulir dalam mendudukkan bagaimana cara berada manusia di dunia. Rene Descartes umpamanya berkata bahwa ”saya berpikir, karena itu saya ada (Cogito ergo sum)”. Bergson menjelaskan ”Saya mempunyai keseimbangan, karena itu saya ada” Sartre menuturkan bahwa ”Saya merasa bersalah, karena itu saya ada”. Marx dalam hal ini pun berkata, ”Saya bekerja, maka saya ada”.&lt;a style="mso-footnote-id: ftn4" title="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4134222016972542877#_ftn4" name="_ftnref4"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="FONT-FAMILY: 'Times New Roman'; FONT-SIZE: 12pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA" lang="IN"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Kesemua pemikir ini menitikkan beratkan manusia pada satu titik urgen dari keseluruhan unsur yang ada dalam pembentukan diri manusia dan bahkan cenderung mengabaikan yang lain. Pendeknya, manusia dalam hal ini ditempatkan sebagai suatu makhluk yang menunjukkan dirinya melalui satu kekuatan utama yang menjadi penentu dalam keseluruhan sistem kediriannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: 37.4pt; MARGIN: 0in 0in 0pt; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Apa yang diutarakan oleh Rene Descartes umpamanya telah memberikan gambaran bahwa keberadaan manusia bertumpu pada pikiran, sehingga ketika pikiran tiada maka diri manusia pun tiada. Begitu juga dengan pandangan yang diutarakan oleh Marx yang menitik beratkan identitas manusia pada pekerjaan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: 37.4pt; MARGIN: 0in 0in 0pt; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Sejak Rene Descartes, memaklumatkan &lt;i&gt;cogito ergo sum&lt;/i&gt; (aku berpikir maka aku ada), pada saat itulah berawal perkembangan pemikiran Barat yang kemudian memengaruhi dunia yang cenderung membangun suatu keseluruhan dengan menjadikan ego sebagai pusatnya. Ego cogito Descartes menunjukkan bagaimana “aku” didaulat menjadi pusat bagi realitas ontologis. Ego mendapat prioritas utama yang mutlak tak tergugat. Begitu pula Jean Paul Sartre pernah mengatakan bahwa aktivitas manusia untuk mengembangkan egologi sebagai totalitas dengan mengedepankan identitas manusia pada wilayah “etre pour soi” yang ditandai dengan adanya kesadaran, kebebasan dan kreativitas. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: 37.4pt; MARGIN: 0in 0in 0pt; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Ketika manusia mengedepankan ego, maka ia sebenarnya tengah melakukan totalisasi, apapun yang dihadapannya akan di-utuh-kan dalam sebuah konsep yang telah ada di pikiran “aku”, sehingga apa pun itu masuk dalam pemahaman dari sudut pandang “aku”. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: 37.4pt; MARGIN: 0in 0in 0pt; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Sebagaimana yang diagungkan oleh kaum eksistensialis pada umumnya, Muhammad Iqbal menitik beratkan dua prinsip dasar manusia dalam menunjukkan dirinya di dunia melalui dua sifat esensialnya, yaitu kebebasan dan kreativitas. Dalam konteks ini Muhammad Iqbal menggambarkan dengan kalimat:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: 9.35pt; MARGIN: 6pt 0in 0pt 28.1pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Hancurkan dunia sampai berkeping-keping bila tidak sesuai denganmu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: 9.35pt; MARGIN: 0in 0in 0pt 28.1pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Dan ciptakan dunia yang lain dari dari kedalaman wujudmu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: 0.05pt; MARGIN: 0in 0in 0pt 37.4pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Betapa pedihnya manusia merdeka yang hidup di dunia yang diciptakan oleh manusia lain.&lt;a style="mso-footnote-id: ftn5" title="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4134222016972542877#_ftn5" name="_ftnref5"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal"&gt;&lt;span style="FONT-FAMILY: 'Times New Roman'; FONT-SIZE: 12pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA" lang="IN"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: 37.4pt; MARGIN: 0in 0in 0pt; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Puisi di atas menyiratkan sebuah keyakinan Muhammad Iqbal yang memperlihatkan keniscayaan kebebasan dalam ruang gerak kemanusiaan dalam menciptakan perbaikan-perbaikan dan penyempurnaan-penyempurnaan. Iqbal berkeyakinan bahwa Tuhan berfirman lewat kebebasan. Kebebasan berarti transendensi diri dan karenanya manusia dapat melampaui ruang dan waktu, sehingga ia tidak menjadi manusia berada pada masa kini, tetapi membangun masa depan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: 37.4pt; MARGIN: 0in 0in 0pt; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Dalam pandangannya, Muhammad Iqbal terlihat menolak paham yang melihat masa depan sebagai sesuatu yang telah ditentukan secara kausalitas. Menurutnya masa depan seseorang atau sekelompok orang tidak dapat diprediksi dan ditentukan berdasarkan hukum-hukum yang ditentukan, baik secara psiologis, psikologis, sosial maupun historis. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: 37.4pt; MARGIN: 0in 0in 0pt; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Bagi Muhammad Iqbal, manusia adalah makhluk yang belum selesai. Dan karenanya, manusia harus selalu berbuat dan bekerja. Manusia adalah tujuan konstruk kehidupan di mana dirinya sebagai pusat segala aktivitas dan kreativitas yang tampak dalam bentuk perubahan-perubahan dalam ragam kehidupan masyarakat. Pendeknya, tugas penting manusia di dunia adalah berbuat dan bergerak menuju ke arah yang lebih baik. Ini berarti bahwa pandangan Muhammad Iqbal menekankan bahwa suatu masyarakat harus bergerak maju dari masa ke masa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: 37.4pt; MARGIN: 0in 0in 0pt; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Muhammad Iqbal berkeyakinan bahwa manusia dapat mengubah apa yang ada ke arah yang semestinya ada, karena ego manusia dapat membayangkan sebuah dunia baru yang lebih baik dan lebih sempurna dari upayanya membaca masa lalu dan mengaitkan dengan masa sekarang. Kecuali itu, ego yang dalam dirinya ada kekuatan mencoba dan mengaktualisasikan dirinya di dunia, sehingga ia dapat menggunakan seluruh lingkungannya untuk senantiasa berbuat dan berkarya sepanjang arus sejarah kehidupannya. Kondisi ego yang semacam inilah yang memunculkan gerakan perubahan ke arah realitas tertinggi pada tarap kemanusiaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: 31.7pt; MARGIN: 6pt 0in 0pt; tab-stops: 31.5pt; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Khudi (ego)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt; dimaknai Muhammad Iqbal sebagai suatu kesatuan yang riil, yang nyata dan secara mantap dan tandas. &lt;i&gt;Khudi&lt;/i&gt; merupakan pusat dan landasan dari keseluruhan organisasi kehidupan manusia. Muhammad Iqbal menolak secara tegas pandangan umum para filsuf yang berkembang baik di dunia Timur maupun Barat yang mengatakan bahwa diri manusia hanya sebagai ilusi atau refleksi dari jiwa dan tidak memiliki kepastian yang jelas.&lt;a style="mso-footnote-id: ftn6" title="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4134222016972542877#_ftn6" name="_ftnref6"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="FONT-FAMILY: 'Times New Roman'; FONT-SIZE: 12pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA" lang="IN"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: 31.7pt; MARGIN: 6pt 0in 0pt; tab-stops: 31.5pt; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Muhammad Iqbal&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes"&gt; &lt;/span&gt;mengatakan, bahwa hakikat manusia adalah segenap kekuatan diri yang akan menentukan siapa ia. Apabila dirinya dapat berkembang dengan baik, maka eksistensinya dalam masyarakat dan dunia pun akan diakui. Jika manusia tidak mengambil prakarsa dan berkeinginan untuk mengembangkan dirinya dan tidak ingin merasakan gejolak batin hidup yang lebih tinggi, maka ruh yang ada padanya akan mengkristal dan perlahan-perlahan akan menjadikan dirinya tereduksi kepada benda-benda mati. Oleh karena itu Muhammad Iqbal berpendapat, bahwa untuk membangun kembali umat Islam yang telah terpuruk pada kemerosotan dan kemunduran yang berpangkal pada kemerosotan humanitas, perlu menata dan membangun kembali tata sistem baru dengan mengembangkan potensi diri dan akal manusia yang akan menunjuk pada eksistensi manusia dalam memandang realitas. Suatu yang riil bukan saja bersifat rasional-idealis seperti yang ditawarkan Plato&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;, tetapi juga sesuatu yang bersifat indrawi.&lt;a style="mso-footnote-id: ftn7" title="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4134222016972542877#_ftn7" name="_ftnref7"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="FONT-FAMILY: 'Times New Roman'; FONT-SIZE: 12pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA" lang="IN"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Dalam puisinya Muhammad Muhammad Iqbal menulis sebagai berikut:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: 37.4pt; MARGIN: 6pt 0in 0pt; tab-stops: 31.5pt; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Filsafat Plato tiada berguna&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: 37.45pt; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Filsafat Plato mencanangkan ketiadaan yang ada&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: 37.45pt; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Tiada tergugah untuk upaya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: 37.45pt; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Jiwa terpukau oleh yang serba tiada&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: 37.45pt; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Ia tidak percaya pada alam bendawi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: 37.45pt; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Dan menobatkan diri sebagai Pencipta&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: 37.45pt; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Idea dari dunia maya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: 37.45pt; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Betapa nyaman dunia yang sarat dengan fenomena hidup&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: 37.45pt; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Bagi semangat yang menggejolak-menggelora&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: 37.45pt; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Dan betapa menyita dunia cita bagi jiwa yang mati&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: 37.45pt; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Berpantang dari yang nyaman&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: 37.45pt; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Hanya mendorong kepada pelarian&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: 37.45pt; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Karena tak mampu menantang badai dunia gempita&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: 37.45pt; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Dan insan teracuni kemabukannya sendiri&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: 37.45pt; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Terhuyung-huyung dan loyo&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: 37.45pt; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Tiada sedikitpun tergerak untuk bertindak&lt;a style="mso-footnote-id: ftn8" title="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4134222016972542877#_ftn8" name="_ftnref8"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal"&gt;&lt;span style="FONT-FAMILY: 'Times New Roman'; FONT-SIZE: 12pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA" lang="IN"&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: 37.4pt; MARGIN: 0in 0in 0pt; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Puisi di atas mendeskripsikan bahwa kehidupan prustrasi dan putus asa merupakan tindakan meniadakan atau menghilangkan ego. Kebebasan berkehendak dan berbuat terbatas dalam lingkup kediriannya yang sejati merupakan watak dan intensitas aktivitas ego manusia. Artinya, bahwa tujuan ego adalah bagaimana memupuk keaslian dan kekhususan diri agar dapat mencapai kesempurnaan. Hanya manusialah yang dapat mencapai individualitas yang lebih bermakna, kaya, penuh dan sempurna dengan tingkat kedirian yang tertinggi. Hal ini ditegaskannya pula dalam puisinya sebagai berikut:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: 37.4pt; MARGIN: 0in 0in 0pt; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Segala sesuatu dipenuhi luapan untuk menyatakan diri&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: 37.45pt; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Setiap atom merupakan tunas kebesaran&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: 37.45pt; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Hidup tanpa gejolak meramalkan kematian&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: 37.45pt; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Dengan menyempurnakan diri &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: 37.45pt; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Insan mengarahkan pandang pada Tuhan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: 37.45pt; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Kekuatan individualitas mengubah biji sawi setinggi gunung&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: 37.45pt; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Kelemahannya menciutkan gunung sekecil biji sawi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: 37.45pt; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes"&gt; &lt;/span&gt;Engkaulah semata&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: 37.45pt; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Realitas di Alam Semesta&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: 37.45pt; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Selain engkau hanyalah maya belaka&lt;a style="mso-footnote-id: ftn9" title="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4134222016972542877#_ftn9" name="_ftnref9"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal"&gt;&lt;span style="FONT-FAMILY: 'Times New Roman'; FONT-SIZE: 12pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA" lang="IN"&gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: 31.7pt; MARGIN: 6pt 0in 0pt; tab-stops: 31.5pt; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Puisi di atas menegaskan kemestian manusia untuk selalu berkreativitas dan berbuat untuk bangkit menuju ke arah kesempurnaan dan keutuhan hidup. Perubahan dan perbaikan adalah bukti diri yang hakiki dalam upaya menunjukkan diri. Pendek kata, manusia dan perubahan adalah identik, dan karenanya mesti digerakkan dengan memberi peluang besar bagi ego untuk menjadi dirinya yang sejati, yakni suatu kepribadian yang berdimensikan kebebasan dan kesadaran. Kebebasan dan kesadaran sebagai lambang individualitas adalah kata kunci bagi penyempurnaan kemanusiaan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: 31.7pt; MARGIN: 6pt 0in 0pt; tab-stops: 31.5pt; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Muhammad Iqbal&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes"&gt; &lt;/span&gt;menyebutkan, bahwa kesadaran&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes"&gt; &lt;/span&gt;diri dan individualitas ini adalah kata kunci bagi penyempurnaan kemanusiaan. Gerak langkah sejarah manusia selalu ditentukan oleh peran ego&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes"&gt; &lt;/span&gt;yang memiliki kebebasan&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes"&gt; &lt;/span&gt;untuk mengekspresikan kebebasan dirinya. Individualitas adalah suatu gerak maju yang menjadi saluran segala objek dan benda. Dengan memperkuat kepribadian, ego manusia dapat menguasai lingkungan dan mendekati ego Tuhan dengan sifat-sifat-Nya, sehingga manusia itu pun mencapai kesempurnaannya.&lt;a style="mso-footnote-id: ftn10" title="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4134222016972542877#_ftn10" name="_ftnref10"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="FONT-FAMILY: 'Times New Roman'; FONT-SIZE: 12pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA" lang="IN"&gt;[10]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Jadi, percepatan perubahan sejarah dalam suatu mayarakat, sangat tergantung pada kualitas anggotanya (individu) dalam memahami dan memaknai hakikat hidup yang kesemuanya itu tergantung sejauhmana ego (khudi) memanfaatkan kebebasannya dalam bereksistensi di dunia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: 31.7pt; MARGIN: 6pt 0in 0pt; tab-stops: 31.5pt; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Teori kebebasan&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes"&gt; &lt;/span&gt;Muhammad Iqbal&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes"&gt; &lt;/span&gt;ini memestikan ia memahami hakikat manusia sebagai segenap kekuatan diri yang akan menentukan siapa ia. Apabila dirinya dapat berkembang dengan baik, maka eksistensinya dalam masyarakat dan dunia pun akan diakui. Jika manusia tidak mengambil prakarsa dan berkeinginan untuk mengembangkan dirinya dan tidak ingin merasakan gejolak batin hidup yang lebih tinggi, maka ruh yang ada padanya akan mengkristal dan perlahan-perlahan akan menjadikan dirinya tereduksi kepada benda-benda mati. Muhammad Iqbal berpendapat, bahwa untuk membangun humanitas manusia diperlukan penataan sistem pendidikan yang bermuara pada pengembangan potensi diri dan akal manusia dalam memandang realitas&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;, tidak saja yang bersifat rasional-idealis seperti yang ditawarkan Plato&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;, tetapi juga sesuatu yang bersifat indrawi.&lt;a style="mso-footnote-id: ftn11" title="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4134222016972542877#_ftn11" name="_ftnref11"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="FONT-FAMILY: 'Times New Roman'; FONT-SIZE: 12pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA" lang="IN"&gt;[11]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Untuk itu, pendidikan terbaik yang sesuai dengan watak manusia tentulah pendidikan yang mengaksentuasikan aktivitasnya pada pemberikan pengetahuan kepada subjek didik melalui metode &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;problem solving&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;, yaitu suatu cara yang efektif untuk melatih berpikir kreatif&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;, kritis dan inovatif&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;. Dengan cara ini menurutnya dapat membentuk cakrawala berpikir subjek didik sedemikian rupa sehingga menjadi manusia-manusia yang tanggap akan berbagai problematika kehidupannya dalam masyarakat.&lt;a style="mso-footnote-id: ftn12" title="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4134222016972542877#_ftn12" name="_ftnref12"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="FONT-FAMILY: 'Times New Roman'; FONT-SIZE: 12pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA" lang="IN"&gt;[12]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: 31.7pt; MARGIN: 6pt 0in 0pt; tab-stops: 31.5pt; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: -0.5in; MARGIN: 0in 0in 0pt 0.5in; tab-stops: list 18.7pt; mso-line-height-rule: exactly; mso-list: l1 level1 lfo2" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore"&gt;D.&lt;span style="FONT: 7pt 'Times New Roman'"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Manusia dan Dunia Pengalaman&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: 37.4pt; MARGIN: 0in 0in 0pt; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Seperti diuraikan di atas, Muhammad Iqbal memberikan tesis bahwa being manusia bersifat individual, bukan universal dan bahkan semua being bersifat individual. Yang&lt;span style="mso-spacerun: yes"&gt;  &lt;/span&gt;membedakan being manusia dari being-being yang lainnya ada pada unsur kesadaran yang dimilikinya. Kesadaran ini adalah anugerah Tuhan untuk manusia yang diambil langsung dari jiwa kepemimpinanNya.&lt;span style="mso-spacerun: yes"&gt;  &lt;/span&gt;Kesadaran manusia tidak dapat dilepaskan dari dunia yang konkret yang tidak terbatas. Bahkan pikiran manusia dimulai dari aktivitasnya yang bersentuhan dengan dunia konkret.&lt;a style="mso-footnote-id: ftn13" title="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4134222016972542877#_ftn13" name="_ftnref13"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="FONT-FAMILY: 'Times New Roman'; FONT-SIZE: 12pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA" lang="IN"&gt;[13]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="mso-spacerun: yes"&gt; &lt;/span&gt;Ini berarti, bahwa manusia tidak dapat mengelakkan dirinya dari dunia pengalaman. Manusia dalam menciptakan sejarahnya bergerak dan digerakkan oleh dunia pengalamannya yang bersifat konkret.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: 37.4pt; MARGIN: 0in 0in 0pt; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Dalam gerak perubahan ini Muhammad Iqbal membagi ego sebagai pusat suatu aktivitas dan perubahan menjadi dua macam, yaitu ego efisien dan ego apresiatif. Ego efisien adalah ego yang bersifat praktis, "yang berhubungan dengan tata lahiriah benda-benda," sedangkan ego apresiatif adalah pusat batin pengalaman kita, ego yang kita capai pada saat-saat kita sedang bersemadi. Ajaran Muhammad Iqbal menekankan, bahwa ego efisien merupakan tahapan-tahapan dalam suatu perjalanan hidup anak manusia, sedangkan ego apresiatif ini hidup dalam perlangsungan waktu yang murni di mana sifat perubahannya tanpa urutan pergantian. Hukum kehidupan dalam maknanya yang bergerak dan berubah adalah pergerakan dari wilayah ego apresiatif menuju ego efisien.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: 37.4pt; MARGIN: 0in 0in 0pt; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Menurut Muhammad Iqbal, pengalaman manusia dalam gerak ego jenis apresiatif ini berlangsung di dalam kurun tiga tingkatan, yaitu tingkatan materi, tingkatan hidup dan tingkatan kesadaran. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 23pt; MARGIN: 0in 0in 0pt; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Pengalaman manusia dalam tingkatan materi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: 37.4pt; MARGIN: 0in 0in 0pt; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Dalam menguraikan dunia pengalaman tingkat materi Muhammad Iqbal mengkritik konsep materi di dalam materialisme dan ilmu alam tradisional yang menyatakan bahwa materi adalah "sesuatu yang bertahan dalam waktudan bergerak dalam ruang." Di&lt;span style="mso-spacerun: yes"&gt;  &lt;/span&gt;dalam kritiknya ini, ia menggunakan pendapat-pendapat dari Zeno, Einstein, Ouspensky dan Whitehead. Menurut Muhammad Iqbal, adalah Einstein dengan teori relativitasnya yang memberikan kritik paling keras terhadap konsepsi materi di dalam materialisme dan ilmu alam tradisional. Menurut Einstein, materi itu adalah bukan sesuatu yang diam dengan keadaan yang berubah-ubah, melainkan adalah suatu sistem kejadian-kejadian yang saling berhubungan. Ouspensky kemudian menambahkan satu unsur yang nampaknya tidak ada di dalam teori Enstein tersebut. Dengan menambahkan "satu dimensi yang membagi-bagi peristiwa-peristiwa di dalam tata susunan ganti-berganti," Ouspensky menambahkan unsur waktu ke dalam "sistem peristiwa-peristiwa Einstein". Sayangnya, Ouspensky terjebak dengan mengatakan bahwa waktu itu sama seperti dimensi-dimensi ruangnya Euclides. Adapun pendapat Whitehead mengenai alam, yang dikatakannya sebagai "suatu struktur peristiwa-peristiwa yang memiliki sifat mengalir terus-menerus secara kreatif," nampaknya adalah yang paling dekat dengan konsepsi Muhammad Iqbal tentang alam dan materi. Di dalam istilah Whitehead, pengertian "materi" diganti seluruhnya dengan pengertian "organisme." &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: 37.4pt; MARGIN: 0in 0in 0pt; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Menurut Muhammad Iqbal, pengembangan manusia mesti dengan memperhitungkan kondisi-kondisi fisik yang merupakan prasyarat bagi kegiatan yang dilakukannya dengan penuh kesadaran. Muhammad Iqbal menganjurkan agar memanfaatkan sumber-sumber material guna pencapaian berbagai tujuan spritual yang paling tinggi. Tegasnya, nilai-nilai spritual tidak dapat dimiliki begitu saja tanpa bersentuhan dengan dunia materi. Dunia idea dan realita bukanlah dua dimensi yang bertentangan. Pemantapan dunia ruhani menuntut kesedian menerima dunia materi. Oleh karena itu, dunia materi mestilah dijadikan bahan dalam rangka pengembangan diri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: 37.4pt; MARGIN: 0in 0in 0pt; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Muhammad Muhammad Iqbal menjelaskan dalam sya`irnya seperti berikut:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: 37.4pt; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Wahai Hati tangkaplah rahasia hidup pada intinya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: 37.45pt; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Realita menampakkan diri dalam penampilannya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: 37.45pt; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Namun ia tumbuh dari kegelapan Bumi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: 37.45pt; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Sambil menggamit pancaran sinar mentari&lt;a style="mso-footnote-id: ftn14" title="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4134222016972542877#_ftn14" name="_ftnref14"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="FONT-FAMILY: 'Times New Roman'; FONT-SIZE: 12pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA" lang="IN"&gt;[14]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 23pt; MARGIN: 0in 0in 0pt; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Pengalaman manusia dalam tingkatan hidup&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: 37.4pt; MARGIN: 0in 0in 0pt; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Di dalam pembahasannya mengenai pengalaman di tingkatan hidup, Muhammad Iqbal mengkritik konsep mekanisme di dalam kehidupan. Menurut Muhammad Iqbal, dengan mengikuti pendapat dari J.S. Haldane, perbedaan antara sebuah mesin dengan sebuah organisme hidup adalah bahwa yang terakhir ini bersifat memelihara dan mereproduksi diri sendiri. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: 37.4pt; MARGIN: 0in 0in 0pt; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Adapun proses reproduksi dan pemeliharaan diri sendiri ini tidak bisa ditafsirkan sebagai suatu proses yang bersifat mekanis. Kemudian Muhammad Iqbal dengan menggunakan pendapat Wildon Carr, juga mengatakan bahwa konsep mekanistik di dalam kehidupan, memastikan adanya pandangan bahwa intelek itu merupakan hasil suatu evolusi, tetapi justru pandangan adanya evolusi intelek itu berkontradiksi dengan pandangan mekanistik tentang kehidupan, karena "bagaimana mungkin, intelek yang merupakan alat untuk memahami realitas itu sendiri merupakan evolusi dari sesuatu yang adanya hanya sebagai hasil abstraksi dari alat untuk pemahaman yang tidak bisa lain adalah intelek itu." Lebih jauh lagi, suatu intelek yang berevolusi akan bersifat nisbi terhadap aktivitas yang mengevolusikannya, yang menurut ilmu alam tradisional bersifat mekanistik. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 23pt; MARGIN: 0in 0in 0pt; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Pengalaman manusia di tingkat kesadaran&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: 37.4pt; MARGIN: 0in 0in 0pt; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Di dalam pembahasannya mengenai pengalaman di tingkatan kesadaran, Muhammad Iqbal menemukan bahwa manusia, merasakan dan menyadari hidupnya ada di dalam waktu. Dalam kata-kata Bergson, "saya melalui keadaan demi keadaan, saya pun tak henti-hentinya berubah,." Oleh karena itu, sama dengan kesadaran kita, "eksistensi yang sadar berarti kehidupan di dalam waktu." &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: 37.4pt; MARGIN: 0in 0in 0pt; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Adapun jika dikaitkan pula dengan teori perubahan yang dikemukakan oleh Jacques Lacan dengan teori cermin yang menunjukkan perubahan dalam diri manusia dengan berpolakan identifikasi dan aliensi imajiner, memperlihatkan pola analisis yang memiliki kemiripan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: 37.4pt; MARGIN: 0in 0in 0pt; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Psikoanalisis yang dikembangkan Jacques Lacan pada tahun 1936 menyebutkan, bahwa tahap awal perubahan manusia terlihat sebagai tahap cermin (&lt;i&gt;miror stage)&lt;/i&gt; yang memberi konstribusi pada teori psikoanalisis dengan konsep register imajiner. Teori perubahan dalam konteks ini mengaksentuasikan proses perubahan manusia melalui identifikasi atas bayangan dirinya sendiri sebagai orang lain, sehingga seorang anak dalam tahap ini menempatkan bayangan dirinya pada orang lain dan orang lain sebagai dirinya.&lt;a style="mso-footnote-id: ftn15" title="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4134222016972542877#_ftn15" name="_ftnref15"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="FONT-FAMILY: 'Times New Roman'; FONT-SIZE: 12pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA" lang="IN"&gt;[15]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: 37.4pt; MARGIN: 0in 0in 0pt; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Ego dalam menciptakan perubahan dirinya dengan pergerakan wilayah imajiner&lt;a style="mso-footnote-id: ftn16" title="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4134222016972542877#_ftn16" name="_ftnref16"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="FONT-FAMILY: 'Times New Roman'; FONT-SIZE: 12pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA" lang="IN"&gt;[16]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; ke wilyah simbolik sebagai register,&lt;a style="mso-footnote-id: ftn17" title="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4134222016972542877#_ftn17" name="_ftnref17"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="FONT-FAMILY: 'Times New Roman'; FONT-SIZE: 12pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA" lang="IN"&gt;[17]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; ditempatkan oleh Jacques Lacan sebagai pola seseorang dalam menciptakan ikatan sosial atau keterkaitan simbolik yang dapat mengatasi karakteristik erotik-agresif dalam hubungan ego dengan ego pada register imajiner.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: 37.4pt; MARGIN: 0in 0in 0pt; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Oleh ego yang efisien, keadaan-keadaan yang melintasi kesadaran kita dipotong-potong, sehingga waktu yang kita rasakan dengan ego ini adalah waktu serial, yaitu waktu yang terpotong-potong, yang sering kita ekspresikan dengan kata-kata "lama," "sebentar," "panjang" atau "pendek." Adapun sebaliknya, ego yang apresiatif meleburkan dan menyatukan keadaan-keadaan yang melintasi kesadaran kita, sehingga waktu yang dirasakan dengan ego ini adalah waktu yang merupakan "kesatuan yang organis," yang disebut oleh Muhammad Iqbal dengan "duration (perlangsungan waktu) yang murni." Di dalam perlangsungan waktu yang murni, masa lampau "bergerak bersama dan berlangsung dalam masa kini," sedangkan masa depan hadir secara langsung "sebagai suatu kemungkinan yang terbuka." &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: 37.4pt; MARGIN: 0in 0in 0pt; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Setiap saat di dalam kehidupan realitas adalah asli dan baru. Berada di dalam "duration" yang murni, tidaklah berarti "diikat oleh rantai waktu yang berurutan, melainkan menciptakannya dari ”saat ke saat”, serta merdeka dan asli sama sekali dalam penciptaan." &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: 37.4pt; MARGIN: 0in 0in 0pt; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Sama dengan pengalaman kesadaran, alam semesta adalah "merupakan suatu gerakan kreatif yang merdeka." Apa yang dinamakan sebagai "benda-benda adalah kejadian-kejadian dalam kelanjutan alam." Alam semesta yang seolah-olah merupakan sekumpulan benda-benda, sebenarnya adalah suatu kegiatan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: 37.4pt; MARGIN: 0in 0in 0pt; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Walaupun Muhammad Iqbal di dalam pembahasannya mengenai pengalaman di tingkatan kesadaran ini sedikit banyaknya menggunakan pendapat dari Hendri Bergson, tetapi ia juga mengkritik beberapa pendapat dari Bergson. Salah satu kritiknya yang penting adalah terhadap penyangkalan Bergson atas sifat teleologis dari realitas. Penyangkalan Bergson tersebut didasarkan atas alasan bahwa sifat teleologis akan menyebabkan waktu menjadi tidak nyata, sehingga realitas menjadi tidak kreatif dan merdeka. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: 37.4pt; MARGIN: 0in 0in 0pt; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Menurut Muhammad Iqbal, alasan dari penyangkalan Bergson tersebut adalah benar apabila apa yang dimaksudkan sebagai "teleologi" adalah "pelaksanaan suatu rencana dengan melihat suatu tujuan yang sudah ditentukan sebelumnya." Tetapi permasalahannya adalah bahwa ada pengertian teleologi yang lain. Pengertian teleologi yang lain ini adalah gerak maju ke depan yang bersifat sadar dan kreatif. Dan ini tidak lain adalah arus dinamika manusia dalam berbuat dan berkreasi dengan dasar masa lalu dan sekarang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: 37.4pt; MARGIN: 0in 0in 0pt; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Menurut Muhammad Iqbal, realitas bersifat teleologis atau bertujuan bukan dalam arti bahwa ia hanya pelaksana dari suatu tujuan yang sudah ditetapkan sebelumnya, tetapi "dalam arti bahwa sifatnya sangat selektif, dan menuju pada semacam pencapaian di masa-kini dengan secara aktif memelihara serta memperlengkapi masa-lalu." &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: 37.4pt; MARGIN: 0in 0in 0pt; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Berdasarkan pembahasan Muhammad Iqbal mengenai pengalaman dalam tingkatan kesadaran ini, memperlihatkan bahwa realitas yang sebenarnya adalah suatu perlangsungan waktu yang murni, yang merupakan gerak dari pada suatu ego. Sebagai suatu ego, kodrat realitas yang bersifat rohaniah. Adapun alam, yang ditunjukkan oleh pembahasan Muhammad Iqbal mengenai pengalaman di tingkatan materi sebagai suatu struktur peristiwa-peristiwa, adalah merupakan semacam watak atau cara tata laku yang seragam dari ego tersebut. Dengan kata lain, alam adalah merupakan kegiatan kreatif dari ego tersebut. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: 37.4pt; MARGIN: 0in 0in 0pt; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Teori &lt;i&gt;Khudi&lt;/i&gt; Muhammad Iqbal ini, membawa dirinya berkesimpulan bahwa "Realitas yang terakhir" adalah suatu Ego kreatif yang terarah secara rasional. Adapun untuk menekankan individualitas dari pada Ego kreatif tersebut, Al-Qur'an menyebutnya dengan nama "Allah."&lt;a style="mso-footnote-id: ftn18" title="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4134222016972542877#_ftn18" name="_ftnref18"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="FONT-FAMILY: 'Times New Roman'; FONT-SIZE: 12pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA" lang="IN"&gt;[18]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: 37.4pt; MARGIN: 0in 0in 0pt; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Lantas, bagaimana Muhammad Iqbal sampai kepada suatu konsep, bahwa manusia dapat mencapai Tuhannya lewat pengalaman? Muhammad Iqbal mencapai &lt;span style="mso-spacerun: yes"&gt; &lt;/span&gt;konsepsinya yang terakhir mengenai Tuhan melalui penelitian dan penafsiran atas pengalaman manusia. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: 37.4pt; MARGIN: 0in 0in 0pt; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Menurut Muhammad Iqbal, Al-Qur'an telah memberikan petunjuk bahwa pengalaman merupakan perlambang dari suatu realitas yang digambarkan sebagai "Yang Pertama dan Yang Terakhir, Yang Terlihat dan Yang Tak Terlihat." Adapun Filsafat Muhammad Iqbal Tentang Tuhan. Di atas tadi telah dijelaskan dengan ringkas mengenai konsepsi Muhammad Iqbal tentang Tuhan secara umum, dan bagaimana ia bisa mencapai konsep tersebut melalui suatu analisa terhadap pengalaman manusia. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: 37.4pt; MARGIN: 0in 0in 0pt; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Isu penting berkenaan dengan Tuhan ini, Muhammad Iqbal membahas persoalan (1). Individualitas Tuhan; (2). Kreativitas Tuhan; (3). Kekekalan Tuhan; (4). Pengetahuan Tuhan, dan (5). Keakbaran Tuhan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: 37.4pt; MARGIN: 0in 0in 0pt; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Dalam hubungannya dengan individualitas Tuhan, Muhammad Iqbal membahas dua hal yang berhubungan dengan konsep "individualitas" secara umum, yaitu reproduksi dan keterbatasan. Mengenai yang pertama, Muhammad Iqbal berpendapat bahwa suatu individualitas yang sempurna tidak mungkin berproduksi atau dalam kata-kata Bergson, "meletakkan lawannya dalam dirinya sendiri,"karena hal itu akan berkontradiksi dengan sifat-Nya sendiri sebagai suatu individualitas yang sempurna, yaitu "tertutup sebagai suatu ego, khas dan unik." Oleh karena itu Ego yang sempurna" harus dilukiskan sebagai sesuatu yang berada di atas pengaruh antagonisme reproduksi." &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: 37.4pt; MARGIN: 0in 0in 0pt; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Adapun mengenai hal yang kedua, Muhammad Iqbal mengkritik pandangan umum yang mengatakan bahwa suatu individualitas bersifat terbatas dalam hubungannya dengan individualitas yang lain. Pandangan seperti ini, menurut Muhammad Iqbal, muncul karena ketidakterbatasan dibayangkan secara ruang dan waktu. Padahal ketidakterbatasan secara ruang dan waktu itu tidak pernah ada, karena ruang dan waktu itu sendiri bersifat tidak mutlak, dalam artian bahwa ruang dan waktu—seperti yang telah dijelaskan sebelumnya—adalah merupakan suatu struktur peristiwa-peristiwa yang saling berhubungan dan ganti berganti. Oleh karena itu Muhammad Iqbal kemudian berkesimpulan bahwa Tuhan sebagai suatu individualitas bersifat tak terbatas, tetapi tidak secara ruang dan waktu, melainkan ketidakterbatasan-Nya itu terletak pada kemungkinan-kemungkinan batin dari aktivitas kreatif-Nya. Adapun ruang dan waktu adalah merupakan kemungkinan-kemungkinan dari Tuhan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: 37.4pt; MARGIN: 0in 0in 0pt; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Mengenai kreativitas Tuhan, Muhammad Iqbal berpendapat bahwa kegiatan penciptaan alam oleh Tuhan tidaklah seperti kegiatan mencipta dari sebuah pabrik, yang mana bersifat menghasilkan "sesuatu" dari "sesuatu yang lain," dan kemudian hasil penciptaan itu berdiri secara independen dari penciptanya. Adapun kegiatan penciptaan alam oleh Tuhan itu adalah secara terus menerus, tidak pernah berhenti, karena keberadaan alam—yang sebenarnya adalah suatu struktur peristiwa-peristiwa yang saling berhubungan dan ganti berganti—itu tergantung dari kegiatan penciptaan Tuhan. Di dalam paham teologi Asy'ari dinyatakan bahwa kelanjutan adanya suatu atom itu tergantung dari penciptaan aksiden-aksiden secara terus menerus di dalam atom tersebut. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: 37.4pt; MARGIN: 0in 0in 0pt; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Walaupun Muhammad Iqbal membenarkan beberapa hal di dalam paham teologi Asy'ari mengenai masalah penciptaan atom ini, tetapi ia mengubah atomisme Asy'ari menjadi suatu paham pluralisme rohaniah. Ia mengatakan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini, termasuk atom, sebenarnya adalah suatu ego dan segala macam ego yang ada adalah merupakan pewedaran diri dari Tuhan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: 37.4pt; MARGIN: 0in 0in 0pt; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Mengenai masalah kekekalan Tuhan, Muhammad Iqbal membahasnya di dalam kaitannya dengan waktu. Muhammad Iqbal mengkritik para pemikir yang mencoba untuk memahami waktu dengan menggunakan suatu metode yang obyektif, karena metode ini hanya dapat menangkap waktu yang bersifat serial dan terpotong-potong. Ia kemudian mencoba untuk memahami waktu melalui suatu analisa psikologi. Melalui analisa ini—seperti yang telah dijelaskan sebelumnya—, Muhammad Iqbal mendapatkan dua macam waktu, yaitu waktu serial dan perlangsungan waktu yang murni, yang masing-masing dipahami oleh ego yang efisien dan ego yang apresiatif. Ego yang apresiatif hidup di dalam perlangsungan waktu yang murni dan merupakan suatu "perubahan tanpa urutan ganti-berganti." Apabila kita menganalogikan kehidupan Tuhan berdasarkan kehidupan ego terbatas, maka "waktu dan Ego Terakhirpun akan nampak sebagai perubahan tanpa urutan ganti-berganti." Inilah yang disebut dengan kekekalan Tuhan, yaitu kehidupan-Nya yang merupakan "perubahan tanpa urutan ganti-berganti," kehidupan-Nya di dalam perlangsungan waktu yang murni.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 23pt; MARGIN: 6pt 0in 0pt; tab-stops: 31.5pt; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes"&gt; &lt;/span&gt;4. Manusia dan Prinsip Ketauhidan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: 37.4pt; MARGIN: 0in 0in 0pt; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Pandangan paling fundamental tentang hubungan manusia, alam dan Tuhan dalam Islam adalah prinsip ketauhidan yang memberikan isyarat kebermaknaan penyatuan dan keselarasan hubungan di antara semua unsur yang ada. Mengenai pengetahuan Tuhan, Muhammad Iqbal berpendapat bahwa pengetahuan Tuhan bukanlah merupakan pengetahuan yang diskursif, di mana pengetahuanadalah "suatu proses temporal yang bergerak disekeliling sesuatu 'yang&lt;br /&gt;lain', yang dianggap ada secara per se dan berhadap-hadapan dengan ego yang mengetahui." Pengetahuan Tuhan juga bukanlah seperti yang digambarkan oleh Djalaluddin Dawani, Iraqi dan Prof. Royce, di mana pengetahuan Tuhan adalah "suatu tindak mempersepsikan yang tunggal dantak terbagi-bagi, yang membuat Tuhan dengan secara langsung tahu mengenai semesta sejarah." Pengetahuan Tuhan, menurut Muhammad Iqbal, adalah suatu bentuk pengetahuan yang aktif, di mana obyek pengetahuan bukanlah merupakan sesuatu yang terpisah dan menjadi sumber pengetahuan bagi subyek, melainkan sesuatu yang berasal dan tercipta dari pengetahuan&lt;br /&gt;subyek. Pengetahuan-Nya adalah "suatu kegiatan yang didalamnya mengetahui dan mencipta adalah satu. Mengenai keakbaran Tuhan, Muhammad Iqbal menyatakan bahwa kemahakuasaan Tuhan itu berhubungan erat dengan kebijaksanaan-Nya. Kemahakuasaan Tuhan, menurut Muhammad Iqbal tidak merupakan suatu kekuasaan yang buta dan serampangan, tetapi justru "menampakkan diri dalam hal-hal yang teratur, yang baru dan tersusun." Dengan demikian, kekuasaan dan iradah Tuhan itu bersifat baik. Tetapi timbul permasalahan di sini. Apabila kekuasaan Tuhan itu bersifat baik, mengapa kejahatan itu adalah sesuatu yang nyata adanya di dunia ini? Muhammad Iqbal menjawab hal ini dengan menghubungkannya kepada konsep kebebasan memilih dari manusia. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: 37.4pt; MARGIN: 0in 0in 0pt; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Menurut Muhammad Iqbal, Tuhan menganugerahkan kemerdekaan untuk memilih kepada manusia, sehingga manusia bisa memilih apa yang "baik" dan apa yang "sebaliknya dari baik." Pilihan manusia terhadap sesuatu yang "sebaliknya dari baik" itulah yang dinamakan "kejahatan." Konsep "kebaikan" dan "kejahatan" itu sendiri nampaknya hanya berlaku pada manusia. Kedua konsep tersebut bukanlah sesuatu yang terpisah satu sama lain, tetapi terletak di dalam keseluruhan yang sama, dan harus dipahami di dalam hubungan satu sama lain. Adapun di dalam Al-Qur'an, menurut Muhammad Iqbal, terdapat suatu meliorisme, "yang mengakui adanya suatu alam semesta yang tumbuh, dan dijiwai oleh harapan bahwa pada akhirnya manusia akan mengalahkan kejahatan. Pendeknya, Tuhan mengajari dan menunjuki manusia lewat kebebasan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: 37.4pt; MARGIN: 0in 0in 0pt; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 23pt; MARGIN: 0in 0in 0pt; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;E. Pendidikan berwawasan Perubahan&lt;span style="mso-spacerun: yes"&gt;  &lt;/span&gt;Masyarakat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: 0.5in; MARGIN: 6pt 0in 0pt; tab-stops: 31.5pt; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Muhammad Iqbal&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes"&gt; &lt;/span&gt;menyebutkan, bahwa tujuan pendidikan adalah mampu membangun dunia bagi masyarakat dengan menggunakan kemampuan akal, indra dan intuisi&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;. Oleh karena itu ketiga aspek ini mesti tertuang dalam kurikulum&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes"&gt; &lt;/span&gt;pendidikan itu. Pendidikan harus menjadikan subjek didiknya mampu menggunakan ilmu pengetahuan yang diperolehnya sebagai wahana bagi perealisasian nilai-nilai spritual.&lt;a style="mso-footnote-id: ftn19" title="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4134222016972542877#_ftn19" name="_ftnref19"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="FONT-FAMILY: 'Times New Roman'; FONT-SIZE: 12pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA" lang="IN"&gt;[19]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Pendidikan menurutnya mesti mampu memandang situasi aktual dengan tidak melihat manusia secara sebahagian-bagian. Pendidikan baru harus mampu menjadikan ilmu-ilmu pengetahuan sebagai wahana bagi realisasi nilai-nilai spritual. Untuk itu perlu adanya upaya integrasi intelektual&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes"&gt; &lt;/span&gt;dan cinta, sebab hidup bukanlah rutinitas, tetapi seni yang kreatif, konstruktif dan inovatif.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: 0.5in; MARGIN: 6pt 0in 0pt; tab-stops: 31.5pt; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Muhammad Iqbal&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes"&gt; &lt;/span&gt;dalam hal ini mengungkapkan, bahwa pendidikan terbaik yang sesuai dengan watak manusia adalah pendidikan yang mengaksentuasikan aktivitasnya pada pemberikan pengetahuan kepada subjek didik&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes"&gt; &lt;/span&gt;melalui metode &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;problem solving&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;, yakni suatu cara yang efektif untuk melatih berpikir kreatif, kritis dan inovatif. Dengan cara ini menurutnya dapat membentuk cakrawala berpikir subjek didik sedemikian rupa sehingga menjadi manusia-manusia yang tanggap akan berbagai problematika kehidupannya dalam masyarakat.&lt;a style="mso-footnote-id: ftn20" title="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4134222016972542877#_ftn20" name="_ftnref20"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="FONT-FAMILY: 'Times New Roman'; FONT-SIZE: 12pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA" lang="IN"&gt;[20]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: 37.4pt; MARGIN: 0in 0in 0pt; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Untuk menentukan jenis dan corak pendidikan sangat tergantung pada cara pandang seseorang atau sekelompok orang tentang watak sejarah yang dapat melahirkan perkembangan dan kemajuan individu dan masyarakat ke arah kesempurnaan. Muhammad Iqbal dalam hal ini memandang bahwa sejarah adalah watak kehidupan yang dapat mengungkap kembali serta merekonstruksi pengalaman masa lalu untuk menemukan pola dan strategi baru dalam mengadakan perbaikan-perbaikan dan perubahan-perubahan dalam diri individu ataupun sosial. Dalam hal ini Muhammad Iqbal mengungkap dengan sya`irnya seperti berikut:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: 37.45pt; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Apakah gerangan sejarah itu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: 37.45pt; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Wahai kelana, yang asing bagi dirinya sendiri&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: 37.45pt; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Bukan sekedar kisah, bukan cerita ataupun fabel&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: 37.45pt; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Sejarah itu mampu menggugah kesadaran pada dirimu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: 37.45pt; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Tangkas dalam bertindak, cermat dalam melacak&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: 37.45pt; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Sejarah itu mampu mempertajam tilikan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: 37.45pt; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Laksana mengasah pedang pada gurinda&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: 37.45pt; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Dan kemudian mengujimu di kancah wajah duniamu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: 37.45pt; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Pandanglah dengan tajam&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: 37.45pt; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Kilatan sinar dalam apinya terpendam&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: 37.45pt; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Tantanglah hari esok&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: 37.45pt; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Yang hari itu tergolek&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: 37.45pt; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Kilatan sjarah penaka bintang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: 37.45pt; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Penunjuk arah ke masa Bangsa gemilang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: 37.45pt; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Menerangi malam ini dan malam-malam masa silam&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: 37.45pt; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Mata yang terbiasa menatap kemilau masa lampau&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: 37.45pt; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Niscaya bisa menciptakannya kembali di masa kini&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: 37.45pt; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Gumulilah sejarah dan tumbuhkembangkanlah dengan tabah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: 37.45pt; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Galilah kehidupan dari detik-detik yang telah lalu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: 37.45pt; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Hari ini lahir di pangkuan hari kemaren&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: 37.45pt; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Hari ini menonggak hari esok&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: 37.45pt; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Bila engkau ingin meraih kehidupan nan abadi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: 37.45pt; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Jangan putuskan pautan dulu, kini dan kelak&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: 37.45pt; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Hidup adalah menangkap gelombang zaman&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: 37.45pt; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Yang terus beriak dan bergerak&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: 37.45pt; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Bagaikan anggur yang membuih meruah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: 37.45pt; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Dalam gelas si haus melimpah&lt;a style="mso-footnote-id: ftn21" title="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4134222016972542877#_ftn21" name="_ftnref21"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="FONT-FAMILY: 'Times New Roman'; FONT-SIZE: 12pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA" lang="IN"&gt;[21]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: 31.7pt; MARGIN: 6pt 0in 0pt; tab-stops: 31.5pt; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Mengingat tujuan pendidikan mestilah pula diorientasikan untuk&lt;span style="mso-spacerun: yes"&gt;  &lt;/span&gt;membangun dunia bagi masyarakat dengan menggunakan kemampuan akal, indra dan intuisi. Ketiga&lt;span style="mso-spacerun: yes"&gt;  &lt;/span&gt;aspek ini mesti tertuang dalam kurikulum&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes"&gt; &lt;/span&gt;pendidikan. Hal ini menjadi penting mengingat ilmu pengetahuan yang diperoleh subjek didik di lembaga pendidikan adalah sebagai wahana bagi perealisasian nilai-nilai spritual&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;. Untuk itu perlu adanya upaya integrasi&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes"&gt; &lt;/span&gt;intelektual dan cinta sedemikian ruga agar pencarian ilmu pengetahuan benar-benar dilakukan dengan penuh kesadaran&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes"&gt; &lt;/span&gt;dan kenikmatan, sebab hidup bukanlah rutinitas, tetapi seni yang kreatif&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;, konstruktif&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes"&gt; &lt;/span&gt;dan inovatif&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: 31.7pt; MARGIN: 6pt 0in 0pt; tab-stops: 31.5pt; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Muhammad Iqbal&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes"&gt; &lt;/span&gt;dalam hal ini percaya, bahwa gagasan semata tidak akan memberikan pengaruh apa-apa bagi gerak maju kesempurnaan manusia. Suatu gagasan memerlukan penjabaran ke dalam bentuk tindakan nyata, karena memang amal perbuatanlah yang akan membentuk kualitas kemanusiaan. Muhammad Iqbal menegaskan, bahwa hidup sesungguhnya adalah melakukan segala sesuatu yang membawa manfaat bagi kehidupan manusia. Islam dalam hal ini memiliki aturan-aturan yang disusun sedemikian rupa, sehingga individu dan masyarakat mana pun yang melaksanakannya akan dapat memperoleh kemajuan yang paling besar dalam kehidupannya menuju pada kesempurnaan.manusia.&lt;a style="mso-footnote-id: ftn22" title="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4134222016972542877#_ftn22" name="_ftnref22"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="FONT-FAMILY: 'Times New Roman'; FONT-SIZE: 12pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA" lang="IN"&gt;[22]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: 31.7pt; MARGIN: 6pt 0in 0pt; tab-stops: 31.5pt; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Hal yang sama juga diungkapkan oleh John Dewey&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes"&gt; &lt;/span&gt;yang mengungkapkan bahwa ide-ide dan gagasan-gagasan mestilah sesuatu yang dapat diterapkan dalam tindakan-tindakan yang berguna bagi pemecahan berbagai problema yang muncul dalam masyarakat.&lt;a style="mso-footnote-id: ftn23" title="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4134222016972542877#_ftn23" name="_ftnref23"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="FONT-FAMILY: 'Times New Roman'; FONT-SIZE: 12pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA" lang="IN"&gt;[23]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: 37.45pt; MARGIN: 0in 0in 0pt; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Menurut Muhammad Iqbal untuk menciptakan masyarakat baru melalui rekostruksi pendidikan mesti dengan memberikan kesadaran kokoh untuk menanamkan pemahaman bagi pemuda akan pentingnya kecerdasan guna merebut kepentingan individu, melalui prinsip idealisme&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes"&gt; &lt;/span&gt;dan spritualisme.&lt;a style="mso-footnote-id: ftn24" title="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4134222016972542877#_ftn24" name="_ftnref24"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="FONT-FAMILY: 'Times New Roman'; FONT-SIZE: 12pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA" lang="IN"&gt;[24]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Muhammad Iqbal&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes"&gt; &lt;/span&gt;menyebutkan, bahwa kesadaran diri dan individualitas merupakan kata kunci bagi penyempurnaan kemanusiaan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: 37.45pt; MARGIN: 0in 0in 0pt; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Gerak sejarah manusia selalu ditentukan oleh peran ego yang memiliki kebebasan&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes"&gt; &lt;/span&gt;untuk mengekspresikan kebebasan dirinya. Individualitas adalah suatu gerak maju yang menjadi saluran segala objek dan benda. Dengan memperkuat kepribadian&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;, ego manusia dapat menguasai lingkungan dan mendekati ego Tuhan dengan sifat-sifat-Nya, sehingga manusia itu pun mencapai kesempurnaannya.&lt;a style="mso-footnote-id: ftn25" title="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4134222016972542877#_ftn25" name="_ftnref25"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="FONT-FAMILY: 'Times New Roman'; FONT-SIZE: 12pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA" lang="IN"&gt;[25]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Jadi, perubahan sejarah, sangat tergantung pada kualitas individu dalam memahami dan memaknai hakikat hidup. Kondisi ini dalam banyak varian sangat tergantung pada proses pemanusiaan yang diselenggarakan secara efektif dan efisien memang memacu penciptaan sejarah dalam ragam situasi masyarakat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: 37.45pt; MARGIN: 0in 0in 0pt; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 23pt; MARGIN: 6pt 0in 0pt; tab-stops: 31.5pt; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Penutup&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: 37.4pt; MARGIN: 6pt 0in 0pt; tab-stops: 31.5pt; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Dari penjelasan-penjelasan tersebut di atas, dapat dilihat bahwa filsafat khudi Muhammad Iqbal menggambarkan pembentukan jati diri manusia dalam konteks dunia pengalaman manusia. Muhammad Iqbal menekankan, bahwa setiap manusia adalah pribadi yang berdiri sendiri yang membutuhkan pengaktualisasiannya sendiri agar dapat menjadi kepribadian yang sempurna dan utama. Kepribadian yang sempurna bermuara pada penciptaan sifat-sifat Tuhan ke dalam ego yang sejati. Diskursusnya tentang pengalaman indrawi, rasional dan intuisi adalah pengalaman riil ego dalam merealisasikan dirinya di dunia dalam kerangka penciptaan dunia baru yang lebih baik dari sebelumnya meniscayakan menataan pendidikan berwawasan masa depan dengan mempertimbangkan masa lalu dan melihat masa sekarang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: center; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: -0.25in; MARGIN: 0in 0in 0pt 0.25in; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal" align="center"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: center; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: -0.25in; MARGIN: 0in 0in 0pt 0.25in; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal" align="center"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: center; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: -0.25in; MARGIN: 0in 0in 0pt 0.25in; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal" align="center"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;---------&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: center; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: -0.25in; MARGIN: 0in 0in 0pt 0.25in; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal" align="center"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: center; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: -0.25in; MARGIN: 0in 0in 0pt 0.25in; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal" align="center"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: center; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: -0.25in; MARGIN: 0in 0in 0pt 0.25in; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal" align="center"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: center; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: -0.25in; MARGIN: 0in 0in 0pt 0.25in; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal" align="center"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: center; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: -0.25in; MARGIN: 0in 0in 0pt 0.25in; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal" align="center"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: center; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: -0.25in; MARGIN: 0in 0in 0pt 0.25in; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal" align="center"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: center; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: -0.25in; MARGIN: 0in 0in 0pt 0.25in; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal" align="center"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: center; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: -0.25in; MARGIN: 0in 0in 0pt 0.25in; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal" align="center"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: center; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: -0.25in; MARGIN: 0in 0in 0pt 0.25in; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal" align="center"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: center; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: -0.25in; MARGIN: 0in 0in 0pt 0.25in; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal" align="center"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: center; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: -0.25in; MARGIN: 0in 0in 0pt 0.25in; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal" align="center"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: center; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: -0.25in; MARGIN: 0in 0in 0pt 0.25in; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal" align="center"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: center; LINE-HEIGHT: 23pt; TEXT-INDENT: -0.25in; MARGIN: 0in 0in 0pt 0.25in; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal" align="center"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 23pt; MARGIN: 0in 0in 0pt 0.25in; mso-line-height-rule: exactly" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: -37.4pt; MARGIN: 0in 0in 0pt 37.4pt" class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="FONT-SIZE: 12pt; mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Akhtar, Dr. Wahid ”Unsur-Unsur Eksistensialis dalam Pemikiran Muhammad Iqbal” dalam &lt;i&gt;al-Hikmah Jurnal Pencerahan Pemikiran Islam&lt;/i&gt;, Bandung, Maret – Juni 1990&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: -37.4pt; MARGIN: 0in 0in 0pt 37.4pt" class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="FONT-SIZE: 12pt; mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Beilharz, Peter., &lt;i&gt;Teori-Teori Sosial; Observasi Kritis terhadap Para Filosof Terkemuka, &lt;/i&gt;Terj. Sigit Jatmiko, Cet. I, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2002.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: -37.4pt; MARGIN: 0in 0in 0pt 37.4pt" class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="FONT-SIZE: 12pt; mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Cantwell Smith, Wilfred., &lt;i&gt;Modern Islam in India; A Social Analysis, &lt;/i&gt;London: Victor Gollancz, 1946.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: -37.4pt; MARGIN: 6pt 0in 0pt 37.4pt" class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="FONT-SIZE: 12pt; mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Capleston, Frederick S.J., &lt;span style="mso-spacerun: yes"&gt; &lt;/span&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;A History of Philosophy,&lt;/i&gt; Paulist Press, New Jersey, Vol. VIII, 1966.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: -37.4pt; MARGIN: 0in 0in 0pt 37.4pt" class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="FONT-SIZE: 12pt; mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, &lt;i&gt;Ensiklopedi Islam, &lt;/i&gt;Cet. 3, Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 1994&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: -37.4pt; MARGIN: 0in 0in 0pt 37.4pt" class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="FONT-SIZE: 12pt; mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Edwards, Paul (ed), &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;The Encyclopedia of Philosophy&lt;/i&gt;, Macmillan Publishing Co., Inc., New York, Vol. 5 &amp;amp; 6, 1967.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: -37.4pt; MARGIN: 0in 0in 0pt 37.4pt" class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="FONT-SIZE: 12pt; mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Esposito, John L., &lt;i&gt;Ensiklopedi Oxford Dunia Islam Modern, &lt;/i&gt;Jilid 2, Bandung: Mizan, 2002. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: -37.4pt; MARGIN: 6pt 0in 0pt 37.4pt" class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="FONT-SIZE: 12pt; mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Iqbal, Muhammad &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;The Reconstruction of Religious Thought in Islam&lt;/i&gt;, Terj. Ali Audah dkk., Jakarta: Tinta Mas, 1966&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: -37.4pt; MARGIN: 6pt 0in 0pt 37.4pt" class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="FONT-SIZE: 12pt; mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;..........&lt;/span&gt;&lt;span style="FONT-SIZE: 12pt; mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;, &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;Asrar-i Khudi,&lt;/i&gt; Terj. Bahrum Rangkuti, Jakarta: Bulan Bintang, t.t.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: -37.4pt; MARGIN: 0in 0in 0pt 37.4pt" class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="FONT-SIZE: 12pt; mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-INDENT: -37.4pt; MARGIN: 0in 0in 0pt 37.4pt" class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="FONT-SIZE: 12pt; mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;May, Lini S., &lt;i&gt;Iqbal His Life and Time, &lt;/i&gt;Lahore: Ashraf Press, 1974&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: -37.4pt; MARGIN: 6pt 0in 0pt 37.4pt" class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="FONT-SIZE: 12pt; mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Muhmidayeli, ”Moralitas Kependidikan....” dalam &lt;i&gt;al-Fikra Jurnal Ilmiah Keislaman, &lt;/i&gt;Vol. 5 No. 1 Jan-Juni 2006&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: -37.4pt; MARGIN: 0in 0in 0pt 37.4pt" class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="FONT-SIZE: 12pt; mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Muthahhari, Murtadha &lt;i&gt;Masyarakat dan Sejarah; Kritik Islam atas Marxisme dan Teori Lainnya, &lt;/i&gt;Terj. M. Hashem, Cet. III, Bandung: Mizan, 1992,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: -37.4pt; MARGIN: 6pt 0in 0pt 37.4pt" class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="FONT-SIZE: 12pt; mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;Saiyidin, K.G. B.A., M.Ed, &lt;i&gt;Percikikan &lt;/i&gt;Muhammad &lt;i&gt;Filsafat Iqbal Mengenai Pendidikan, &lt;/i&gt;terjemahan M.I. Soelaeman, Bandung: Diponegoro, 1981.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="mso-element: footnote-list"&gt;&lt;br clear="all"&gt;&lt;hr align="left" size="1" width="33%"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="mso-element: footnote" id="ftn1"&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: 37.4pt; MARGIN: 6pt 0in 0pt" class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="mso-footnote-id: ftn1" title="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4134222016972542877#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="FONT-FAMILY: 'Times New Roman'; FONT-SIZE: 10pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-ansi-language: EN-US; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: SV" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Dalam konteks inilah dapat dikatakan bahwa perubahan-perubahan dan kemajuan-kemajuan dalam masyarakat meniscayakan penataan dunia pendidikan sekolah yang bernuansakan progresivitas humanitas, baik dalam hubungannya dengan masyarakat, alam realitas lainnya maupun Tuhan sebagai realitas tertinggi dan abadi. Lihat lebih lanjut Muhmidayeli, ”Moralitas Kependidikan....” dalam &lt;i&gt;al-Fikra Jurnal Ilmiah Keislaman, &lt;/i&gt;Vol. 5 No. 1 Jan-Juni 2006, h. 1-2.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="mso-element: footnote" id="ftn2"&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: 37.4pt; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="mso-footnote-id: ftn2" title="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4134222016972542877#_ftnref2" name="_ftn2"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="FONT-FAMILY: 'Times New Roman'; FONT-SIZE: 10pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-ansi-language: EN-US; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: SV" lang="SV"&gt;Disadur dari dua buah sumber utama, yaitu buku yang ditulis oleh Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, &lt;i&gt;Ensiklopedi Islam, &lt;/i&gt;Cet. 3, (Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 1994) dan buku karya John L. Esposito, &lt;i&gt;Ensiklopedi Oxford Dunia Islam Modern, &lt;/i&gt;Jilid 2, (Bandung: Mizan, 2002). &lt;/span&gt;Dua buku ini penulis anggap cukup refresentatif untuk menggambarkan sosok Muhammad Muhammad Iqbal dalam konteks sejarah pemikiran dan konteks sosio-kultural tempat di mana ia dibesarkan yang diperkirakan turut mempengaruhi model berpikir dan cara pandangnya dalam memandang realitas.&lt;span style="mso-spacerun: yes"&gt;  &lt;/span&gt;Dapat dilihat pada Wilfred Cantwell Smith, &lt;i&gt;Modern Islam in India; A Social Analysis, &lt;/i&gt;(London: Victor Gollancz, 1946) p. 101.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="mso-element: footnote" id="ftn3"&gt;&lt;p style="TEXT-INDENT: 37.4pt; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="mso-footnote-id: ftn3" title="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4134222016972542877#_ftnref3" name="_ftn3"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="FONT-FAMILY: 'Times New Roman'; FONT-SIZE: 10pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-ansi-language: EN-US; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; LIni S. May, &lt;i&gt;Iqbal His Life and Time &lt;/i&gt;(Lahore: Ashraf Press, 1974), p. 61&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="mso-element: footnote" id="ftn4"&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: 37.4pt; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="mso-footnote-id: ftn4" title="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4134222016972542877#_ftnref4" name="_ftn4"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="FONT-FAMILY: 'Times New Roman'; FONT-SIZE: 10pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-ansi-language: EN-US; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Dikutip dari Murtadha Muthahhari, &lt;i&gt;Masyarakat dan Sejarah; Kritik Islam atas Marxisme dan Teori Lainnya, &lt;/i&gt;Terj. M. Hashem, Cet. &lt;span style="mso-ansi-language: SV" lang="SV"&gt;III, Mizan, &lt;?xml:namespace prefix = st1 ns = "urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" /&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Bandung&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;, 1992, h. 101.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="mso-element: footnote" id="ftn5"&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: 37.4pt; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="mso-footnote-id: ftn5" title="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4134222016972542877#_ftnref5" name="_ftn5"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="FONT-FAMILY: 'Times New Roman'; FONT-SIZE: 10pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-ansi-language: EN-US; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: SV" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Sajak Muhammad Iqbal yang dikutip dari tulisan Dr. Wahid Akhtar, ”Unsur-Unsur Eksistensialis dalam Pemikiran Muhammad Iqbal” dalam &lt;i&gt;al-Hikmah Jurnal Pencerahan Pemikiran Islam&lt;/i&gt;, Bandung, Maret – Juni 1990&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="mso-element: footnote" id="ftn6"&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: 0.5in; MARGIN: 6pt 0in 0pt" class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="mso-footnote-id: ftn6" title="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4134222016972542877#_ftnref6" name="_ftn6"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="FONT-FAMILY: 'Times New Roman'; FONT-SIZE: 10pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-ansi-language: EN-US; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: SV" lang="SV"&gt; Muhammad Muhammad Iqbal tidak sepakat dengan pemikiran Plato dan idealisme pada umumnya yang menganggap bahwa ego manusia hanyalah bayangan jiwanya yang merupakan bagian dari Jiwa Yang Abadi, sehingga ego manusia senantiasa berjuang untuk dapat bersatu padu dengan induknya. Bagi Igbal, pandangan semacam ini tidak dapat dijadikan cita moral dan agama. Baginya, tujuan ego selalu berjuang untuk mewujudukan dan mengaktualisasikan dirinya dalam realitasnya, sehingga menjadi kepribadian yang mantap dan kukuh sebagai manusia. &lt;/span&gt;Dapat dilihat dalam &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;The Reconstruction of Religious Thought in Islam&lt;/i&gt;, Terj. &lt;span style="mso-ansi-language: SV" lang="SV"&gt;Ali Audah dkk., Tinta Mas, Jakarta, 1966,&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;h. 4&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="mso-element: footnote" id="ftn7"&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: 0.5in; MARGIN: 6pt 0in 0pt" class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="mso-footnote-id: ftn7" title="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4134222016972542877#_ftnref7" name="_ftn7"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="FONT-FAMILY: 'Times New Roman'; FONT-SIZE: 10pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-ansi-language: EN-US; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: SV" lang="SV"&gt; Muhammad Muhammad Iqbal&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: SV" lang="SV"&gt;, &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;Asrar-i Khudi,&lt;/i&gt; Terj. Bahrum Rangkuti, Bulan Bintang, Jakarta, t.t., h. 119.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="mso-element: footnote" id="ftn8"&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: 37.4pt; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="mso-footnote-id: ftn8" title="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4134222016972542877#_ftnref8" name="_ftn8"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="FONT-FAMILY: 'Times New Roman'; FONT-SIZE: 10pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-ansi-language: EN-US; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA"&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: SV" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Muhammad Iqbal, &lt;i&gt;Asrar-i Khudi, &lt;/i&gt;35-36 yang dikutip dari K.G. Saiyidin, B.A., M.Ed, &lt;i&gt;Percikikan Filsafat Iqbal Mengenai Pendidikan, &lt;/i&gt;terjemahan M.I. Soelaeman, (Bandung: Diponegoro, 1981), p. 29.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="mso-element: footnote" id="ftn9"&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: 37.4pt; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="mso-footnote-id: ftn9" title="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4134222016972542877#_ftnref9" name="_ftn9"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="FONT-FAMILY: 'Times New Roman'; FONT-SIZE: 10pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-ansi-language: EN-US; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA"&gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: SV" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Puisi Muhammad Iqbal yang diambil dari catatan K.G. Saiyidin, B.A., M.Ed, &lt;i&gt;Percikikan Filsafat Iqbal Mengenai Pendidikan, &lt;/i&gt;terjemahan M.I. Soelaeman, Diponegoro, Bandung, 1981, h. 26.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="mso-element: footnote" id="ftn10"&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: 0.5in; MARGIN: 6pt 0in 0pt" class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="mso-footnote-id: ftn10" title="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4134222016972542877#_ftnref10" name="_ftn10"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="FONT-FAMILY: 'Times New Roman'; FONT-SIZE: 10pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-ansi-language: EN-US; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA"&gt;[10]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Muhammad Iqbal, &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;The Reconstruction of Religious Thought in Islam&lt;/i&gt;, Terj. &lt;span style="mso-ansi-language: SV" lang="SV"&gt;Ali Audah dkk., Tinta Mas, Jakarta, 1966,&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;h. xx&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="mso-element: footnote" id="ftn11"&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: 0.5in; MARGIN: 6pt 0in 0pt" class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="mso-footnote-id: ftn11" title="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4134222016972542877#_ftnref11" name="_ftn11"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="FONT-FAMILY: 'Times New Roman'; FONT-SIZE: 10pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-ansi-language: EN-US; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA"&gt;[11]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: SV" lang="SV"&gt; Muhammad Iqbal&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: SV" lang="SV"&gt;, &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;Asrar I Khudi,&lt;/i&gt; Terj. Bahrum Rangkuti, Bulan Bintang, Jakarta, t.t., h. 119.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="mso-element: footnote" id="ftn12"&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: 0.5in; MARGIN: 6pt 0in 0pt" class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="mso-footnote-id: ftn12" title="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4134222016972542877#_ftnref12" name="_ftn12"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="FONT-FAMILY: 'Times New Roman'; FONT-SIZE: 10pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-ansi-language: EN-US; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA"&gt;[12]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Lihat &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;Ibid.,&lt;/i&gt; h. 145.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="mso-element: footnote" id="ftn13"&gt;&lt;p style="TEXT-INDENT: 37.4pt; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="mso-footnote-id: ftn13" title="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4134222016972542877#_ftnref13" name="_ftn13"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="FONT-FAMILY: 'Times New Roman'; FONT-SIZE: 10pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-ansi-language: EN-US; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA"&gt;[13]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: SV"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;i&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Ibid., &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="SV"&gt;h. 131&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="mso-element: footnote" id="ftn14"&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: 37.4pt; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="mso-footnote-id: ftn14" title="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4134222016972542877#_ftnref14" name="_ftn14"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="FONT-FAMILY: 'Times New Roman'; FONT-SIZE: 10pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-ansi-language: EN-US; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA"&gt;[14]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: SV" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Muhammad Muhammad Iqbal seperti dikutip K.G.Saiyidain dari ”Payam-i-Masyriq”,&lt;span style="mso-spacerun: yes"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;i&gt;Percikan Filsafat Iqbal mengenai Pendidikan, &lt;/i&gt;, Terj. M.I. Soelaeman, Diponegoro, Bandung, 1981, h. 64&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="mso-element: footnote" id="ftn15"&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: 37.4pt; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="mso-footnote-id: ftn15" title="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4134222016972542877#_ftnref15" name="_ftn15"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="FONT-FAMILY: 'Times New Roman'; FONT-SIZE: 10pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-ansi-language: EN-US; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA"&gt;[15]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: SV" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Peter Beilharz, &lt;i&gt;Teori-Teori Sosial; Observasi Kritis terhadap Para Filosof Terkemuka, &lt;/i&gt;Terj. Sigit Jatmiko, Cet. I, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2002, h. 247-248.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="mso-element: footnote" id="ftn16"&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: 37.4pt; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="mso-footnote-id: ftn16" title="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4134222016972542877#_ftnref16" name="_ftn16"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="FONT-FAMILY: 'Times New Roman'; FONT-SIZE: 10pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-ansi-language: EN-US; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA"&gt;[16]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: SV" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Wilayah imajiner yang dimaksudkannya di sini adalah bahwa seseorang dalam melakukan perubahan bergerak berdasarkan suatu imaji yang merupakan bayangan terhadap dirinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="mso-element: footnote" id="ftn17"&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: 37.4pt; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="mso-footnote-id: ftn17" title="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4134222016972542877#_ftnref17" name="_ftn17"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="FONT-FAMILY: 'Times New Roman'; FONT-SIZE: 10pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-ansi-language: EN-US; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA"&gt;[17]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: SV" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Wilayah simbolik sebagai register yang dimaksudkan di sini aalah suatu bentuk pola yang mengkombinasikan antara konsep linguistik tentang ujaran dengan dealektika tuan-hamba yang dikembangkan oleh Hegel. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="mso-element: footnote" id="ftn18"&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: 37.4pt; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="mso-footnote-id: ftn18" title="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4134222016972542877#_ftnref18" name="_ftn18"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="FONT-FAMILY: 'Times New Roman'; FONT-SIZE: 10pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-ansi-language: EN-US; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA"&gt;[18]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: SV"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;span lang="SV"&gt;Konsepsi Muhammad Iqbal tentang Tuhan ini, begitu pula dengan filsafatnya secara keseluruhan, menurut M.M. Syarif, dapat dibagi menjadi tiga periode. Pada periode yang pertama, yang berlangsung dari tahun 1901 sampai kira-kira tahun 1908, Tuhan diyakini oleh Muhammad Iqbal sebagai suatu "Keindahan Abadi, yang ada tanpa tergantung pada dan mendahului segala sesuatu, dankarena itu menampakkan diri dalam semuanya itu." Tuhan juga adalah penyebab gerak segala sesuatu. Adapun seluruh kemaujudan (eksistensi) selain Tuhan bersifat fana. Pada periode yang kedua, yang berlangsung kira-kira dari tahun 1908 sampai 1920, konsepsinya mengenai Tuhan dibimbing oleh filsafatnya tentang pribadi (philosophy of the self). Tuhan adalah "Pribadi Mutlak, Ego Tertinggi," suatu Kemauan Abadi yang Esa. Keindahan pada periode ini direduksi menjadi suatu sifat Tuhan. Kemudian ia menyatakan bahwa Tuhan tidak menyatakan dirinya di dalam dunia yang terinderai, melainkan di dalam pribadi terbatas—hal ini mungkin merupakan implikasi dari pada konsepsinya tentang dunia yang terinderai, yang dikatakannya sebagai ciptaan dari pribadi terbatas, bentukan dari hasrat-hasrat manusia. Oleh karena itu, maka usaha untuk mencari dan mendekatkan diri kepada-Nya hanya dimungkinkan lewat pribadi. Dengan menemukan Tuhan, seseorang tidak boleh terserap ke dalam Tuhan dan membiarkan dirinya menjadi tiada, tetapi sebaliknya ia harus menyerap Tuhan ke dalam dirinya. Periode yang ketiga, yang berlangsung kira-kira dari tahun 1920 sampai dengan meninggalnya Muhammad Iqbal pada tahun 1938, merupakan masa kematangan dari pemikiran Muhammad Iqbal. Konsepsi Tuhan sebagai suatu pribadi masih menonjol, tetapi filsafat perubahannya lebih menonjol lagi. Pada periode ini, secara umum Tuhan digambarkan oleh Muhammad Iqbal sebagai suatu Ego kreatif yang terarah secara rasional.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="mso-element: footnote" id="ftn19"&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: 0.5in; MARGIN: 6pt 0in 0pt" class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="mso-footnote-id: ftn19" title="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4134222016972542877#_ftnref19" name="_ftn19"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="FONT-FAMILY: 'Times New Roman'; FONT-SIZE: 10pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-ansi-language: EN-US; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA"&gt;[19]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Smith Wilfred Cantwel, &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;Op. Cit., &lt;/i&gt;h. 146.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="mso-element: footnote" id="ftn20"&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: 0.5in; MARGIN: 6pt 0in 0pt" class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="mso-footnote-id: ftn20" title="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4134222016972542877#_ftnref20" name="_ftn20"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="FONT-FAMILY: 'Times New Roman'; FONT-SIZE: 10pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-ansi-language: EN-US; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA"&gt;[20]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Lihat &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;Ibid.,&lt;/i&gt; h. 145.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="mso-element: footnote" id="ftn21"&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: 37.4pt; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="mso-footnote-id: ftn21" title="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4134222016972542877#_ftnref21" name="_ftn21"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="FONT-FAMILY: 'Times New Roman'; FONT-SIZE: 10pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-ansi-language: EN-US; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA"&gt;[21]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Muhammad Muhammad Iqbal seperti dikutip K.G.Saiyidain, &lt;i&gt;Percikan Filsafat Iqbal mengenai Pendidikan, &lt;/i&gt;, Terj. M.I. Soelaeman, Diponegoro, &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Bandung&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;, 1981, h. 79&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="mso-element: footnote" id="ftn22"&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: 0.5in; MARGIN: 6pt 0in 0pt" class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="mso-footnote-id: ftn22" title="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4134222016972542877#_ftnref22" name="_ftn22"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="FONT-FAMILY: 'Times New Roman'; FONT-SIZE: 10pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-ansi-language: EN-US; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA"&gt;[22]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Muhammad Iqbal, &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;The Reconstruction of Religious Thought in Islam&lt;/i&gt;, Terj. Ali Audah dkk., Tinta Mas, &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt;, 1966, h. 6.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="mso-element: footnote" id="ftn23"&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: 0.5in; MARGIN: 6pt 0in 0pt" class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="mso-footnote-id: ftn23" title="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4134222016972542877#_ftnref23" name="_ftn23"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="FONT-FAMILY: 'Times New Roman'; FONT-SIZE: 10pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-ansi-language: EN-US; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA"&gt;[23]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Lihat lebih lanjut, Paul Edwards (ed), &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;The Encyclopedia of Philosophy&lt;/i&gt;, Macmillan Publishing Co., Inc., New York, Vol. 5 &amp;amp; 6, 1967, h. 428-429. Lihat pula Frederick S.J.Capleston, &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;A History of Philosophy,&lt;/i&gt; Paulist Press, New Jersey, Vol. VIII, 1966, h. 359-360.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="mso-element: footnote" id="ftn24"&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: 0.5in; MARGIN: 6pt 0in 0pt" class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="mso-footnote-id: ftn24" title="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4134222016972542877#_ftnref24" name="_ftn24"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="FONT-FAMILY: 'Times New Roman'; FONT-SIZE: 10pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-ansi-language: EN-US; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA"&gt;[24]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes"&gt;  &lt;/span&gt;Smith Wilfred Cantwel, &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;Modern Islam in &lt;st1:country-region st="on"&gt;India&lt;/st1:country-region&gt;: A Social Analysis, &lt;/i&gt;Swaran Printing Press, &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Delhi&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt;, 1979, h. 146.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="mso-element: footnote" id="ftn25"&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; TEXT-INDENT: 0.5in; MARGIN: 6pt 0in 0pt" class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="mso-footnote-id: ftn25" title="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4134222016972542877#_ftnref25" name="_ftn25"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="FONT-FAMILY: 'Times New Roman'; FONT-SIZE: 10pt; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-ansi-language: EN-US; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA"&gt;[25]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Muhammad Muhammad Iqbal, &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;The Reconstruction of Religious Thought in Islam&lt;/i&gt;, &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;Op. Cit.,&lt;span style="mso-spacerun: yes"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;h. xx&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4134222016972542877-7837228563499447533?l=muhmidayeli-perpustakaanmuhmida.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhmidayeli-perpustakaanmuhmida.blogspot.com/feeds/7837228563499447533/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muhmidayeli-perpustakaanmuhmida.blogspot.com/2009/11/epistemologi-pendidikan-m-iqbal.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4134222016972542877/posts/default/7837228563499447533'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4134222016972542877/posts/default/7837228563499447533'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhmidayeli-perpustakaanmuhmida.blogspot.com/2009/11/epistemologi-pendidikan-m-iqbal.html' title='Epistemologi pendidikan M. Iqbal'/><author><name>muhmidayeli</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08080079530456384027</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_sUDEfuQg6gw/SxYaajpzvvI/AAAAAAAAACU/jlIaHXHd_EA/S220/IMG_0122.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4134222016972542877.post-353670993471201380</id><published>2009-11-29T20:59:00.000-08:00</published><updated>2009-12-02T00:23:34.041-08:00</updated><title type='text'>Epistemologi Pendidikan: Telaah Kritis atas filsafat Khudi M. Iqbal</title><content type='html'>&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4134222016972542877-353670993471201380?l=muhmidayeli-perpustakaanmuhmida.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhmidayeli-perpustakaanmuhmida.blogspot.com/feeds/353670993471201380/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muhmidayeli-perpustakaanmuhmida.blogspot.com/2009/11/epistemologi-pendidikan-telaah-kritis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4134222016972542877/posts/default/353670993471201380'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4134222016972542877/posts/default/353670993471201380'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhmidayeli-perpustakaanmuhmida.blogspot.com/2009/11/epistemologi-pendidikan-telaah-kritis.html' title='Epistemologi Pendidikan: Telaah Kritis atas filsafat Khudi M. Iqbal'/><author><name>muhmidayeli</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08080079530456384027</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_sUDEfuQg6gw/SxYaajpzvvI/AAAAAAAAACU/jlIaHXHd_EA/S220/IMG_0122.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4134222016972542877.post-8409335052362258890</id><published>2009-06-15T02:31:00.000-07:00</published><updated>2009-11-28T21:06:26.108-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='filsafat pendidikan'/><title type='text'>Moralitas dan Kebebasan Manusia dalam Konstelasi Pemikiran Etika Ibn Miskawaih</title><content type='html'>&lt;meta http-equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CAxioo%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="City"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="place"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="PlaceType"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="PlaceName"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="State"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="country-region"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object  classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id=ieooui&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Book Antiqua"; 	panose-1:2 4 6 2 5 3 5 3 3 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:"Matisse ITC"; 	mso-font-alt:"Curlz MT"; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:decorative; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:3 0 0 0 1 0;} @font-face 	{font-family:Garamond; 	panose-1:2 2 4 4 3 3 1 1 8 3; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:Desdemona; 	panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:decorative; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:3 0 0 0 1 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	mso-bidi-font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} p.MsoFootnoteText, li.MsoFootnoteText, div.MsoFootnoteText 	{mso-style-noshow:yes; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} p.MsoHeader, li.MsoHeader, div.MsoHeader 	{margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	tab-stops:center 3.0in right 6.0in; 	font-size:12.0pt; 	mso-bidi-font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} p.MsoFooter, li.MsoFooter, div.MsoFooter 	{margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	tab-stops:center 3.0in right 6.0in; 	font-size:12.0pt; 	mso-bidi-font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} span.MsoFootnoteReference 	{mso-style-noshow:yes; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ascii-font-family:"Times New Roman"; 	mso-hansi-font-family:"Times New Roman"; 	vertical-align:super;} p.MsoBodyText, li.MsoBodyText, div.MsoBodyText 	{margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:6.0pt; 	margin-left:0in; 	text-align:justify; 	line-height:15.0pt; 	mso-line-height-rule:exactly; 	mso-pagination:widow-orphan; 	mso-layout-grid-align:none; 	punctuation-wrap:simple; 	text-autospace:none; 	font-size:13.0pt; 	mso-bidi-font-size:10.0pt; 	font-family:Garamond; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	letter-spacing:.4pt;} p.MsoBodyTextIndent, li.MsoBodyTextIndent, div.MsoBodyTextIndent 	{margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:0in; 	margin-left:17.85pt; 	margin-bottom:.0001pt; 	text-align:justify; 	text-indent:.5in; 	line-height:24.0pt; 	mso-line-height-rule:exactly; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	mso-bidi-font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} p.MsoBodyTextIndent2, li.MsoBodyTextIndent2, div.MsoBodyTextIndent2 	{margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:0in; 	margin-left:17.85pt; 	margin-bottom:.0001pt; 	text-align:justify; 	text-indent:.5in; 	line-height:24.0pt; 	mso-line-height-rule:exactly; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:13.0pt; 	mso-bidi-font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} p.MsoBodyTextIndent3, li.MsoBodyTextIndent3, div.MsoBodyTextIndent3 	{margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	text-align:justify; 	text-indent:.5in; 	line-height:24.0pt; 	mso-line-height-rule:exactly; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:13.0pt; 	mso-bidi-font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} p.MsoBlockText, li.MsoBlockText, div.MsoBlockText 	{mso-style-parent:"Body Text Indent"; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	text-align:justify; 	text-indent:.5in; 	line-height:18.0pt; 	mso-line-height-rule:exactly; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Book Antiqua"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	font-style:italic;} a:link, span.MsoHyperlink 	{color:blue; 	text-decoration:underline; 	text-underline:single;} a:visited, span.MsoHyperlinkFollowed 	{color:purple; 	text-decoration:underline; 	text-underline:single;}  /* Page Definitions */  @page 	{mso-footnote-separator:url("file:///C:/DOCUME~1/Axioo/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_header.htm") fs; 	mso-footnote-continuation-separator:url("file:///C:/DOCUME~1/Axioo/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_header.htm") fcs; 	mso-endnote-separator:url("file:///C:/DOCUME~1/Axioo/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_header.htm") es; 	mso-endnote-continuation-separator:url("file:///C:/DOCUME~1/Axioo/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_header.htm") ecs;} @page Section1 	{size:595.3pt 841.9pt; 	margin:1.25in 99.15pt 40.5pt 1.5in; 	mso-header-margin:58.5pt; 	mso-footer-margin:35.3pt; 	mso-page-numbers:1; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1; 	mso-endnote-numbering-style:arabic;}  /* List Definitions */  @list l0 	{mso-list-id:1000428628; 	mso-list-template-ids:-1548968334;} @list l0:level1 	{mso-level-tab-stop:.25in; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:.25in; 	text-indent:-.25in;} ol 	{margin-bottom:0in;} ul 	{margin-bottom:0in;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;o:shapedefaults v:ext="edit" spidmax="2049"/&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;o:shapelayout v:ext="edit"&gt;   &lt;o:idmap v:ext="edit" data="1"/&gt;  &lt;/o:shapelayout&gt;&lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 0in; text-align: center; text-indent: 0in; line-height: 18pt;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="SV"&gt; MORALITAS DAN KEBEBASAN MANUSIA DALAM KONSTELASI PEMIKIRAN &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 0in; text-align: center; text-indent: 0in; line-height: 18pt;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="SV"&gt;ETIKA IBN MISKAWAIH&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 0in; text-align: center; text-indent: 0in; line-height: 18pt;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Oleh: Muhmidayeli&lt;/span&gt;&lt;a style="" href="#_ftn1" name="_ftnref1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="SV"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 0in; text-align: left; text-indent: 0in; line-height: 18pt;" align="left"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Abstract&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBlockText"&gt;Moral behavoir, for Ibn Miskawaih, is very depended to how moral subject reflects the reality rasionally.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Everyone with better and more correct thought will select behavior that is more appropriate. This is according to how far he used his mind in moral deliberation and moral judgment for the moral behavior. That is a dimension of moral freedom.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;The indication of men`s freedom is choosing and obeying moral and religious values.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.15pt; text-align: justify; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;Abstrak&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.15pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;Perilaku moral bagi Ibn Miskawaih sangat tergantung pada bagaimana subjek moral memandang realitas secara rasional. Setiap orang yang pemikirannya lebih tepat dan benar maka ia dapat memilih perilaku yang baik. Ini tergantung pada sejauh mana ia memfungsikan akal pikirannya dalam memilih dan memutuskan tindakan-tindakan moral. Dan ini adalah dimensi kebebasan moral. Lambang seseorang itu bebas adalah kepatuhan dan kataatannya pada nilai moral dan agama. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 0in; text-indent: 0in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 0in; text-indent: 0in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Key word: &lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;moral freedom; etics; &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;religius norm; &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;moral responsibility&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt; &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 0in; text-indent: 0in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Kata Kunci: kebebasan moral,; etika; normativitas Agama; tanggungjawab moral&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 0in; text-indent: 0in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 0in; text-align: left; text-indent: 0in; line-height: 18pt;" align="left"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;I. PENDAHULUAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 0in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Kualitas kemanusiaan selalu berkenaan dengan nilai-nilai moralitas yang teraplikasi dalam kehidupannya, baik dalam kehidupan individual dan sosial, maupun dalam bentuk hubungan dengan penciptanya. Atas dasar ini pula, wajar jika persoalan moral merupakan persoalan yang tidak akan pernah gersang untuk ditelaah. Kecuali itu, eksistensinya pun sangat menentukan bagi kualitas manusia sebagai agen perubahan. Hal ini semakin bermakna jika dihubungkan dengan sasaran fundamental setiap aspek relijius manusia yang bersentuhan langsung dengan persoalan moral. Islam sendiri mengandaikan bahwa tugas pokok kenabian sendiri tidak lain adalah memperbaiki dan menyempurnakan moral manusia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left: 0in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Kondisi kehidupan manusia yang semakin plural seiring dengan konsekuensi logis arus komunikasi dan globalisasi yang berdampak pada&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;akulturasi budaya, dapat pula terimplikasi dalam persoalan moral, termasuk agama. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Ibn Miskawaih sebagai bapak filsuf moral dalam Islam, mengandaikan bahwa seluruh tingkah laku manusia yang baik ataupun yang buruk yang dilakukan secara sadar tentulah dilakukan berdasarkan hasil pilihan bebas manusia itu sendiri. Ketika ia memutuskan bahwa suatu perbuatan itu baik dan berguna bagi dirinya, maka ia pun akan memilihnya sebagai suatu perilaku yang mesti dilakukan.&lt;a style="" href="#_ftn2" name="_ftnref2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Tindakan moral adalah tindakan manusia yang muncul melalui pertimbangan rasional, sehingga selalu dilakukan secara sadar, bukan paksaan, dan atas dasar itulah maka ia pun mesti bertanggungjawab atas apa saja yang ia lakukan.. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Dalam bagian lain dari tulisannya disebutkan pula, bahwa tindakan moral selalu berkenaan dengan eksistensi orang lain di luar dirinya,&lt;a style="" href="#_ftn3" name="_ftnref3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; sehingga &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;tindakan moral pun sangat tergantung pada cara pandang subjek moral dalam mengamati realitas. Moralitas ditentukan oleh kesesuaiannya dengan alam yang berada di sekitar. Sebagai makhluk rasional, manusia&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;memiliki pemikiran yang lebih tepat dan benar yang akan dapat menentukan pemilihan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;moral&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan inilah karakteristik utama manusia ideal. Kualitas manusia&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;erat kaitannya dengan pola dan caranya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;memilih moral.&lt;a style="" href="#_ftn4" name="_ftnref4" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Hal ini menunjukkan bahwa &lt;i style=""&gt;sommun bonum&lt;/i&gt; manusia Ibn Miskawaih sepenuhnya ditentukan oleh dirinya sendiri. Manusia secara bebas dapat mencari dan menentukan moral untuk dirinya yang memang menjadi lambang bagi kesempurnaanrinya. Ibn Miskawaih percaya bahwa karena manusia diciptakan untuk kebaikan, maka meraih moral berarti pula pengaktualisasian tujuan ciptaan manusia ke dalam dirinya sehingga menjadikan manusia itu memiliki kebaikan dan kebajikan yang akan membedakan dirinya dari apa pun di dunia ini. Berdasarkan ini pula, maka Ibn Miskawaih mengandaikan bahwa mengorientasikan segala hasil karya, rasa dan karsa manusia kepada moral merupakan suatu keniscayaan jika manusia ingin menjadikan dirinya sebagai manusia dalam gambaran penciptaannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left: 0in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Mengingat kebaikan dan kebajikan moral dalam konteks etika Ibn Miskawaih diarahkan pada upaya manusia dalam memfungsikan akal pikirannya, sedangkan kualitas akal manusia itu sendiri berbeda-beda, maka tentulah akan membawa pula pada perbedaan dalam penetapan nilai moral. Konsekuensinya, tindakan moral erat kaitannya dengan kualitas diri seorang individu yang tidak mungkin terlepas dari situasi dan kondisi masyarakat yang mengitarinya, sehingga&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;moralitas pun tentu&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bersifat relatif subjektif.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent3" style="line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Dalam bagian lain dari kitab &lt;i style=""&gt;Tahzib al-&lt;/i&gt; &lt;i style=""&gt;Akhlaq&lt;/i&gt;-nya disebutkan, bahwa manusia yang adil sebagai puncak kebaikan dan kebajikan moral itu sendiri, ditandai dengan keseriusan manusia dalam menjalankan syari`at Agama.&lt;a style="" href="#_ftn5" name="_ftnref5" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Di&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;satu sisi Ibn Miskawaih mengandaikan moralitas sebagai hasil upaya rasional manusia dalam menentukan sesuatu, namun di tempat lain ia justru berpendapat bahwa moralitas ditandai dengan upaya manusia menjalankan syari`at Agama yang telah ditentukan. Pemikiran Ibn Miskawaih seperti ini memunculkan persoalan-persoalan, seperti hubungan kebebasan dalam moral dengan mematuhi ajaran dan normativitas Agama? Bukankah karena kebebasan menjadikan manusia dapat bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent3" style="line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Tulisan ini diarahkan untuk mencari jawaban atas permasalahan apa dan bagaimana esensi dan eksistensi kebebasan moral yang sesungguhnya dalam konstelasi pemikiran etika Ibn Miskawaih dan bagaimana pula hubungan interdependensinya dengan eksistensi normativitas Agama serta bagaimana pula konsekuensi dan implikasinya baik dalam konstruksi pemikiran etika Ibn Miskawaih itu sendiri, maupun dalam filsafat moral secara keseluruhan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;II. METODE PENELITIAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Penelitian ini&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mengaksentuasikan bahasannya pada analisis kritis dari berbagai sudut pandangan, sehingga akan menghasilkan kesimpulan yang komprehensif yang akan bermanfaat sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan sikap moral manusia yang tidak mungkin lepas dari historisitasnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 0in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;Karya-karya etika Ibn Miskawaih yang dijadikan sumber primer penelitian ini adalah a. &lt;i style=""&gt;Kitâb Tahzîb al-Akhlâq&lt;/i&gt;; b.&lt;i style=""&gt; Kitâb al-Fawz al-A&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Matisse ITC&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;¸&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;sghar&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;.&lt;i style=""&gt;:&lt;/i&gt; c.&lt;i style=""&gt; Kitâb al-Sa'âdah fî Falsafah al-Akhlâq&lt;/i&gt;; d. &lt;i style=""&gt;Kitâb Tajârib al-Umâm; &lt;/i&gt;e. &lt;i style=""&gt;Kitâb al-Hikmah al-Khalîdah; &lt;/i&gt;f. &lt;i style=""&gt;Kitâb al-'Aql wa al-Ma'qûl&lt;/i&gt;; g. &lt;i style=""&gt;Risâlah fî al-T&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Matisse ITC&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;¸&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;abî'ah&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;; h. &lt;i style=""&gt;Risâlah al-Wa&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Matisse ITC&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;¸&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;siyyah&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;;&lt;i style=""&gt; &lt;/i&gt;i. &lt;i style=""&gt;Risâlah fî Mâhiyat al-`Adl li Miskawaih; &lt;/i&gt;j. &lt;i style=""&gt;Kitâb al-Hawâmil wa al-Shawâmil li Abi Hayyan al-Tawhidy wa Ibn Miskawaih,&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 0in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Adapun data yang telah terkumpul melalui riset kepustakaan disajikan dan dianalisis dengan menggunakan metode diskriptif-kritis, hermeniutik dan heuristika .&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;Dengan cara deskriptif dimaksudkan, bahwa semua ide dalam pemikiran etika baik oleh Ibn Miskawaih agar dapat dipahami alur pemikiran Ibn Miskawaih dengan jernih dan tepat.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;Kecuali itu, mengingat dalam upaya menganalisis data yang diperoleh melalui penelitian ini diperlukan semacam kegiatan interpretasi-interpretasi dan evaluasi melalui penggunaan berbagai sumber lain yang masih relevan dengan objek utama penelitian, maka dalam analisis penelitian ini, juga digunakan metode hermeneutik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;Dengan metode heuristika dimaksudkan adalah bahwa dari hasil perbandingan kritis yang dilakukan terhadap berbagai&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ide&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kedua&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tokoh kajian dapat dibuat suatu pengertian dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pemahaman baru yang lebih baik dan utuh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="SV"&gt;III. HASIL DAN PEMBAHASAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; line-height: 18pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Sejarah Singkat Ibn Miskawaih &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;Ibn Miskawaih, yang nama lengkapnya Abu `Ali Ahmad Ibn Muhammad Miskawaih, adalah salah seorang filsuf Muslim, lahir pada tahun 330 H / 939 M di Rai, suatu kota yang memang dikenal dengan kota filsuf pada masa itu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ia termasuk di&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;antara filsuf&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Muslim&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;berupaya memadukan filsafat dan budaya Yunani dengan Islam serta&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;mengkombinasikannya dengan filsafat Roma ke dalam filsafat Arab dan Persia.&lt;/span&gt;&lt;a style="" href="#_ftn6" name="_ftnref6" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;Kebanyakan usia muda Ibn Miskawaih dihabiskannya untuk mengabdi sebagai pembantu antar wazir dan umara' di bawah naungan kekuasaan daulat Bani Buwaihid. Di Baghdat ia&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;berhubungan dengan wazir al-Muhallaby, Hasan Ibn Muhammad al-`Azdy dan dilanjutkan pada turunannya, yaitu Ibn Abi Shafrah, wazir Mu`iz al-Dawlah Ibn Buwaih, yang sekitar tahun 348 H / 957 M&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bertugas sebagai "penjaga rahasia". Setelah wazir Mu`iz al-Dawlah ini wafat, Ibn Miskawaih pun kembali ke Rai untuk mendapat kepercayaan sebagai pustakawan bagi wazir Ibn al-`Amid. Beliau tetap di sini sampai wazir ini wafat, bahkan sampai pada masa wazir Abu al-Fath ( 360 H / 969 M ), anak dari Ibn al-`Amid, dan berakhir ketika beliau&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;berselisih paham dengan wazir ini, sehingga kemudian berakhir dengan masuk&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;penjara (366 H / 975 M).&lt;/span&gt;&lt;a style="" href="#_ftn7" name="_ftnref7" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;Dalam kitab &lt;i style=""&gt;Tajarib al-Umam&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;a style="" href="#_ftn8" name="_ftnref8" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;, Ibn Miskawaih menyebutkan, bahwa dirinya berhubungan dengan Ibn al-`Amid&lt;a style="" href="#_ftn9" name="_ftnref9" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; ini selama 7 tahun. Menurut&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Abd. Rahman al-Baidawy,&lt;/span&gt;&lt;a style="" href="#_ftn10" name="_ftnref10" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;[10]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt; hal ini dilakukannya karena antusiasnya ingin mencari kitab-kitab Ibn Zakaria dan Jabir Ibn Hayyan. Hal ini menunjukkan bagaimana kecintaan Ibn Miskawaih pada ilmu pengetahuan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;Mengenai pendidikan Ibn Miskawaih ini tidak banyak diketahui secara rinci, namun ada bukti kuat yang menyatakan, bahwa ia mengambil semangat al-Muhallaby, wazir Buwaihid pada masa raja Mu`iz al-Dawlah, bahkan Ibn Miskawaih itu sendiri akhirnya ditunjuk sebagai sekretaris al-Muhallaby pada tahun 953 M di saat ia berusia&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;20an. Keadaan seperti ini memberikan isyarat, bahwa Ibn Miskawaih adalah seorang yang memiliki pendidikan yang cukup.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ibn Miskawaih&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;diangkat sebagai sekretaris pada usia muda tidak mungkin tidak mempunyai pendidikan dan latar belakang akademik yang memadai serta memiliki pengetahuan yang cukup luas. Sebagai seorang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sekretaris, Ibn Miskawaih tentu&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;berada pada&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;posisi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dapat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;melihat dan mengamati berbagai peristiwa penting pada zamannya di samping juga turut&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;berpartisipasi aktif dalam melihat berbagai peristiwa yang terjadi antara raja sebagai penguasa dalam hubungannya dengan rakyat. Hal ini ditandai dengan adanya buku beliau yang mengupas peristiwa-peristiwa&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;penting tersebut, yaitu dalam bukunya &lt;i style=""&gt;Tajarib al-Umam&lt;/i&gt;. Atas dasar ini pulalah, maka ada yang melihat Ibn Miskawaih sebagai seorang sejarahwan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;Sebagai seorang pustakawan, Ibn Miskawaih memiliki kesempatan untuk menelaah berbagai buku serta mempunyai kesempatan pula berdiskusi dan berdialog keislamaan atau pemikiran Yunani dengan berbagai tokoh pemikir saat itu. Kecuali itu, banyak sumber yang mengatakan, bahwa Ibn Miskawaih dalam bidang filsafat berguru dengan Yahya Ibn `Adi (w&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;974 M).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Dalam menelaah karya-karya filsuf Yunani ini Ibn Miskawaih banyak memanfaatkan tulisan-tulisan terjemahan yang berbahasa Syria. Sebagai bukti terlihat adanya tempat-tempat dalam karya Ibn Miskawaih yang mengutip literatur berbahasa Syria tentang logika Aristoteles. Dan memang menurut informasi al-Khawansary, bahwa Ibn Miskawaih telah mempelajari bahasa-bahasa kuno, di antaranya bahasa Syria.&lt;/span&gt;&lt;a style="" href="#_ftn11" name="_ftnref11" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;[11]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;Dalam bidang politik, Ibn Miskawaih tidak banyak mencurahkan perhatiannya, sehingga pemikiran etikanya pun kurang membicarakan hubungan etika dengan politik. Hal ini pulalah barangkali sebagai jawaban atas keheranan Margoliwath kenapa Ibn Miskawaih tidak diungkap oleh Abu Syuja` ataupun Hilal yang membicarakan Bani Buwaih secara rinci.&lt;/span&gt;&lt;a style="" href="#_ftn12" name="_ftnref12" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;[12]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;`Abd. Rahman al-Baidawy&lt;/span&gt;&lt;a style="" href="#_ftn13" name="_ftnref13" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;[13]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt; dalam pengantar edidnya terhadap kitab &lt;i style=""&gt;al-Hikmah al-Khalidah&lt;/i&gt; memberikan kesimpulan, bahwa Ibn Miskawaih&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tidak banyak mempelajari filsafat teoritis meskipun banyak kesempatan dimana adanya guru-guru yang ahli dalam ilmu-ilmu hikmah, seperti Abu Sulaiman al-Mantiqy dan Abu al-Hasan Al-`Amiry. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;Menurut al-Tawhidy, Ibn Miskawaih adalah seorang yang fakir di kalangan orang-orang kaya yang berarti bahwa Ibn Miskawaih tidak terlalu larut dalam mengumpulkan kekayaan material.&lt;/span&gt;&lt;a style="" href="#_ftn14" name="_ftnref14" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;[14]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt; Berdasarkan pernyataan al-Tawahidy ini, barangkali tamak yang dimaksudkan oleh al-Badawy di atas kurang beralasan atau ia melihatnya dari segi pandangan umum.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;Ibn Miskawaih mengungkapkan dalam kitab &lt;i style=""&gt;Tahzib al-Akhlaq&lt;/i&gt;nya&lt;/span&gt;&lt;a style="" href="#_ftn15" name="_ftnref15" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;[15]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;, bahwa ia adalah seorang yang pernah bekerja di bawah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bimbingan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;orang lain yang telah memaksanya untuk menulis sajak&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;atau menggubah yang semacam itu dan mengikuti kebesarannya kemudian ia memiliki kurang kesempatan untuk berhubungan dengan orangorang sekelilingnya, dan dalam hal kesenangan badan, ia cenderung minum-minuman,makan-makanan, per-hiasan dan segala bentuk kesenangan duniawi. Memperhatikan ungkapan Ibn Miskawaih di atas, terlihat bahwa memang Ibn Miskawaih pernah berperilaku yang kurang baik (amoral) di masa hidupnya, tetapi bukan berarti ia munafiq, karena kita &lt;i style=""&gt;Tahzîb al-Akhlâq &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;sebagai kitab etikanya ditulis saat-saat hari tuanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;Merujuk perjalanan sejarah Islam, Ibn Miskawaih hidup pada masa pemerintahan `Addu al-Dawlah (978-983 M). seorang penguasa generasi ke dua raja Buwaih dan merupakan raja Buwaih yang paling terkenal. Pada masa pemerintahannya ditandai dengan adanya toleransi antar mazhab; syi`ah malah nyaris pada masa-masa ini mendapat angin baik untuk berkembang dan berdampingan dengan empat mazhab lainnya. Kecuali itu, pada masa gerasi Buwaih kedua ini ditandai pula dengan menyuburnya unsur Persia dan Islam, pendeknya Persia sama dengan Arab.&lt;/span&gt;&lt;a style="" href="#_ftn16" name="_ftnref16" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;[16]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;Muhammad Arkoun&lt;/span&gt;&lt;a style="" href="#_ftn17" name="_ftnref17" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;[17]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt; dalam penelitian disertsinya menambahkan bahwa masyarakat Ray pada masa-masa kehidupan Ibn Miskawaih ini mayoritas menganut mazhab hanafiah dari orang-orang Najjar yang kelihatannya cenderung mendapat tempat dan dilindungi oleh pemerintah. Dengan demikian berarti, Ibn Miskawaiah dikelilingi oleh masyarakat Muslim yang banyak menganut mazhab hanafiah yang memang merupakan mazhab yang menggunakan ra'yu sebagai salah satu argumen relijiusnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;Pada masa-masa kehidupan Ibn Miskawaih ini, kelihatannya raja-raja dan para pembesar lainnya cenderung merangkul para sarjana dan ilmuan guna memberikan sokongan bagi kepemimpinannya di samping juga untuk meningkatkan prestise mereka.&lt;/span&gt;&lt;a style="" href="#_ftn18" name="_ftnref18" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;[18]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;Apabila diperhatikan tanggal kelahiran Ibn Miskawaih, ternyata beliau hidup pada masa Abbasi periode 334 - 447 M. Pada masa-masa ini, berbagai ilmu pengetahuan telah berkembang sangat pesat, terutama dalam bidang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bahasa, sastera dan cabang-cabangnnya, tarikh dan filsafat.&lt;/span&gt;&lt;a style="" href="#_ftn19" name="_ftnref19" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;[19]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;Sistem khalifah pada masa itu telah terpecah-pecah. Bahkan pada tahun 935 M telah terjadi proses &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;disintegrasi yang begitu kompleks, Iran Barat telah berada dalam kekuasaan Buwaihi, Irak di bawah naungan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Hamadanid, Mesir dan Syria telah jatuh&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan menyerah pada Ikhshydid, Afrika telah dikuasai oleh Fatimid, Spanyol oleh Ummayyah, Transoxian dan Khurasan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;telah dikuasai oleh Samanid, Arab Selatan dan Bahrein berada dalam kekuasaan Karmathian, dan tinggal hanya Baghdad dan sebgaian Babilonia yang masih tetap berada dalam kekuasaan khalifah.&lt;/span&gt;&lt;a style="" href="#_ftn20" name="_ftnref20" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;[20]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;Masuknya keluarga Buwaih yang berusaha menguasai dan mendesak orang-orang Turki di Baghdad merupakan titik awal status khalifah hanya sebagai beneka orang-orang Buwaih. Ahmas salah seorang putera Buwaih yang kemudian bergelar Mu`iz al-Dawlah (w. 967 M) telah mendaulat dirinya sebagai seorang yang berkuasa penuh di Baghdad dan menjadi raja pertama&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dinasti Buwaih pada tahun 945 M. Mu`iz al-Dawlah ini terkenal dengan sifat-sifatnya yang emosional dan kasar, sehingga wajar jika khalifah yang ada pada masanya diperlakukan dengan kasar. Keberadaannya membuat beban besar bagi rakyat, tingkah lakunya diisi dengan keburukan-keburukan.&lt;/span&gt;&lt;a style="" href="#_ftn21" name="_ftnref21" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;[21]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;Puteranya Bakhtiar yang bergelar `Iz al-Dawlah sebagai&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pengganti ayahnya dari tahun 967-978 M, memiliki&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kepribadian&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sama dengan ayahnya. Penguasa Buwaih berikutnya adalah `Addu al-Dawlah (978 - 983 M). `Addu al-Dawlah ini&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dinilai oleh para sejarahwan Islam klasik sebagai seorang penguasa dinasti Buwaihi yang efektif dan mengabdikan dirinya sebagai penguasa yang mementingkan kemajuan dan kesejahteraan rakyatnya. Banyak mesjid yang didirikannya, saluran irigasi diperbaikinya, pasar diadakannya, serta&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;hubungan orang-orang Arab dan Persia dibinanya. Pusat kekuasaannya tetap di Persia. Setelah beliau tidak ada lagi penguasa dinasti Buwaihi menyamai prestasinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;Pada masa `Addu al-Dawlah, keseimbangan antara orang-orang Turki dan Dailami sebagai tentara&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;selalu terjaga dan terpelihara. Gaji mereka selalu diberikan secara teratur dan memadai. Setelah masa `Addu al-Dawlah keseimbangan seperti ditinggalkan oleh para penguasa selanjutnya, sehingga persoalan tentara pada masa-masa selanjutnya menjadi sumber kekacauan dalam kerajaan Buwaihi ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;`Addu al-Dawlah adalah seorang yang memiliki perhatian yang besar terhadap kemajuan ilmu pengetahuan dan para intelektual. Dicatat bahwa pada masanya telah diadakan semacam majlis tempat berkumpul para &lt;i style=""&gt;fuqaha'&lt;/i&gt; dan ulama untuk mendiskusikan berbagai ilmu pengetahuan di dalam ruang khusus di dalam rumah `Addu al-Dawlah itu sendiri.&lt;/span&gt;&lt;a style="" href="#_ftn22" name="_ftnref22" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;[22]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Menurut Ibn Atsir,&lt;/span&gt;&lt;a style="" href="#_ftn23" name="_ftnref23" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;[23]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt; ‘Adud al-Dawlah adalah salah seorang penguasa dinasti Buwaihi yang sangat mencintai ilmu dan ulama, fuqahâ’, mutakallimûn, ahli qurâ’, para dokter, ahli hisab dan insinyur. Hal yang sama juga terdapat pada wazirnya Ibn ‘Amid di mana Ibn Miskawannya. Ibn Mikawaih sendiri memuji kepribadian Ibn ‘Amid yang bagus.&lt;/span&gt;&lt;a style="" href="#_ftn24" name="_ftnref24" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;[24]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;Ekonomi masyarakat pada masa ini cukup baik, karena ‘Abduh al-Dawlah mampu memberikan masukan dana pada kerajaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;Adapun pemikiran etika yang berkembang pada masa Ibn Miskawaih pertama-pertama adalah moral Diniyah, yakni moral Sufiyah yang berkembang di dunia Islam saat itu.&lt;/span&gt;&lt;a style="" href="#_ftn25" name="_ftnref25" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;[25]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;Paling tidak dalam ajaran-ajaran moral sufi terdiri dari &lt;i style=""&gt;tawakkah, sabar, ridha dan raja'&lt;/i&gt;. &lt;i style=""&gt;Tawakkal&lt;/i&gt; tidak lain adalah menyandarkan segala sesuatu pada Allah SWT dan hanya Allah SWT Pelaku segalanya. al-Ghazali&lt;/span&gt;&lt;a style="" href="#_ftn26" name="_ftnref26" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;[26]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt; memberi istilah ini dengan "iman yang yakin pada Allah SWT". Sabar adalah menjadikan segala derita sebagai suatu cobaan yang mesti ada didunia fana ini, serta menjadikannya sebagai langkah untuk taqwa, iman dan menyerahkan segalanya hanya kepada Allah SWT.&lt;/span&gt;&lt;a style="" href="#_ftn27" name="_ftnref27" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;[27]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt; Ridha meliputi sikap &lt;i style=""&gt;qana'ah&lt;/i&gt; dan &lt;i style=""&gt;zuhud&lt;/i&gt; dalam kehidupan dan ibadah, karena kebahagiaan akhirat hanya akan terwujud dengan bertaqwa dan menahan diri dari berbagai godaan hawa nafsu. Dan yang paling penting dalam hal ini adalah memutuskan keterkaitan hati pada kehidupan duniawi dan menekuni hidup menyendiri.&lt;/span&gt;&lt;a style="" href="#_ftn28" name="_ftnref28" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;[28]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt; Sedangkan &lt;i style=""&gt;raja'&lt;/i&gt; merupakan aktivitas menghubungkan diri dengan alam lain di luar diri kita. Hal ini hanya dapat dilakukan melalui berkhalwat, jauh dari kehidupan&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;duniawi, sehingga esensinya mencapai tingkat yang paling tinggi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;Kecuali itu, pada masa Ibn Miskawaih ini juga telah berkembang moral filosofi.&lt;/span&gt;&lt;a style="" href="#_ftn29" name="_ftnref29" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;[29]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt; `Abdul `Aziz `Izzat&lt;/span&gt;&lt;a style="" href="#_ftn30" name="_ftnref30" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;[30]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt; telah mencatat, bahwa moral filosofis ini meletakkan kebahagiaan itu dalam dua bentuk.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Yang paling dekat bagi manusia, yaitu kebahagiaannya di antara teman-temannya dalam masyarakat di satu sisi dan kebahagiaan yang jauh, yaitu kebahagiaan di alam akhirat. Bentuk moral seperti ini secara khusus berasal dari India. Filsafat India telah tersebar di kalangan orang-orang Arab melalui perdagangan dimana Persia sebagai sentral India dan Arab. Selain itu, terjemahan-terjemahan filsafat pada masa al-Mansur dan al-Rasyid banyak yang berasal dari bahasa Persia di samping juga dari bahasa Sansekerta. Di antara terjemahan ini adalah terjemahan Ibn Muqaffi` al-Farisy (w.757 M).&lt;/span&gt;&lt;a style="" href="#_ftn31" name="_ftnref31" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;[31]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ibn Muqaffi` sendiri diduga memiliki kitab al-Kabir yang berisikan filsafat moral, baik moral pemerintahan maupun moral kemasyarakatan. Selain itu ia juga memiliki kitab al-Adab al-Saghir yang berisikan pengajaran-pengajaran dan filsafat.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Berdasarkan informasi Ahmad Amin&lt;/span&gt;&lt;a style="" href="#_ftn32" name="_ftnref32" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;[32]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt; dapat diketahui, bahwa Ibn Muqaffi` ini&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;mempunyai berbagai macam karya filsafat yang ditransfernya dari kitab-kitab yang berbahasa Persia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;Etika yang berkembang pada masa Ibn Miskawaih satu sisi adalah etika Sufi dan di sisi lain adalah etika filosofi. Yang terakhir ini kelihatannya berkembang dari kalangan istana, karena memang para filsuf pada masa itu senderung dirangkul untuk melegatimasi posisinya.&lt;/span&gt;&lt;a style="" href="#_ftn33" name="_ftnref33" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;[33]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;Mayoritas masyarakat Ray pada masa Ibn Miskawaih, menganut paham ini memang mendapat tempat dan perlindungan, sehingga meniscayakan masyarakatnya banyak mengadopsi pokok-pokok pikiran yang lahir dari al-Qur'an.&lt;/span&gt;&lt;a style="" href="#_ftn34" name="_ftnref34" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;[34]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt; dan cenderung memposisikan "ra'yu" sebagai salah satu landasan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pemikiran keagamaannya. Ditinjau dari segi ini, wajar jika kota Rai banyak melahirkan filsuf-filsuf ternama, seperti&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;al-Razi (w.925)&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan Ibn Shina (w. 1037 M).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;Sebagai seorang cendikiawan, sejarahwan dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;filsuf, Ibn Miskawaih meninggalkan berbagai macam karya tulis, antara lain:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;1. &lt;i style=""&gt;Kitâb Tahzîb al-Akhlâq.&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="NL"&gt;2. &lt;i style=""&gt;Kitab al-Fawz al-Asghar&lt;/i&gt;.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="NL"&gt;3. &lt;i style=""&gt;Kitab al-Sa`adah&lt;/i&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="NL"&gt;4. &lt;i style=""&gt;Kitab Tajarib al-Umam&lt;/i&gt;.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="NL"&gt;5. &lt;i style=""&gt;Kitab Jawidan Khirad&lt;/i&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="NL"&gt;6. &lt;i style=""&gt;Al-Hawamil wa al-Shawamil&lt;/i&gt;.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 21.3pt; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="NL"&gt;Kecuali itu, Ibn Miskawaih juga memiliki Risalah-Risalah yang terdiri dari berbagai persoalan, antara lain:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="NL"&gt;1. &lt;i style=""&gt;Risalah fi Mahiyat al-`Adl&lt;/i&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="NL"&gt;2. &lt;i style=""&gt;Al-`Aql wa al-Ma`qul&lt;/i&gt;.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="NL"&gt;3. &lt;i style=""&gt;Risalah Al-Wasiyyah&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 21.3pt; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="NL"&gt;Kecuali itu, banyak lagi risalah-risalah Ibn Miskawaih lainnya yang belum diterbitkan, seperti &lt;i style=""&gt;Risalah Fi al-Lazzat Wa al-`Alam; Maqala Li al-Ustaz Abi Ali Miskawaih Fi al-Nafs Wa al-`Aql Wa Hiya Jawab al-Sa'ilin Sa'aluhu 'Anhuwa Wa Hallu Sukukin Adrakaha fi al-Jauhar al-Basil al-Qaim bi Nafsih, Risalah fi al-nafs wa al-`aql; Wa min Risalah fi al-tabi`a; Wa min Risalah fi Jawhar al-Nafs; Fi al-Bahthi 'Anha'; Maqala Fi al-Nafs; al-Ma'qulat al-Talat Fi Itba'i al-Suwar al-Ruhaniyya Allazi La Hayula Laha Min Kalami Aristutalis; Fi Itbati&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dzalika Aydan ; Fi Itbati Dzalika Aydan Fi 'Illah Ula; Ma al-Fashl Bayn al-Dahr Wa al-Zaman?&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;a style="" href="#_ftn35" name="_ftnref35" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;[35]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: 18pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;Moralitas sebagai produk kebebasan manusia &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;Persoalan kebebasan dalam moral merupakan persoalan mendasar dalam bidang etika. Hal ini mengingat karena kebebasanlah manusia itu dapat diminta pertanggungjawaban atas tindakan dan ucapannya. Hal ini disebabkan karena kesadaran sebagai pengarah terwujudnya suatu tindakan moral tidak dapat dilepaskan dari faktor kebebasan manusia dalzam menentukan pilihan moral untuk dirinya, sehingga dapat dikatalkan bahwa kebebasan merupakan unsur esensial dalam pembentukan perilaku moral manusia. pendeknya, nilai-nilai moral juga berasal dari kebebasan dan memang karena manusialah yang menciptakan nilai-nilai itu.&lt;/span&gt;&lt;a style="" href="#_ftn36" name="_ftnref36" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;[36]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;                                     &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;Prinsip-prinsip kebebasan moral berkaitan dengan persoalan otonomi. Otonomi moral itu sendiri mensyaratkan kebebasan individu dalam melakukan perbuatan moral dengan berdasarkan atas pilihannya yang secara sadar diperuntukkan untuk dirinya.&lt;/span&gt;&lt;a style="" href="#_ftn37" name="_ftnref37" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;[37]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt; Hal ini didasari oleh pemikiran, bahwa hanya karena manusia itu memiliki kebebasanlah, maka ia akan dapat dibebani kewajiban dan tanggungjawab moral.&lt;/span&gt;&lt;a style="" href="#_ftn38" name="_ftnref38" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;[38]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;Kebebasan merupakan syarat untuk aktualisasi moral dalam masyarakat. Tertib sosial adalah hasil pilihan individu-individu dalam suatu masyarakat, sehingga setiap orang yang bergabung di dalamnya pun mesti bertanggung jawab atas implementasinya yang memang merupakan tugas dan fungsi diri individu-individu itu sendiri sebagai manusia.&lt;/span&gt;&lt;a style="" href="#_ftn39" name="_ftnref39" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;[39]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;Kecuali itu, kebebasan manusia ditandai pula dengan kepatuhannya menjalankan norma-norma sosial dan agama sebagai suatu kemestian. Hal ini tidak lain mengingat norma sosial dan agama itu memuat ajaran-ajaran moral yang mana manusia yang menggunaskan kebebasannya secara baik dan tepat dalam menentukan pilihan untuk dirinya secara niscaya akan cenderung pula pada kepatuhan akan norma-norma tersebut.&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;Ibn Miskawaih mengatakan, bahwa puncak dari perolehan kebajikan moral dari usaha bebas manusia adalah menjalankan syari`ah Agama secara baik dan benar. Hal ini karena memang di dalam Agama terakumulasi nilai-nilai yang dibutuhkan oleh manusia untuk mengembangkan dirinya sampai pada level yang paling tinggi dari jajaran manusia.&lt;/span&gt;&lt;a style="" href="#_ftn40" name="_ftnref40" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;[40]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;Kendatipun&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ada yang berpendirian akan kehendak bebas, namun mereka tetap mengakui bahwa manusia yang berbuat secara bebas pun digerakkan oleh suatu kekuatan yang ada di dalam diri manusia yang memang bersifat kesusilaan, yaitu dalam bentuk kepatuhan akan norma, sehingga kebebasan manusia tampil dalam bentuknya yang terikat kepada norma.&lt;/span&gt;&lt;a style="" href="#_ftn41" name="_ftnref41" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;[41]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;Lebih jauh lagi Erich Fromm&lt;/span&gt;&lt;a style="" href="#_ftn42" name="_ftnref42" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;[42]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mengungkapkan, bahwa pertumbuhan kebebasan manusia selalu memperlihatkan ciri dialektik. Di satu sisi ia merupakan proses tumbuhnya kekuatan akal budi dan solideritas dengan orang lain, namun di sisi lainnya ia justru merupakan proses keterasingan dan rasa ketidak-anmanan manusia. Pendeknya, manusia senantiasa dililit oleh dua kekuatan, yaitu merasa kuat dengan akal yang dimilikinya, namun pada sisi lain ia justru merasa hampa.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Oleh karena itu wajar jika banyak ahli yang mengemukakan kebebasan pada akhirnya juga terjebak ke dalam deterministik, yang menurut Dister Nico Syukur &lt;/span&gt;&lt;a style="" href="#_ftn43" name="_ftnref43" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;[43]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;manusia memang tidak&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dapat lari dari dua dimensi itu, karena&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;keduanya saling melengkapi dan menyempurnakan. Yang jelas, seseorang hendaklah melakukan apa yang dianjurkan oleh norma-norma sosial dan agama jika memang ia memiliki landasan bebas untuk menentukan bahwa apa yang dianjurkan oleh agama itu merupakan sesuatu keistimewaan tambahan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sebagai sesuatu&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang harus dilakukan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;Berkaitan dengan persoalan moral ini pula, ada dua bentuk sistem pemikiran, yaitu apa yang disebut dengan paham &lt;i style=""&gt;deontologis&lt;/i&gt; dan paham &lt;i style=""&gt;teleologis&lt;/i&gt;. &lt;i style=""&gt;Deontologis &lt;/i&gt;adalah suatu paham&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang menekankan suatu perbuatan moral bukan pada nilai instrinsik dari konsekuensi perbuatan. Perilaku baik dan bajik hanya karena perbuatan itu sendiri. &lt;i style=""&gt;Teleologis&lt;/i&gt; adalah paham yang lebih menekankan perbuatan moral&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pada nilai instrinsik dari konsekuensi suatu perbuatan.&lt;/span&gt;&lt;a style="" href="#_ftn44" name="_ftnref44" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;[44]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt; Dengan kata lain, paham &lt;i style=""&gt;teleologis&lt;/i&gt; menjadikan &lt;i style=""&gt;right&lt;/i&gt; mendahului &lt;i style=""&gt;good&lt;/i&gt;. Maksudnya, bahwa setiap perbuatan yang dinilai benar, maka ia adalah juga perbuatan yang baik. Lain halnya dengan paham &lt;i style=""&gt;deontologis&lt;/i&gt;, baginya antara &lt;i style=""&gt;right&lt;/i&gt; dan &lt;i style=""&gt;good&lt;/i&gt; sama sekali tidak ada kaitan. Perbuatan yang benar adalah perbuatan menahan diri dari segala bentuk perbuatan yang tidak benar. Perbuatan moral dalam paham ini biasanya apa yang telah diatur dan ditetapkan pada aturan-aturan dan norma-norma.&lt;/span&gt;&lt;a style="" href="#_ftn45" name="_ftnref45" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;[45]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;Mengenai alasan kenapa orang mesti melakukan suatu tindakan moral, ada yang memberikan tekanan pada unsur individualistik atau egoistik dan ada pula yang justru mengaksentuasikan pada unsur kolektivistik atau altruistik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;Yang individualistik atau egoistik adalah sikap moral yang melihat suatu tindakan berdasarkan pada kepentingan dirinya sendiri, bukan pada orang lain di luar dirinya.&lt;/span&gt;&lt;a style="" href="#_ftn46" name="_ftnref46" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;[46]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt; Yang menjadi asumsi dasar paham ini tidak lain adalah, bahwa jika seseorang ingin meraih suatu tujuan, secara niscaya tentulah ia melihat pada dirinya sendiri. Meskipun demikian, dalam kenyataannya, bukan berarti individualisme atau egoisme adalah egois dalam segala hal.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Posisinya sama dengan utiliterianisme yang mengandaikan, bahwa kebahagiaan umum akan meningkat jika masing-masing orang melihat keinginan dirinya sendiri.&lt;/span&gt;&lt;a style="" href="#_ftn47" name="_ftnref47" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;[47]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;Egoisme terbagi pada dua bentuk, egoisme psikologik dan Egoisme etis. Egoisme psikologik menekankan, bahwa apa saja yang dilakukan manusia adalah untuk kepentingan dirinya sendiri tanpa peduli apakah tindakan tersebut memenuhi kepentingan orang lain atau tidak. Egoisme etis memandang, bahwa orang mesti berbuat dalam kepentingannya sendiri, namun orang akan berusaha agar kepentingannya sejalan dengan moralitas dan ke-baikan umum.&lt;/span&gt;&lt;a style="" href="#_ftn48" name="_ftnref48" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;[48]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;Adapun altruisme adalah suatu paham yang memberikan tekanan perbuatan moral pada tindakan atas dasar kepentingan orang lain. tindakan moral kategori ini&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;juga terbagi kepada dua bagian, yaitu altruisme psikologik dan altruisme etis. Yang pertama menekankan bahwa manusia secara alami bertindak demi keuntungan orang lain, sedangkan yang kedua memandang bahwa orang mesti berbuat demi kepentingan orang lain.&lt;/span&gt;&lt;a style="" href="#_ftn49" name="_ftnref49" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;[49]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 0.5in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Dalam menjawab persoalan bagaimana manusia dapat mengetahui nilai suatu tindakan, secara garis besar dapat dikelasifikasikan kepada beberapa kelompok, yaitu:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in -1.5pt 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;Teistik subjektif; &lt;i style=""&gt;right &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;tidak memiliki arti objektif, &lt;i style=""&gt;right&lt;/i&gt; tidak akan pernah dapat diketahui melalui akal semata, tetapi mestilah dengan wahyu atau yang merujuk pada wahyu. Suatu tindakan dikatakan benar jika memiliki kesesuaian dengan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dengan kehendak dan perintah Allah SWT.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in -1.5pt 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;Rasionalisme objektif; &lt;i style=""&gt;right&lt;/i&gt; memiliki arti yang objektif, &lt;i style=""&gt;right&lt;/i&gt; dapat diketahui melalui akal tanpa mesti merujuk pada wahyu. Suatu tindakan dikatakan benar jika memiliki kualitas benar dalam dirinya.&lt;/span&gt;&lt;a style="" href="#_ftn50" name="_ftnref50" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;[50]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;Kecuali itu, sejarah telah mencatat, bahwa sejak zaman Yunani Kuno, persoalan moral telah menjadi perhatian khusus oleh para ahli. Realitas sejarah menunjukkan, bahwa standar moral terus berkembang sesuai dengan masanya dari yang primitif, tradisional&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sampai pada yang bersifat rasional.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;Standar moral manusia tergantung pada tingkat perkembangan sosialnya, intelegensinya dan ilmu pengetahuan yang berkembang. Moralitas yang tumbuh dalam kehidupan manusia merupakan pembuka bagi kehidupan yang baik menuju kehidupan yang bahagia dan penuh makna. Problem moral bukan sekedar problem moral itu saja, tetapi juga merupakan problem sosial, ekonomi dan politik.&lt;/span&gt;&lt;a style="" href="#_ftn51" name="_ftnref51" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;[51]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;Di dalam perilaku moral, faktor terpenting adalah bagaimana daya-daya jiwa manusia berperan menurut proporsi masing-masing melalui pemberdayaan peran akal semaksimal mungkin. Hanya akal yang sempurna aktivitasnyalah yang dapat menjaga keselarasan dan keharmonisan hubungan daya-daya jiwa ini.&lt;/span&gt;&lt;a style="" href="#_ftn52" name="_ftnref52" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;[52]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt; Sedangkan untuk memungkinkan manusia menyukai dan melakukan perbuatan moral, perlu adanya kesadaran diri. Akal, hati nurani dan kesadaran diri memang merupakan segi-segi eksistensi original manusia yang memilki peranan penting dalam perwujudan perilaku moral.&lt;/span&gt;&lt;a style="" href="#_ftn53" name="_ftnref53" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;[53]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;Mengenai pentingnya kesadaran ini dalam perilaku moral manusia, I.R.Poudjawijatna&lt;/span&gt;&lt;a style="" href="#_ftn54" name="_ftnref54" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;[54]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt; mengatakan bahwa kesadaran moral berarti kesadaran manusia untuk selalu berbuat baik. Oleh karena itu, moral dapat menjadi tuntunan atau pedoman manusia dalam menjalankan kehidupannya, di samping juga menjadi pengarah bagi manusia dalam menentukan perbuatan moralnya. Moral mengarahkan manusia untuk bertingkah laku baik, dan manusia itu sendiri pada dasarnya juga memiliki kecenderungan untuk berbuat baik. Manusia yang sadar selalu cenderung untuk memilih perilaku yang baik, karena memang ia yakin bahwa yang dipilihnya itu adalah baik. Manusia tidak hanya ikut-ikutan saja dalam menentukan pilihan tingkah lakunya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;Iqbal&lt;/span&gt;&lt;a style="" href="#_ftn55" name="_ftnref55" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;[55]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt; mengatakan, bahwa kesadaran adalah intisari bagi terlaksananya suatu kegiatan, termasuk di dalamnya moral. Kesadaran merupakan satu-satunya jalan menuju realisasi diri manusia. Oleh karena itu, kesadaran merupakan persyaratan mutlak bagi tuntutan kewajiban moral manusia. Kesadaran dalam Islam dapat dimaknai dari watak esensial ruh yang bersifat memimpin dan mengarahkan, karena ia bergerak dari energi memimpin dari Tuhan. Kesadaran tidak akan muncul begitu saja tanpa adanya kebebasan, sehingga dapat dikatakan bahwa moralitas menuntut adanya kesadaran sedangkan kesadaran meniscayakan kebebasan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;J.J.Rousseau mengatakan, bahwa kebebasan merupakan unsur esensial manusia dalam pembentukan perilaku moral, sebab hanya dengan kebebasanlah orang dapat berpikir jernih, karena eksistensinya tidak sedang dalam pengaruh sesuatu yang lain di luar dirinya. Tegasnya kebebasanlah yang memungkinkan orang dapat berperilaku moral. Moralitas tanpa kebebasan adalah omong kosong, karena moralitas itu sendiri adalah bukti bagi kebebasan manusia itu sendiri.&lt;/span&gt;&lt;a style="" href="#_ftn56" name="_ftnref56" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;[56]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt; &lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;Adapun faktor keadilan merupakan faktor yang turut menentukan hidup suburnya perilaku moral di tengah-tengah masyarakat. Keadilan adalah suatu sikap orang yang berkuasa yang memberikan kesempatan merata bagi semua rakyatnya untuk menentukan di-rinya.&lt;/span&gt;&lt;a style="" href="#_ftn57" name="_ftnref57" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;[57]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt; Jika kebebasan adalah sesuatu yang mesti ada dalam perwujudan perilaku moral, maka keadilan merupakan kondisi yang memungkinkan manusia secara bebas dapat menentukan perilaku moral untuk dirinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: 18pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;Kebebasan dan Pluralitas dalam Moral vis a vis Normatias Agama&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;Ibn Miskawaih melihat, bahwa apabila dalam diri manusia telah terbentuk fungsi-fungsi jiwa yang bekerja secara harmonis dan tetap merujuk pada putusan akal yang murni, maka perilaku moral yang dihasilkannya pun akan tetap baik dan bermoral.&lt;/span&gt;&lt;a style="" href="#_ftn58" name="_ftnref58" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;[58]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt; Fungsi-fungsi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;jiwa yang telah terbina dan terdidik,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;seseorang akan dapat menentukan sikap diri yang baik dalam menentukan moral, sehingga pengaruh dalam bentuk apa pun tidak dapat menjadikannya goyah dalam pengambilan keputusan-keputusan moral untuk dirinya. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;Stabilitas dan keseimbangan kerja daya-daya jiwa merupakan syarat mutlak untuk terwujudnya kebahagiaan sebagai sasaran etikanya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;Selain itu, Ibn Miskawaih yakin, bahwa jika akal mampu menguasai dua daya jiwa lainnya,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;niscaya akan menghasilkan kebaikan dan kebajikan moral yang dapat mengantarkan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;subjeknya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pada kebahagiaan (sa`adah). Perilaku baik dan bajik dalam konteks etika Ibn Miskawaih selalu mengacu pada perolehan kebahagiaan bagi pelakunya. Karena kabahagiaan yang dimaksudkan dalam teori etikanya tidak lain adalah &lt;i style=""&gt;moral sa`&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Matisse ITC&amp;quot;; letter-spacing: -5.5pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;¯&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;adah&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt; (kebahagiaan yang berdimensi moral) yang lepas dari aspek material, maka&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;perilaku moral itu pun mengarah pada satu tujuan yang sama bagi semua orang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;Mengingat tujuan kebaikan dan kebajikan moral itu terarah pada satu tujuan, maka secara esensial tidak akan ada tindakan moral yang berbeda-beda (plural). Meskipun terdapat orang berbeda-beda dalam cara mendekati dan mengarahkan dirinya pada tujuan moralnya, namun pada prinsipnya mereka menginginkan tujuan yang sama, yaitu kebahagiaan yang sejati (moral sa`&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Matisse ITC&amp;quot;; letter-spacing: -5.5pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;¯&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;adah). Jadi, dalam hal ini terlihat, bahwa Ibn Miskawaih tidak mengakui adanya pluralitas dalam moral. Baginya, karena sesuatu yang mengarah pada yang satu secara esensial adalah satu, maka secara niscaya moralitas manusia tetap tidak bersifat plural. &lt;i style=""&gt;Sa`&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Matisse ITC&amp;quot;; letter-spacing: -5.5pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;¯&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;adah&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt; bagi Ibn Miskawaih terfokus pada bagaimana seseorang itu mesti hidup yang baik dan bajik, sehingga &lt;i style=""&gt;sa`&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Matisse ITC&amp;quot;; letter-spacing: -5.5pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;¯&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;adah&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt; adalah standar bagi perbuatan yang baik dan bajik. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;Mengingat bahwa perbuatan moral bagi Ibn Miskawaih adalah perbuatan yang mengarah pada peraihan kebahagiaan seseorang, maka nilai kebaikan di sini tentulah bersifat &lt;i style=""&gt;teleologis.&lt;/i&gt; Perilaku baik dan bajik diidentifikasi oleh Ibn Miskawaih sebagai suatu yang terrealisasi dalam kehidupan yang bahagia (sa`&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Matisse ITC&amp;quot;; letter-spacing: -5.5pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;¯&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;adah) yang mesti menjadi relatif bagi setiap kepentingan orang perorang. Kecuali itu, karena kebahagiaan itu secara niscaya bersifat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;individualistis dan relatif, maka tentu menjadikan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;perbedaan tingkah laku dalam kehidupan manusia dapat dipertanggungjawabkan. Eksistensinya sangat tergantung pada keberadaan nilai-nilai rasional yang ada padanya.. Dengan demikian terlihat, bahwa Ibn Miskawaih menjadikan &lt;i style=""&gt;hikmah&lt;/i&gt; sebagai hasil dari upaya kerja daya &lt;i style=""&gt;na&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Desdemona; letter-spacing: -5.5pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;¸&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;tiqah&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt; mendahului tindakan moral. &lt;i style=""&gt;Hikmah&lt;/i&gt; dalam hal ini ditampilkan sebagai pertimbangan perilaku moral. Pembenaran suatu tindakan moral sangat tergantung pada bagaimana subjek moral mendayagunakan daya &lt;i style=""&gt;na&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Desdemona; letter-spacing: -5.5pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;¸&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;tiqah&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;nya. Jika demikian, berarti patokan moral bersifat relatif, karena penggunaan daya &lt;i style=""&gt;na&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Desdemona; letter-spacing: -5.5pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;¸&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;tiqah&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt; ini juga sangat tergantung pada pemiliknya. Hal ini menunjukkan, bahwa Ibn Miskawaih&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;memberikan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pengandaian&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;adanya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pluralitas dalam moral. Kebaikan dan kebajikan moral di sini tergantung pada faktor subjektivitas pelaku moral, bukan pada suatu tatanan yang telah dianggap matang adanya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;Di lain pihak, apabila diperhatikan lebih lanjut, pertimbangan &lt;i style=""&gt;hikmah&lt;/i&gt; sebagai bentuk nyata dari pembenaran tin-dakan moral yang ditampilkan Ibn Miskawaih tidak mengacu pada mempertentangkan kebahagiaan (sa`&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Matisse ITC&amp;quot;; letter-spacing: -5.5pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;¯&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;adah) subjek moral dengan tuntutan moral. Tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa sesuatu perbuatan yang baik dan bajik itu bagi Ibn Miskawaih tergantung pada pandangan subjek moral yang bersifat individualistis, karena teori etikanya yang justru mengandaikanbahwa setiap manusia memiliki pandangan moral yang sama. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;Kecuali itu, perilaku moral pada dasarnya tidak lain adalah semacam tindakan yang bercermin pada tindakan-tindakan yang ilahiyah. Sasaran moral Ibn Miskawaih tidak lain adalah berperilaku seperti perbuatan Tuhan. Sedangkan perbuatan Tuhan selamanya tanpa pamrih. Hal ini berarti,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bahwa&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kebaikan dan kebajikan moral yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sesungguhnya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;merupakan bahagian integral dari kebaikan dan kebajikan semua subjek moral. Setiap orang akan mengorientasikan segala&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;tindakan moralnya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;hanya pada pentransformasian sifat-sifat ilahiyah ke dalam dirinya. Sedangkan sifat Tuhan selamanya tidak tampil dalam bentuknya yang plural, maka secara niscaya perilaku moral manusia itu pun tidak akan pernah mengambil bentuknya yang plural. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;Ibn Miskawaih memberikan pengandaian, bahwa perilaku moral bersumber pada subjek moral. Sifat dan bentuknya universal,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sehingga semua orang, dengan akal sehatnya, tetap menerima kebaikan dan kebajikan moral. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;Meskipun ada pendapat yang mengatakan, bahwa perbuatan moral tidak lain adalah sikap seseorang dalam mengambil keputusan di mana sifatnya sangat tergantung pada diri seseorang yang secara niscaya melahirkan pluralitas dalam moral, namun bukan berarti&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tidak ada fakta yang dapat dijadikan sebagai alat pengukur suatu tindakan moral. sebaliknya, tindakan moral adalah tindakan yang lahir dari pengetahuan manusia tentang yang baik dan yang buruk, sehingga eksistensinya pun dapat diajarkan. Ibn Miskawaih dalam hal ini cenderung melihat perilaku moral itu dari segi moral sebagai sikap dan moral sebagai pengetahuan yang kebenarannya dapat diuji.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Untuk yang terakhir ini, agaknya yang dimaksud adalah patokan-patokan yang dapat dianggap sebagai karakteristik suatu perbuatan yang baik. Dari kriteria-kriteria perbuatan yang baik inilah akan diketahui apakah suatu tindakan itu dapat dikategorikan pada perbuatan moral atau tidak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.15pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;Berbicara masalah yang "baik"secara niscaya tidak terlepas dari keputusan moral. Sedangkan keputusan moral erat kaitannya dengan bentuk nilai (virtues) yang menjadi bahan pertimbangan perilaku moral. Nilai (virtues) itu ada dua macam, ada yang sifatnya instrinsik dan ada pula yang ekstrinsik. Aktivitas moral dalam konteks pemikiran Ibn Miskawaih mengandaikan kebaikan dan kebajikan moral mencakup kedua aspek itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;Mengenai apa yang menjadi sumber perbuatan moral, Ibn Miskawaih mengungkapkan, bahwa moralitas dapat berasal dari diri manusia sebagai makhluk indididu dan sosial dan dapat pula berasal dari sumber normativitas Agama. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;Konsekuensinya, Ibn Miskawaih berarti mengakui adanya subjektivitas dan objektivitas dalam moral.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;Ibn Miskawaih mengakui, bahwa kebajikan (virtues) merupakan bukti nyata dari kebebasan manusia. Kebebasan manusia dalam menentukan kemanusiaan ini ditandai dengan upayanya melepaskan diri dari cengkeraman hawa nafsu yang selalu cenderung kepada kebahagiaan-kebahagiaan material yang hanya bersifat sementara. Jadi, kebebasan manusia dalam konteks teori etika Ibn Miskawaih ini lebih bersifat kebebasan eksistensial, bukan kebebasan substansial. Kebebasan bagi mereka dimaknai dengan terbebas dari kekuatan-kekuatan yang dapat mengganggu optimalisasi upaya manusia dalam meraih kebahagiaan hakiki yang memang diinginkan oleh setiap manusia berakal.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;Ibn Miskawaih sebagai seorang filsuf Muslim yang lebih mengedepankan peranan rasio dalam setiap pemikiran etikanya menjadikan ajaran-ajaran moralnya bersifat rasional dan lebih dapat dipertanggung jawabkan. Meskipun Ibn Miskawaih mengandaikan bahwa manusia adalah makhluk rasional yang secara bebas dapat menentukan perilaku moral-nya, namun ia tetap melihat, bahwa kehadiran syari`at bukanlah menjadi sesuatu yang dapat mengganggu dan atau mengurangi eksistensi kebebasan manusia. Ibn Miskawaih justru mengandaikan, bahwa perilaku moral rasional itu juga ditandai dengan adanya pengakuan individu itu pada dogma-dogma normatif yang bersumber dari syari`at.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;Pendialektikan antara kebebasan manusia dan kehadiran norma Agama dilandasai oleh suatu keyakinan dasarnya, bahwa norma Agama merupakan aturan-aturan yang dapat mengarahkan manusia menjadi bermoral. Manusia bebas untuk menerima atau tidak menerima suatu norma. Norma tidak mengikat dan memaksa manusia untuk melakukannya. Dengan kata lain, norma tetap memberikan kebebasan pada manusia untuk memilih dan memutuskan tindakannya. Hanya saja, karena sifatnya yang memang berisi nilai-nilai kebajikan, maka manusia yang terbebas dari kungkungan dorong-an hawa nafsu akan tetap memberikan keputusan untuk me-nerima sebagai suatu ajaran yang mesti direalisasikan dalam bentuk tindakan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;Kecuali itu, dilihat dari motiasi moralitas, Ibn Miskawaih memandang kebaikan dan kebajikan moral sebagai sesuatu yang menjadi milik pribadi yang dalam. Kebaikan dan kebajikan senantiasa meliputi hubungan individu dengan Sang Pencipta (Khaliq). Adanya ide penyucian diri (self-purification) dan peraihan kebahagiaan (sa`&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Matisse ITC&amp;quot;; letter-spacing: -5.5pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;¯&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;adah) sebagai tujuan etika adalah sebagai bukti nyata, bahwa kebaikan dan kebajikan itu bersifat individualistis. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;Pemikiran Ibn Miskawaih tidak dapat sepenuhnya digolongkan pada kelompok egoisme, karena konsep keadilan sebagai puncak kebaikan dan kebajikan moral yang dikemukakannya tidak lain adalah sebagai manifestasi dari perwujudan sikap hidup seseorang dalam menghadapi orang lain di luar dirinya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;Dalam kitab &lt;i style=""&gt;Tahz&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Matisse ITC&amp;quot;; letter-spacing: -5.5pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;¯&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;ib al-Akhl&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Matisse ITC&amp;quot;; letter-spacing: -5.5pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;¯&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;aq&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;nya, Ibn Miskawaih menegaskan, bahwa seseorang tidak dapat dikatakan adil jika ia belum memuliakan isterinya, sanak famili isterinya atau bahkan belum mengenal isterinya secara mendalam.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Lebih lanjut, Ibn Miskawaih menyebutkan, bahwa orang yang paling baik adalah orang yang melaksanakan apa yang terbaik bagi keluarganya, sanak keluarganya (familinya), juga ke-rabatnya yang meliputi saudara, orang tua, keturunan, relasi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kerjanya,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tetangga&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan para temannya.&lt;a style="" href="#_ftn59" name="_ftnref59" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;[59]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;Selain itu, adil dalam konteks Ibn Miskawaih juga diidentikkan dengan ketaqwaan kepada Allah SWT, karena baik adil maupun taqwa sama-sama merupakan perilaku insaniyah yang tampil sebagai puncak dan kesempurnaan bagi semua perilaku baik dan bajik.&lt;a style="" href="#_ftn60" name="_ftnref60" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;[60]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Pendeknya, orang adil adalah juga orang yang taqwa kepada Allah SWT, sedangkan orang yang taqwa kepada Allah SWT secara niscaya adalah juga orang yang adil. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;Meskipun Ibn Miskawaih menjadikan keadilan sebagai kebaikan dan kebajikan tertinggi dalam teori etikanya, namun apabila dianalisis lebih lanjut, ide keadilan yang ditampilkannya ini pun juga tidak terlepas dari kebajikan pribadi dalam kaitannya dengan Yang Maha Kuasa. Yang diutamakan di sini adalah hubungan pribadi dengan Pencipta, bukan bagaimana kaitannya dengan kebajikan orang lain di luar dirinya. Nilai baik dalam konteks teori etika Ibn Miskawaih ini kurang menyadari akan adanya eksistensi orang lain selain diri individu dan Tuhan sebagai pencipta alam semesta, karena semua tindakan moral selalu berorientasi pada kepentingan individu itu sendiri. Hubungan antar manusia pun adalah dalam rangka peningkatan kualitas relasi pribadi bukan kolektif. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;Kecuali itu, ide Ibn Miskawaih tentang kebahagiaan (sa`&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Matisse ITC&amp;quot;; letter-spacing: -5.5pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;¯&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;adah) sebagai realisasi etikanya berada dalam keselarasan antara berbagai daya-daya jiwa, &lt;i style=""&gt;al-na&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Desdemona; letter-spacing: -5.5pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;¸&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;t&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Matisse ITC&amp;quot;; letter-spacing: -5.5pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;¯&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;iqah, al-gha&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Desdemona; letter-spacing: -5.5pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;¸&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;dabiyah &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;dan&lt;i style=""&gt; al-shahwaniyah&lt;/i&gt; dengan objek-objek yang dapat menampilkan suatu kebajikan lain yang ia namakan dengan &lt;i style=""&gt;`adalah.&lt;/i&gt; Karena &lt;i style=""&gt;`adalah&lt;/i&gt; itu sendiri tidak lain adalah suatu bentuk kebajikan yang secara otomatis berhadapan dengan orang lain di luar diri seseorang, maka kehidupan bermasyarakat seperti mencintai dan menghormati orang lain semisal tetangga dan teman merupakan bagian yang terpenting pula dalam teori etikanya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;Dari sisi lain, jika Ibn Miskawaih mengandaikan, bahwa&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;moralitas itu tidak terlepas dengan kehidupan bermasyarakat, (meskipun Ibn Miskawaih dalam hal ini berorientasi untuk mengedepankan kepentingan diri individu), berarti keduanya tentu juga mengandaikan perlunya hukum-hukum moral dalam tatanan kehidupan bermasyarakat. Pendeknya, ia tentu menerima hukum sebagai suatu bentuk atau bahagian dari moral. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;Ide Ibn Miskawaih yang seperti ini pada prinsipnya dilandasi oleh tesisnya, bahwa moralitas selamanya tidak akan pernah konflik sesamanya, sehingga jika seseorang telah memiliki moralitas yang tinggi, maka tidak akan pernah tidak diterima oleh individu-individu yang lainnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;Selain itu, dalam kehidupan bermasyarakat, Islam menekankan, bahwa setiap individu hendaklah memandang orang lain itu sama seperti memandang diri sendiri. Tidak ada perbedaan antara satu dengan yang lain kecuali taqwa kepada Allah SWT.&lt;a style="" href="#_ftn61" name="_ftnref61" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;[61]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Oleh karena itu, merupakan suatu kemestian dalam Islam untuk memperlakukan manusia itu sama tanpa memandang suku, bangsa, ras dan warna kulit. Pendeknya, tidak ada hak bagi seorang manusia untuk berbuat seenaknya dan memaksakan kehendaknya pada manusia lainnya. Sese-orang hendaklah senantiasa melakukan sesuatu yang tidak merugikan orang lain, apa lagi dirinya sendiri. Dengan demikian dapat dikatakan, bahwa dalam asas Islam tidak terdapat konflik antara kebebasan individu yang satu dengan individu yang lainnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;Sebagai makhluk sosial, manusia dalam Islam diharuskan untuk bekerja sama dalam meraih tujuan-tujuannya. Manusia berkewajiban untuk saling mengingatkan satu sama lainnya agar tidak terjerumus pada tindakan-tindakan yang merugikan dan mengajak orang lain untuk melakukan kebajikan-kebajikan.&lt;a style="" href="#_ftn62" name="_ftnref62" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;[62]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;Selain hubungan dengan Allah SWT, Islam juga menganjurkan untuk menjalin hubungan dengan sesama manusia.&lt;/span&gt;&lt;a style="" href="#_ftn63" name="_ftnref63" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;[63]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt; &lt;span lang="SV"&gt;Dengan demikian, tidak benar jika ada anggapan yang mengatakan, bahwa etika Islam bersifat individualistik dalam konteks teori etika moderen saat ini. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;Meskipun segala perilaku yang dilakukan manusia Muslim diarahkan semata-mata karena intres pribadinya, bukan ber-arti ia egois, karena memang setiap Muslim itu berkewajiban juga untuk menjaga kemaslahatan masyarakatnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;Terlepas dari semua itu, secara psikologis tidak pernah ada moralitas itu bersifat egoistik murni dan tidak pula pernah ada yang bersifat altruistik murni. Hal ini dikarenakan kedua aspek itu memang merupakan sifat-sifat dasar insaniah manusia itu sendiri. Yang jelas, mengingat manusia itu selain makhluk individu dan sosial, ia adalah juga makhluk ber-moral dan relijius, maka nilai-nilai moral dan relijius itu pun mestilah terrefleksi dalam kehidupan bermasyarakat. Oleh karena itu pula, hukum sebagai penyangga kehidupan bermasyarakat hendaklah dibangun di atas nilai-nilai moral. Hanya dengan cara demikian, hukum itu dapat berdiri kokoh dan tidak mudah digoyahkan oleh kekuatan apa pun juga. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;Teori kebebasan memang memberikan penghargaan penuh pada tujuan-tujuan individu yang secara niscaya meng-arah pada kemajuan-kemajuan, namun mengingat individu-individu itu didorong untuk bebas menentukan arah dan corak tindakan mana yang ia inginkan, maka bagaimana bentuk perilaku moral yang ditampilkan seseorang, sepenuhnya tergantung kepada pemilihan bebas individu. Selain itu, teori kebebasan mengacu pada pengandaian, bahwa suatu tindakan termasuk di dalamnya tindakan moral adalah sebagai hasil dari usaha rasional individu, tetapi karena sifatnya yang individual di mana antara individu yang satu dengan yang lainnya dalam banyak hal memilki perbedaan-perbedaan, maka perilaku-perilaku yang benar bagi seseorang belum tentu benar bagi yang lainnya, namun yang jelas, tindakan itu adalah benar secara rasional.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;Pemikiran&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;etika&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ibn Miskawaih yang menjadikan akal&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sebagai&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tonggak&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;terciptanya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;perilaku moral, menjadikan&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;etikanya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;lebih mudah diterima oleh masyarakat moderen saat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ini yang adalah juga begitu mengagungkan akal sebagai pencari kebenaran yang sesungguhnya. Dengan memberikan dominasi etika pada daya akal, secara niscaya melahirkan manusia-manusia yang kuat dalam meraih berbagai kemajuan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi yang memang menjadi karakteristik bagi dunia moderen. Meskipun demikian, yang perlu menjadi catatan tersendiri adalah apakah dengan adanya kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi sudah berarti manusia telah berhasil meraih sasaran hakikat ke-manusiaan yang sesungguhnya?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;Teori etika Ibn Miskawaih yang menempatkan keadilan (`adalah) sebagai bentuk kebaikan dan kebajikan tertinggi dalam kehidupan manusia merupakan pemikiran yang sangat berarti untuk pengembangan harkat dan martabat kemanusiaan dan dinilai tetap relevan bagi dunia moderen saat ini. Hal ini disebabkan, karena sikap moral seperti ini secara psikologis dapat memberikan dampak yang lebih luas dalam hidup dan kehidupan manusia baik sebagai makhluk individu maupun sebagai makhluk sosial, baik sebagai makhluk rasional maupun sebagai makhluk relijius. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;Meskipun pemikiran etika Ibn Miskawaih ini masih dibayangi oleh pemikirannya yang bersifat egoistik, namun sikap moral seperti ini tetap diperlukan, utamanya bagi ma-syarakat yang sedang membangun. Dengan sikap seperti ini, menjadikan manusia mampu menghadapi persaingan ketat antara individu sebagai corak kehidupan sekarang. Sikap ini menuntut adanya upaya maksimal seseorang untuk meningkatkan dirinya setinggi mungkin demi kebahagiaan dirinya yang secara niscaya memberikan konsekuensi kemajuan bagi ummat manusia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;Secara psikologis, manusia tidak dapat melepaskan diri dari keinginan-keinginannya untuk mengutamakan kepentingan ego atau pribadinya sendiri dari kepentingan orang lain, namun tidak pula dapat dipungkiri, bahwa manusia juga tidak dapat hidup sendirian. Eksistensi orang lain adalah juga sebagai penopang bagi eksistensinya. Selalu terjadi proses interdependensi antara individu yang satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu, kedua fungsi psikologis ini mesti mendapatkan porsi yang sama dalam pengembangan kemanusiaan seseorang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Eksistensi agama dalam kehidupan manusia memang diperlukan, utamanya dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan itu sendiri. Aspek agama tidak dapat diabaikan begitu saja. Agama diperlukan sebagai sumber otonom penting dalam dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena di dalam agama tertuang berbagai aspek yang men-dukung perjuangan kemanusiaan manusia yang bernaung di dalamnya, maka mengharuskan memandang agama dalam konteks normatif-historis merupakan suatu yang dapat dipandang layak. Hanya saja, konstruksi pemikiran keagamaan yang bagaimana yang dapat dipahami seperti demikian? Sebab, ada aspek-aspek penting di dalam-nya yang secara niscaya tidak dapat diubah sama sekali, utamanya bila hal itu menyangkut persoalan keimanan dan hukum-hukum tertentu.&lt;span style="letter-spacing: 0.4pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Selain hal di atas, pendapat Ibn Miskawaih yang menekankan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;penanaman nilai moral dari kecil melalui pelatihan dan pembiasaan yang kemudian diteruskan dengan pembinaan berpikir rasional, baru kemudian mengajarkan berbagai ilmu pengetahuan, sangat dapat diterima sebagai suatu bentuk model sistem pengajaran di lembaga-lembaga pendidikan. Dengan cara yang seperti ini, menjadikan ilmu-ilmu pengetahuan dan teknologi yang diperoleh dan dikembangkan senantiasa dibangun di atas nilai-nilai moral, sehingga secara niscaya ilmu-ilmu pengetahuan dan teknologi tidak akan pernah kehilangan nilai moralnya. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Nilai moral adalah poros bagi semua aktivitas manusia dalam mengembangkan peradabannya, baik politik, hukum, maupun ekonomi, sosial dan budaya. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Jika ada bidang yang keluar dari porosnya, secara niscaya bangunannya akan lemah dan tidak mustahil justru akan menghimpit dan membunuh penghuninya sendiri, yaitu manusia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;IV. KESIMPULAN&lt;span style="display: none;"&gt;.hy off&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: center; line-height: 18pt;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27.35pt; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;Tindakan moral dalam konsep etika Ibn Miskawaih adalah tindakan yang muncul melalui proses pemilihan akal pikiran yang kemudian dilakukan dengan sadar dan tanpa paksaan. Tindakan moral memiliki kaitan yang erat sekali dengan orang lain di luar diri pribadi seseorang di samping juga merupakan hasil pandangan seseorang terhadap realitasnya. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;Jadi, perilaku moral bagi Ibn Miskawaih sangat tergantung pada bagaimana subjek moral memandang realitasnya melalui pendayagunaan rasionya pada jalur natural.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27.35pt; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;Bagi Ibn Miskawaih manusia berbeda dengan makhluk-makhluk lainnya tidak lain adalah dengan daya berpikir (&lt;i&gt;al-na&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Matisse ITC&amp;quot;; letter-spacing: -5.5pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;¸&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;t&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Matisse ITC&amp;quot;; letter-spacing: -5.5pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;¯&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;iqah&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;) yang dimilikinya. Setiap orang yang pemikirannya lebih tepat dan benar serta pilihannya lebih baik, berarti kesempurnaan kemanusiaannya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pun lebih besar. Derajat kemanusiaan seseorang tergantung pada sejauh mana ia memfungsikan akal pikirannya dalam memilih dan memutuskan tindakan-tindakan moral. Dan ini adalah dimensi kebebasan yang membahagiakan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27.35pt; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;Manusia yang paling baik adalah manusia yang paling mampu melakukan tindakan-tindakan yang tepat baginya, yang paling memperhatikan syarat-syarat substansinya, yang membedakan dirinya dari seluruh benda-benda alam lainnya. Kewajiban manusia yang pasti adalah mengupayakan kebaikan dan kebajikan yang memang merupakan lambang kesempurnaan dan kebebasannya. Bukankah karena kebaikan itulah manusia diciptakan? Jika tindakan seseorang itu kurang atau di luar tujuan ciptaan dirinya, maka secara niscaya derajat kemanusiaannya akan merosot dan turun pada&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tingkatan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;hewan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: center; line-height: 18pt;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.3pt;"&gt;---oo0oo---&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: center; line-height: 18pt;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.3pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: center; line-height: 18pt;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.3pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: center; line-height: 18pt;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.3pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: center; line-height: 18pt;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.3pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: center; line-height: 18pt;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.3pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: center; line-height: 18pt;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.3pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: center; line-height: 18pt;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.3pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: center; line-height: 18pt;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.3pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: center; line-height: 18pt;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.3pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: center; line-height: 18pt;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.3pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: center; line-height: 18pt;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.3pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: center; line-height: 18pt;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.3pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: center; line-height: 18pt;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.3pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: center; line-height: 18pt;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.3pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: center; line-height: 18pt;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.3pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: center; line-height: 18pt;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.3pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: center; line-height: 18pt;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.3pt;"&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: center; line-height: 18pt;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; letter-spacing: 0.3pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.5in; line-height: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;al-Ansary, Abdul Haq., &lt;i style=""&gt;The Ethical Philosophy of Miskawaih, &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:country-region w:st="on"&gt;India&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;: Alligarh, 1964.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.5in; line-height: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;al-Baidawy, Abd. Rahman, &lt;i style=""&gt;Tasdir kitab al-Hikma al-Khalida jawidan Khirad,&lt;/i&gt; &lt;st1:city w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;Baghdad&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dar al-andalusy, 1980.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.5in; line-height: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="NL"&gt;Al-Ghazali., &lt;i style=""&gt;al-Munqiz min al-Dhalal&lt;/i&gt;, .Bairut: Dar al-Fikr, 1972.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.5in; line-height: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Amin, Ahmad., &lt;i style=""&gt;Fajr al-Islam, &lt;/i&gt;Juz I. .Mesir: Maktabah al-Nahdah, 1935.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.5in; line-height: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="SV"&gt;..........., &lt;i style=""&gt;Dhuha&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;al-Islam&lt;/i&gt;,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Juz I, Bairut: Dar al-Fikr, 1946.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.5in; line-height: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Ann, Nancy Davis., "Contemporary Deontology", dalam Peter Singer (ed)., &lt;i style=""&gt;A Companion to Ethics&lt;/i&gt;, &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:state w:st="on"&gt;New York&lt;/st1:state&gt;&lt;/st1:place&gt;: Black-well, 1992.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.5in; line-height: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Arkoun, Muhammad., &lt;i style=""&gt;Contribution A L'etude De L'humanisme Arabe Au IV / X Siecle Miskawaih (320/325 - 421) = 932/936 - 1030)&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Philosophe Et&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Historien,&lt;/i&gt; Paris: Libraire Philosophique J. Vrin. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.5in; line-height: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Baum, G. E. Van Grunei., &lt;i style=""&gt;Classical Islam, A History 600 AD - 1258 AD&lt;/i&gt;, Terj. Catherine Watson, Chicago: Aldin Publishing Company, 1970.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.5in; line-height: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Bertren, K., &lt;i style=""&gt;Etika&lt;/i&gt;, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1994.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.5in; line-height: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Cahyadi, S. P.Lili T., &lt;i style=""&gt;Hukum Moral Ajaran Immanuel Kant tenntang Etika dan Imperatif Kategoris&lt;/i&gt;,: Yogyakarta, Kanisius, 1991.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.5in; line-height: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Izzat, Abdul 'Aziz.,&lt;i style=""&gt; Ibn Miskawaih; Falsafah al-Akhlaqiyah Wa Mashadiruha,&lt;/i&gt; Mesir: Syirkah Maktabah Wa Matba'ah Mustafa al-Baby al-Halaby, 1946.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.5in; line-height: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="SV"&gt;De Vos, &lt;i style=""&gt;Pengantar Etika&lt;/i&gt;, Terjemahan Soejono Soemargono, Yogyakarta: Tiara Wacana, 1987.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.5in; line-height: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Fromm, Erich., &lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Lari dari Kebebasan&lt;/i&gt;, Terjemahan Kamdani, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1997.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.5in; line-height: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Grimsley, Ronald., &lt;i style=""&gt;Rousseau and The Religious Quest,&lt;/i&gt; &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;Oxford&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;: Clarendon Press, 1968.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.5in; line-height: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Hourani, George&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;F.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;., &lt;i style=""&gt;Islamic Rasionalism Ethics of `Abd al-Jabbar&lt;/i&gt;, &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;London&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;: Cambridge University Press, 1984.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.5in; line-height: 12pt;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;……., &lt;i style=""&gt;Reason and Tradition in Islamic Ethics&lt;/i&gt;, &lt;st1:city w:st="on"&gt;Cambridge&lt;/st1:city&gt;: &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:placename w:st="on"&gt;Cambridge&lt;/st1:placename&gt; &lt;st1:placetype w:st="on"&gt;University&lt;/st1:placetype&gt;&lt;/st1:place&gt; Press, 1985. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.5in; line-height: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="SV"&gt;Ibn Athir, &lt;i style=""&gt;Tarikh Kamil, &lt;/i&gt;Bairut: Dar al-Fikr, t.t.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.5in; line-height: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Ibn Miskawaih, &lt;i style=""&gt;Tahz&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Matisse ITC&amp;quot;; letter-spacing: -5pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;¯&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="SV"&gt;ib al-Akhl&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Matisse ITC&amp;quot;; letter-spacing: -5pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;¯&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="SV"&gt;aq&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="SV"&gt;, ed. Hasan Tamir, &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Bairut: Mahdawi, 1398 H.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.5in; line-height: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="NL"&gt;........., &lt;i style=""&gt;Tajarib al-Umam&lt;/i&gt;, Vol. 1, Ed. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Leone Caeta&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="NL"&gt;ni, &lt;st1:city w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;Leiden&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;: E.J. Brill, 1909.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.5in; line-height: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="NL"&gt;........., &lt;i style=""&gt;Tahzib al-Akhlaq&lt;/i&gt;, Ed. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Syekh Hasan Tamir, Bairut: Mahdawi, 1398 H.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.5in; line-height: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Iqbal, &lt;i style=""&gt;Pembangunan Kembali Alam Pikiran Islam&lt;/i&gt;, terjemahan Osman Raliby, Jakarta: Bulan Bintang, 1978.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.5in; line-height: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;J.J.Rousseau, &lt;i style=""&gt;Du Contrat Social&lt;/i&gt;, Paris: Libraire Larousse, 1973.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.5in; line-height: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Medlin, Brian., “Ultimate Principles and Ethical Egoism”, dalam Paul W. Taylor (ed), &lt;i style=""&gt;Problem of Moral Philosophy&lt;/i&gt;, &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:state w:st="on"&gt;California&lt;/st1:state&gt;&lt;/st1:place&gt;: Dickenson Publishing Company, Inc, 1967.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.5in; line-height: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Musa, Muhd. Yusuf., &lt;i style=""&gt;Falsafah al-Akhlaq Fi al-Islam Wa Shilatuha Bi al-Falsafah al-Ighraqiyah,&lt;/i&gt; Kairo: Muassisah al-Khanjy, 1963.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.5in; line-height: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Poudjawijatna, I.R., &lt;i style=""&gt;Etika, Filsafat Tingkah Laku,&lt;/i&gt; Jakarta: Bintang Obor, 1982.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.5in; line-height: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Solomon, Robert C., &lt;i style=""&gt;Etika Suatu Pengantar,&lt;/i&gt; terjemahan Drs. R. Andre Karo-karo, Jakarta: Erlangga, 1987.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.5in; line-height: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Suseno, Franz Magniz., &lt;i style=""&gt;Etika Dasar Masalah-Masalah Pokok Filsafat Moral, &lt;/i&gt;Yogyakarta: Knisius, 1993.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.5in; line-height: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Syukur, Dister Nico., &lt;i&gt;Filsafat Kebebasan&lt;/i&gt;, Yogyakarta: Kanisius, 1997. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.5in; line-height: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Titus,&lt;span style="display: none;"&gt;.hy off&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.5in; line-height: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; display: none;"&gt;.hy off&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.5in; line-height: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Harnold H., &lt;i style=""&gt;Living Issues in Philosophy&lt;/i&gt;, &lt;st1:state w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;New   York&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:state&gt;: Van Nostrand Reinhold Company, 1970.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;br clear="all"&gt;  &lt;hr size="1" width="33%" align="left"&gt;  &lt;!--[endif]--&gt;  &lt;div style="" id="ftn1"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref1" name="_ftn1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt; Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Suska Riau;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Rumah: Puri Rajawalimas E 5 Jl. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Rajawali Sakti Panam Pekanbaru; E-mail: &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;a href="mailto:muhmidayeli@yahoo.co.id"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;muhmidayeli@yahoo.co.id&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="SV"&gt; ;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;HP: 0816370599.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn2"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref2" name="_ftn2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="SV"&gt; Ibn Miskawaih, &lt;i style=""&gt;Tahzib al-Akhlaq,&lt;/i&gt; Ed. Syekh Hasan Tamir, (Bairut, Mahdawi, 1398 H, 36.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn3"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref3" name="_ftn3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt; &lt;i style=""&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Ibid.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="SV"&gt;, 49.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn4"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref4" name="_ftn4" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt; &lt;i style=""&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Ibid., &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="SV"&gt;36.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn5"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref5" name="_ftn5" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt; &lt;i style=""&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Ibid.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="SV"&gt;, 111.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn6"&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref6" name="_ftn6" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Muhd. Yusuf Musa., &lt;i style=""&gt;Falsafah al-Akhlaq Fi al-Islam Wa Shilatuha Bi al-Falsafah al-Ighraqiyah,&lt;/i&gt; (Kairo, Muassisah al-Khanjy, 1963), 73.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn7"&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref7" name="_ftn7" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="SV"&gt;I b i d&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="SV"&gt;., 75.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn8"&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref8" name="_ftn8" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; display: none;" lang="SV"&gt;.hy off&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Ibn Miskawaih, &lt;i style=""&gt;Tajarib al-Umam&lt;/i&gt;, Vol. 1, Ed. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="NL"&gt;Leone Caetani, (Leiden, E.J. Brill, 1909), 276.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn9"&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref9" name="_ftn9" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="SV"&gt; Kecuali itu, dengan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="NL"&gt;merujuk pada sejarah Islam, ternyata tokoh sejarah yang dikenal dengan Ibn al-`Amid ini tidak lain adalah Sahib Abu al-Fadal Muhammad Ibn al-`Amid Abi `Abdillah Husain Ibn Muhammad, seorang wazir dari Rukn al-Dawlah Abi `Ali al-Hasan Ibn Buwaih al-Dailamy, ayah `Addu al-Dawlah (328 H / 937 M), salah seorang penguasa dari bani Buwaihid. Ibn `Amid ini adalah seorang wazir yang dikenal memiliki pengetahuan luas dalam bidang filsafat dan ilmu nujum, khususnya dalam bidang sastra.&lt;span style="letter-spacing: 0.4pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn10"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref10" name="_ftn10" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;[10]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="NL"&gt;Abd. Rahman al-Baidawy, &lt;i style=""&gt;Tasdir kitab al-Hikma al-Khalida jawidan Khirad,&lt;/i&gt; (Baghdad,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dar al-andalusy, 1980), 5.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Lihat Mu`jam al-Udaba’, 75&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn11"&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref11" name="_ftn11" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;[11]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Abdul Haq al-Ansary, &lt;i style=""&gt;The Ethical Philosophy of Miskawaih, &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;(India, Alligarh, 1964),&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;50.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn12"&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref12" name="_ftn12" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;[12]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Baidawy., &lt;i style=""&gt;Op. Cit.&lt;/i&gt;, 19.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn13"&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref13" name="_ftn13" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;[13]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;I b i d&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;,. 17.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn14"&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref14" name="_ftn14" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;[14]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Muhammad Yusuf Musa., &lt;i style=""&gt;Op Cit.&lt;/i&gt;, 87.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn15"&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref15" name="_ftn15" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;[15]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Ibn Miskawaih., &lt;i style=""&gt;Tahzib al-Akhlaq&lt;/i&gt;, Ed. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Syekh Hasan Tamir, (Bairut, Mahdawi, 1398 H),&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;65.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn16"&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref16" name="_ftn16" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;[16]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;G. E. Van Grunei Baum., &lt;i style=""&gt;Classical Islam, A History 600 AD - 1258 AD&lt;/i&gt;, Terj. Catherine Watson, (Chicago, Aldin Publishing Company, 1970), 142-143.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn17"&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref17" name="_ftn17" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;[17]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Muhammad Arkoun., &lt;i style=""&gt;Contribution A L'etude De L'humanisme Arabe Au IV / X Siecle Miskawaih (320/325 - 421) = 932/936 - 1030)&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Philosophe Et&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Historien,&lt;/i&gt; (Paris, Libraire Philosophique J. Vrin), 57. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn18"&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref18" name="_ftn18" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;[18]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;George&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;F.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Hourani., &lt;i style=""&gt;Islamic Rasionalism Ethics of `Abd al-Jabbar&lt;/i&gt;, (London,, Cambridge University Press, 1984),&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;8.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn19"&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref19" name="_ftn19" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;[19]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="NL"&gt;Jurjy Zaidan., &lt;i style=""&gt;Op Cit,&lt;/i&gt; Juz I, 539-543.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn20"&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref20" name="_ftn20" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;[20]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="NL"&gt;Abdul Haq al-Ansari., &lt;i style=""&gt;Op Cit., &lt;/i&gt;1.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn21"&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref21" name="_ftn21" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;[21]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="NL"&gt;I b i d.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="NL"&gt;, 2.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn22"&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref22" name="_ftn22" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;[22]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="NL"&gt;Ibn Miskawaih., &lt;i style=""&gt;Tajarib al-Umam, Op Cit.&lt;/i&gt;, 8.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn23"&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref23" name="_ftn23" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;[23]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; display: none;" lang="NL"&gt;.hy off&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Ibn Athir, &lt;i style=""&gt;Tarikh Kamil, (&lt;/i&gt;Bairut, Dar al-Fikr, t.t.), 304&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn24"&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref24" name="_ftn24" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;[24]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="NL"&gt; Ibn Miskawaih., &lt;i style=""&gt;Tajarib al-Umam, Op Cit.&lt;/i&gt;,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;286.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn25"&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref25" name="_ftn25" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;[25]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Ahmad Amin, &lt;i style=""&gt;Fajr al-Islam, &lt;/i&gt;Juz I. (Mesir, Maktabah al-Nahdah, 1935),&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;145&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn26"&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref26" name="_ftn26" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;[26]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="NL"&gt;Al-Ghazali., &lt;i style=""&gt;al-Munqiz min al-Dhalal&lt;/i&gt;, (Bairut, Dar al-Fikr, 1972), 135.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn27"&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref27" name="_ftn27" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;[27]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="SV"&gt;I b i d.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn28"&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref28" name="_ftn28" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;[28]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="SV"&gt;I b i d.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="SV"&gt;, 125.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn29"&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref29" name="_ftn29" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;[29]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Ahmad Amin, &lt;i style=""&gt;Op Cit.&lt;/i&gt;, 146.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn30"&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref30" name="_ftn30" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;[30]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Abdul 'Aziz Izzat.,&lt;i style=""&gt; Ibn Miskawaih; Falsafah al-Akhlaqiyah Wa Mashadiruha,&lt;/i&gt; (Mesir, Syirkah Maktabah Wa Matba'ah Mustafa al-Baby al-Halaby, 1946), 202-203.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn31"&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref31" name="_ftn31" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;[31]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="SV"&gt;I b i d.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="SV"&gt;, 203.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn32"&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref32" name="_ftn32" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;[32]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Ahmad Amin., &lt;i style=""&gt;Dhuha&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;al-Islam&lt;/i&gt;,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Juz I, (Bairut, Dar al-Fikr, 1946), 199.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn33"&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref33" name="_ftn33" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;[33]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;George, F.Hourani., &lt;i style=""&gt;Loc Cit&lt;/i&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn34"&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref34" name="_ftn34" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;[34]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Muhammad Arkoun., &lt;i style=""&gt;Loc Cit&lt;/i&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn35"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref35" name="_ftn35" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;[35]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Muhammad Arkoun,&lt;i style=""&gt; Op.Cit., &lt;/i&gt;114 &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn36"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref36" name="_ftn36" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;[36]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="SV"&gt; K.Bertren, &lt;i style=""&gt;Etika&lt;/i&gt;, (Jakarta, Gramedia Pustaka Utama, 1994), 159.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn37"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref37" name="_ftn37" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;[37]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="SV"&gt; S.P.Lili T.Cahyadi, &lt;i style=""&gt;Hukum Moral Ajaran Immanuel Kant tenntang Etika dan Imperatif Kategoris&lt;/i&gt;, (Yogyakarta, Kanisius, 1991), 48.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn38"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref38" name="_ftn38" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;[38]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="SV"&gt; Franz Magniz Suseno, &lt;i style=""&gt;Etika Dasar Masalah-Masalah Pokok Filsafat Moral, (&lt;/i&gt;Yogyakarta, Knisius, 1993), 21.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn39"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref39" name="_ftn39" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;[39]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt; J.J.Rousseau, &lt;i style=""&gt;Du Contrat Social&lt;/i&gt;, (Libraire Larousse, 1973), 24-25.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn40"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref40" name="_ftn40" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;[40]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="NL"&gt; Ibn Miskawaih , &lt;i style=""&gt;Op. &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Cit.,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="SV"&gt;50-60&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="SV"&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn41"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref41" name="_ftn41" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;[41]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="SV"&gt; De Vos, &lt;i style=""&gt;Pengantar Etika&lt;/i&gt;, Terjemahan Soejono Soemargono, (Yogyakarta,Tiara Wacana, 1987), 17-18. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn42"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref42" name="_ftn42" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;[42]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="SV"&gt; Erich Fromm, &lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Lari dari Kebebasan&lt;/i&gt;, Terjemahan Kamdani, (Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 1997), 35.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn43"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref43" name="_ftn43" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;[43]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="SV"&gt; Dister Nico Syukur, Filsafat Kebebasan, (Yogyakarta, Kanisius, 1997), 143-144. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn44"&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref44" name="_ftn44" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;[44]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Ibid.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;, 213.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn45"&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref45" name="_ftn45" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;[45]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Nancy Davis Ann, "Contemporary Deontology", dalam Peter Singer (ed)., &lt;i style=""&gt;A Companion to Ethics&lt;/i&gt;, (New York, Black-well, 1992), 205-206.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn46"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref46" name="_ftn46" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;[46]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Brian Medlin, “Ultimate Principles and Ethical Egoism”, dalam Paul W. Taylor (ed), &lt;i style=""&gt;Problem of Moral Philosophy&lt;/i&gt;, (California, Dickenson Publishing Company, Inc, 1967), 130.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn47"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref47" name="_ftn47" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;[47]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Ibid.,&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="SV"&gt; 131.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn48"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref48" name="_ftn48" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;[48]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Robert C. Solomon, &lt;i style=""&gt;Etika Suatu Pengantar,&lt;/i&gt; terjemahan Drs. R. Andre Karo-karo, (Jakarta, Erlangga, 1987), &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;67.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn49"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref49" name="_ftn49" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;[49]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Ibid.,&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt; 66-67.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn50"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref50" name="_ftn50" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;[50]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;George F. Hourani, &lt;i style=""&gt;Reason and Tradition in Islamic Ethics&lt;/i&gt;, (Cambridge, Cambridge University Press, 1985), &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;23-25. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn51"&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref51" name="_ftn51" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;[51]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Harnold H. Titus, &lt;i style=""&gt;Living Issues in Philosophy&lt;/i&gt;, (New York, Van Nostrand Reinhold Company, 1970), &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;358-359.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn52"&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref52" name="_ftn52" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;[52]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Ibn Miskawaih, &lt;i style=""&gt;Tahz&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Matisse ITC&amp;quot;; letter-spacing: -5pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;¯&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;ib al-Akhl&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Matisse ITC&amp;quot;; letter-spacing: -5pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;¯&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;aq&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;, ed. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Hasan Tamir, &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;(Bairut,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Mahdawi, 1398 H), 10, 63, 69, 71 dan 81-82.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn53"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref53" name="_ftn53" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;[53]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Ronald Grimsley, &lt;i style=""&gt;Rousseau and The Religious Quest,&lt;/i&gt; (Oxford, Clarendon Press, 1968), 133-134.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn54"&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref54" name="_ftn54" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;[54]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="SV"&gt;I.R.Poudjawijatna, &lt;i style=""&gt;Etika, Filsafat Tingkah Laku,&lt;/i&gt; (Jakarta, Bintang Obor, 1982), 10.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn55"&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref55" name="_ftn55" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;[55]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Iqbal, &lt;i style=""&gt;Pembangunan Kembali Alam Pikiran Islam&lt;/i&gt;, terjemahan Osman Raliby, (Jakarta, Bulan Bintang, 1978), &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;151-152.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn56"&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref56" name="_ftn56" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;[56]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;J.J.Rousseau, &lt;i style=""&gt;Du Contrat Social&lt;/i&gt;, Extraits par Madeleine Le Bras, (Sarbonne, Libraire Larousse, 1973), &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;24.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn57"&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref57" name="_ftn57" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;[57]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Ibid.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;, 374.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn58"&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref58" name="_ftn58" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;[58]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Ibn Miskawaih, &lt;i style=""&gt;Tahz&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Matisse ITC&amp;quot;; letter-spacing: -5.5pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;¯&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;ib al-Akhl&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Matisse ITC&amp;quot;; letter-spacing: -5.5pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;¯&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;aq&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;, ed. Syekh. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Hasan Tamir, (Bairut, Mahdawi, 421H), &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;32-33, 36 dan 67.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn59"&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref59" name="_ftn59" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;[59]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Ibid, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;44.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn60"&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref60" name="_ftn60" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;[60]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Ibid.,&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;45.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn61"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref61" name="_ftn61" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;[61]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;al-Qur’an, 49: 13.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn62"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref62" name="_ftn62" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;[62]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Ibid.,&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt; 3: 104 dan 5: 2.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn63"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref63" name="_ftn63" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;[63]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Ibid.,&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt; 3: 112.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4134222016972542877-8409335052362258890?l=muhmidayeli-perpustakaanmuhmida.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhmidayeli-perpustakaanmuhmida.blogspot.com/feeds/8409335052362258890/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muhmidayeli-perpustakaanmuhmida.blogspot.com/2009/06/moralitas-dan-kebebasan-manusia-dalam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4134222016972542877/posts/default/8409335052362258890'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4134222016972542877/posts/default/8409335052362258890'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhmidayeli-perpustakaanmuhmida.blogspot.com/2009/06/moralitas-dan-kebebasan-manusia-dalam.html' title='Moralitas dan Kebebasan Manusia dalam Konstelasi Pemikiran Etika Ibn Miskawaih'/><author><name>muhmidayeli</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08080079530456384027</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_sUDEfuQg6gw/SxYaajpzvvI/AAAAAAAAACU/jlIaHXHd_EA/S220/IMG_0122.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4134222016972542877.post-298562384489127626</id><published>2009-06-15T02:04:00.000-07:00</published><updated>2009-11-28T21:06:26.116-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;meta http-equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CAxioo%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="City"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="place"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object  classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id=ieooui&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Tahoma; 	panose-1:2 11 6 4 3 5 4 4 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:1627421319 -2147483648 8 0 66047 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} p.MsoFootnoteText, li.MsoFootnoteText, div.MsoFootnoteText 	{mso-style-noshow:yes; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} p.MsoHeader, li.MsoHeader, div.MsoHeader 	{margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	tab-stops:center 207.65pt right 415.3pt; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} p.MsoFooter, li.MsoFooter, div.MsoFooter 	{margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	tab-stops:center 207.65pt right 415.3pt; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} span.MsoFootnoteReference 	{mso-style-noshow:yes; 	vertical-align:super;} p.MsoBodyText, li.MsoBodyText, div.MsoBodyText 	{margin-top:6.0pt; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:0in; 	margin-left:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	text-align:justify; 	line-height:24.0pt; 	mso-line-height-rule:exactly; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:13.0pt; 	mso-bidi-font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	letter-spacing:.4pt;} p.MsoBodyTextIndent, li.MsoBodyTextIndent, div.MsoBodyTextIndent 	{margin-top:6.0pt; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:0in; 	margin-left:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	text-align:justify; 	text-indent:.5in; 	line-height:24.0pt; 	mso-line-height-rule:exactly; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} p.MsoBodyTextIndent2, li.MsoBodyTextIndent2, div.MsoBodyTextIndent2 	{margin-top:6.0pt; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:0in; 	margin-left:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	text-align:justify; 	text-indent:27.0pt; 	line-height:15.0pt; 	mso-line-height-rule:exactly; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:Tahoma; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}  /* Page Definitions */  @page 	{mso-footnote-separator:url("file:///C:/DOCUME~1/Axioo/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_header.htm") fs; 	mso-footnote-continuation-separator:url("file:///C:/DOCUME~1/Axioo/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_header.htm") fcs; 	mso-endnote-separator:url("file:///C:/DOCUME~1/Axioo/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_header.htm") es; 	mso-endnote-continuation-separator:url("file:///C:/DOCUME~1/Axioo/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_header.htm") ecs;} @page Section1 	{size:421.0pt 609.55pt; 	margin:85.05pt 63.8pt 70.9pt 63.8pt; 	mso-header-margin:53.85pt; 	mso-footer-margin:47.9pt; 	mso-page-numbers:roman-lower 5; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;}  /* List Definitions */  @list l0 	{mso-list-id:1140079646; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-1123529004 67698709 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l0:level1 	{mso-level-number-format:alpha-upper; 	mso-level-tab-stop:.5in; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-.25in;} @list l1 	{mso-list-id:1372997465; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:1365807730 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l1:level1 	{mso-level-tab-stop:.5in; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-.25in;} ol 	{margin-bottom:0in;} ul 	{margin-bottom:0in;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;o:shapedefaults v:ext="edit" spidmax="2049"/&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;o:shapelayout v:ext="edit"&gt;   &lt;o:idmap v:ext="edit" data="1"/&gt;  &lt;/o:shapelayout&gt;&lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 15pt;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 15pt;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 15pt;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 15pt;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 15pt;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt;" lang="SV"&gt;SEKOLAH DAN TRANSFORMASI MASYARAKAT:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 15pt;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt;" lang="SV"&gt;KENISCAYAAN NILAI MORAL&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 15pt;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 15pt;" align="center"&gt;Oleh: Dr. Muhmidayeli, M.Ag&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 15pt;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 15pt;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in 0.0001pt 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.5in; line-height: 15pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;A.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Sekolah sebagai Rekayasa Masyarakat&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height: 15pt;"&gt;Esensi pendidikan dalam usaha persekolahan tidak lain adalah pengupayaan perubahan ke arah yang lebih “baik”, sehingga jika tanpa ada perubahan dan kebaikan yang mengarah pada pengembangan, menurut tujuan–tujuan yang telah ditetapkan, sama artinya proses kependidikan yang berlangsung tanpa makna dan nilai. &lt;span style="" lang="SV"&gt;Esensinya yang sedemikian, meniscayakan pendidikan berorientasi pada masa depan, bukan masa sekarang, dan atau hanya sekedar pelestarian nilai-nilai semata. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height: 15pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sebagai wadah perubahan dan kebaikan yang ber-muatan pengembangan tentunya pendidikan persekolahan dapat dikatakan sebagai sarana rekayasa individual dan sosial, pengembangan kemanusian&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ke arah pembangunan kehidupan masyarakat yang lebih baik yang menjadi lambang bagi entitasnya. Oleh karena itu, maka penyesuaian misi sekolah dengan kebutuhan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;seseorang atau sekelompok orang dalam suatu masyarakat yang terlibat di dalam aktivitasnya merupakan suatu kemestian. Tanpa itu, maka apa yang dilakukan sekolah tidak akan dapat menjawab persoalan-persoalan masyarakat itu sendiri dan ini berarti upaya pendidikan persekolahan menjadi sia-sia dan atau tanpa makna, yang pada gilirannya akan dapat menghilang-kan fungsi utama sekolah seperti diungkap di atas. Di sinilah letak pentingnya sekolah bersimpena dengan misi pengem-bangan dan pembangunan masyarakat, sehingga sekolah mesti benar-benar dapat menjadi wadah rekayasa dan perubahan sosial kemasyarakatan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 15pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dikatakan sebagai agen rekayasa dan perubahan sosial masyarakat, karena di sekolah terjadi suatu proses yang mana seseorang menginternalisasikan norma dan nilai yang memiliki korelasi dengan kehidupan masa depan. Proses internalisasi ini berlanjut dalam nilai dan perilaku, baik di tengah-tengah keluarga maupun dalam pergaulan. Yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;paling penting di sini adalah bahwa sekolah dianggap sebagai area yang paling utama dalam proses rekayasa dan perubahan dari pada lembaga keluarga dan lingkungan. Jadi, sekolah merupakan instrumen yang paling penting dan efektif untuk percepatan pembangunan dan pengembangan suatu masyarakat. Yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;lebih penting lagi adalah bahwa sistem sekolah hanya mampu menghasilkan tujuan ideal jika misi sekolah berkorelasi dengan kebijakan pemerintah yang akan menggiring masyarakat pada akselerasi pembangunan dan pengembangan masyarakat. Oleh karena itu, pendidik-an persekolahan sebagai lembaga pembinaan dan penanam-an nilai-nilai humanitas mesti memiliki korelasi yang positif dengan proses modernisasi dan transformasi dalam kehidup-an sosial masyarakat. Pendidikan merupakan sarana penting yang sangat diperlukan dalam proses perubahan sistem sosial, ekonomi dan politik. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 28.35pt; line-height: 15pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;Kemestian untuk mengikutkan pendidikan dalam program modernisasi, karena memang baik dalam aspek ontologis, epistemologis dan aksiologis, pendidikan me-miliki kaitan yang signifikan dengan kualitas suatu masyarakat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 28.35pt; line-height: 15pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;Kesadaran akan eksistensi pendidikan seperti ini-lah, maka para pakar pendidikan selalu mengadakan pembaharuan-pembaharuan di bidang pendidikan agar segala aktivitas yang dilakukan di dalamnya benar-benar dapat menjawab personalan-persoalan yang ber-kembang di tengah-tengah masyarakat.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 28.35pt; line-height: 15pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;Jadi dapat dikatakan, bahwa lembaga pendidikan merupakan hal yang strategis untuk pengembangan sua-tu masyarakat ke arah yang lebih baik, sehingga tidak-lah berlebihan jika dikatakan bahwa kemajuan moderni-tas suatu bangsa dan negara ditentukan oleh kualitas pendidikan. Karena posisinya yang &lt;i&gt;centre of excellence&lt;/i&gt; dalam membangun peradaban suatu masyarakat, maka adalah suatu kemestian untuk menjadikan lembaga pendidikan sebagai lembaga rekayasa masyarakat ke arah yang lebih baik. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 15pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sekalipun sekolah sebagai lembaga rekayasa dan perubahan masyarakat, ternyata harapan tersebut belum memuaskan, boleh jadi hal ini lebih dikarenakan sekolah kurang lagi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mampu menjalankan fungsionalitas internalisasi nilai-nilai kepada anak didiknya. Hal ini dikarenakan sekolah dalam konteks ini lebih terseret pada pengembangan kognisi dari pada pengembangan kreativitas yang akan dapat menjawab kebutuhan masyarakat yang bernilai etis. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 28.35pt; line-height: 15pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;Diakui memang bahwa peranan pendidikan persekolahan seperti ini agak sedikit membawa ketegangan akan fungsi institusi sosial ini sebagai&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;promotor perubahan social dan sebagai sarana bagi terciptanya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;struktur sosial. Namun bila dilakukan dengan tetap berpedoman pada kesepakatan nasional yang telah terujud dalam suatu bentuk perundang-undangan, maka dua fungsi pendidikan dan sekolah seperti diutarakan di atas justru semakin mempermudah fungsionalisasi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;institusi sosial ini. Kesulitan dan ketegangan akan tumbuh subur manakala pendidikan persekolahan terjebak dalam kepentingan kelompok dan sikap promordialistik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 28.35pt; line-height: 15pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;Sebagai ujung tombak bangunan peradaban manusia, pendidikan sekolah selalu berhadapan dengan kebutuhan-kebutuhan pembangunan manusia dalam berbagai aspeknya. Pembangunan kualitas sumber daya manusia banyak bertumpu pada kualitas pendidikan sekolah. Persoalannya adalah bahwa dalam penyelenggaraannya tidaklah berdiri sendiri, karena ada banyak varian yang bergelayut di atasnya, baik dari subjek, maupun dari varian lain yang berada di luar dirinya. Pengendalian kesemuanya tergantung pada keikutsertaan semua pihak dalam jalinan kerjasama yang harmonis dalam menata dan membangun pendidikan persekolahan yang benar-benar dapat memenuhi kebutuhan percepatan perubahan dan perbaikan masyarakat ke arah yang lebih baik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="margin-left: 0.25in; text-indent: -0.25in; line-height: 15pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="margin-left: 17.85pt; text-indent: -17.85pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;B. Moralitas sebagai Sebuah Keniscayaan Bagi Pembangunan Masyarakat &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 28.35pt; line-height: 15pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;Moralitas adalah lambang humanitas tertinggi, karena memang ia diciptakan untuk itu. Oleh karena itu, potensi psikis berupa akal, kemauan dan perasaan agar ia mampu berkreativitas dan berimajinasi dalam kehidupannya mesti senantiasa diarahkan pada nilai-nilai moralitas yang tinggi. Kondisi fitrah manusia sedemikian ini memerlukan pemeliharaan dan pengembangan melalui penyiapan berbagai perangkat pendukung bagi lahirnya perilaku moral potensial menjadi perilaku moral aktual.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 28.35pt; line-height: 15pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;Firman Allah SWT dalam al-Qur`an surah al-Nahl ayat 78&lt;/span&gt;&lt;a style="" href="#_ftn1" name="_ftnref1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt; memberi petunjuk sksn pentingnya proses panjang untuk mengisi kemanusiaan. Ayat ini memberikan pemahaman bahwa manusia tidak akan dapat menjadi manusia yang utuh memiliki ilmu pengetahuan yang berguna bagi kemudahan kehidupannya, jika ia belum mampu memaksimalkan fungsi instrumen-instrumen jasmani dan ruhaninya. Hanya dengan cara demikian seseorang menjadi lebih baik dan memiliki nilai-nilai kemanusiaan sebagai lambang bagi dirinya.&lt;/span&gt;&lt;a style="" href="#_ftn2" name="_ftnref2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt; Hal seperti ini memerlukan pengkondisian yang terarah dan tertata rapi, sehingga dua potensi manusia itu dapat berkembang dan terbina untuk melahirkan berbagai pengetahuan yang akan membentuk pemikirannya, selanjutnya menjadi sikap diri yang menunjuk pada jati diri manusia itu sendiri. Upaya pengaturan kondisi inilah yang disebut dengan pendidikan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 28.35pt; line-height: 15pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;Pendidikan dalam hal ini dapat dilihat sebagai pengupayaan manusia sejatinya, disengaja, terarah dan tertata sedemikian rupa menuju pembentukan manusia-manusia yang ideal bagi kehidupannya, atau dengan kata lain, pendidikan tidak lain adalah segala pengupayaan yang dilakukan secara sadar dan terarah untuk menjadikan manusia sebagai manusia yang baik dan ideal. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 28.35pt; line-height: 15pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pendidikan merupakan penyediaan kondisi yang baik untuk menjadikan perilaku-perilaku potensial yang dianugerahkan kepada manusia tidak lagi sebatas kecenderungan manusiawi &lt;i style=""&gt;an sich&lt;/i&gt;, tetapi benar-benar aktual dalam realita kehidupannya. Jika demikian, pendidikan adalah suatu kemestian bagi pemanusiaan manusia &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 28.35pt; line-height: 15pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;Sedemikian berartinya pendidikan bagi pemanusiaan manusia, maka sudah semestinya pendidikan dita-ta dan dipersiapkan sebaik-baiknya sehingga cita-cita&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;“pemanusiaan” dapat diwujudkan sejatinya. Perbaikan-perbaikan dalam kehidupan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sebagai bukti nyata adanya aktivitas pendidikan akan hanya merupakan sebutan saja jika pengupayaannya tidak ditaja dengan terencana, sistematis dan terpadu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 28.35pt; line-height: 15pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;Mengingat esensi kemanusiaan sepenuhnya berada pada yang ruhaniah, maka pengembangan kemanusiaan semestinya pulalah diarahkan pada pengembangan ruhaniah manusia yang sarat dengan moralitas. Pengembangan manusia dalam konteks jasmaniah dan material semata-mata untuk mendukung kemanusiaan yang sesungguhnya lebih berdimensikan ruhaniah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 28.35pt; line-height: 15pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;Pendidikan adalah tugas bersama manusia dalam merealisasikan misi kemanusiaan. Oleh karena itu pendidikan mesti diatur berdasarkan hubungan intersubjektif dan interrelasional, sehingga semua komponen benar-benar berjalan secara fungsional-struktural dalam kerangka yang jelas dan terarah pada peraihan tujuan-tujuan yang diinginkan. Pendeknya pendidikan adalah usaha sadar bersama yang secara fungsional-struktural melaksanakan tugas-tugasnya menuju terciptanya manusia-manusia ideal, yakni manusia yang memiliki kepribadian moralis, baik fungsinya sebagai &lt;i&gt;mu`abbid, khalifah fi al-ardh &lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;`immarah fi al-ardh&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 28.35pt; line-height: 15pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;Mengingat Islam memandang bahwa tujuan kemanusiaan sarat nilai dan moral seperti diuraikan pada bagian sebelumnya, maka menfungsikan sekolah sebagai usaha aplikatif-kolektif&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;untuk mewujudkan penum-buhkembangan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;perilaku moral subjek didik hendaklah menjadi orientasi bagi setiap aktivitas kependidikannya. Jack R. Fraenkel dalam hal ini menyebutkan, bahwa pendidikan moral mesti berlangsung pada setiap waktu di sekolah, tidak saja dalam kurikulum, tetapi juga dalam interaksi keseharian di sekolah, baik antara siswa dengan guru maupun dengan staf sekolah.&lt;/span&gt;&lt;a style="" href="#_ftn3" name="_ftnref3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 28.35pt; line-height: 15pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;Kendatipun dalam sejarah lahirnya pendidikan sekolah tidak lain adalah dalam rangka penumbuh kembangan perilaku moral, namun di era sekarang semangatnya kurang terasa atau bahkan ditinggalkan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 28.35pt; line-height: 15pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;Robert L Ebel Mengungkapkan, bahwa beberapa penyebab ketepinggiran perhatian pendidikan sekolah terhadap penumbuh kembangan perilaku moral subjek didiknya diantaranya:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in; line-height: 15pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;bahwa dalam masyarakat telah terjadi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;penekanan yang amat kuat terhadap&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kebebasan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;individu dari pada tanggung jawab personal, &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in; line-height: 15pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;lebih mementingkan hak-hak sipil dari pada kewajiban sipil&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in; line-height: 15pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;adanya semacam kecendrungan dalam masyarakat yang melihat perubahan dan inovasi sebagai sesuatu yang lebih baik dari tradisi dan stabilitas di dalam kehidupan.&lt;/span&gt;&lt;a style="" href="#_ftn4" name="_ftnref4" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 28.35pt; line-height: 15pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;Merujuk firman Allah SWT dalam surah Ali Imran ayat 110; “Kamu adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang &lt;i&gt;ma`ruf &lt;/i&gt;dan mencegah dari yang &lt;i&gt;mungkar&lt;/i&gt; dan beriman kepada Allah SWT.’, maka ada empat konsep penting yang dicakup di dalamnya, yaitu konsep tentang umat yang baik; aktivitas sejarah; pentingnya kesadaran&lt;/span&gt;&lt;!--[if supportFields]&gt;&lt;span style='font-size:12.0pt'&gt;&lt;span style='mso-element:field-begin'&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang=SV style='font-size:12.0pt;mso-ansi-language:SV'&gt; XE &amp;quot;kesadaran&amp;quot; &lt;/span&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if supportFields]&gt;&lt;span style='font-size:12.0pt'&gt;&lt;span style='mso-element:field-end'&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;; dan etika profetik.&lt;/span&gt;&lt;a style="" href="#_ftn5" name="_ftnref5" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt; Umat dapat dikatakan sebagai umat terbaik, jika memenuhi syarat mengerjakan tiga hal yang diungkap dalam ayat, yaitu &lt;i style=""&gt;amar ma`ruf, nahi munkar &lt;/i&gt;dan beriman kepada Allah SWT. Dalam hal aktivitas sejarah dapat dipahami bahwa manusia bekerja di tengah-tengah manusia dalam membuat sejarah. Nilai-nilai ilahiyah (amar ma`ruf, nahi munkar dan iman) menjadi tumpuan bagi aktivitas manusia dalam membentuk sejarahnya, sehingga dapat dipahami bahwa kesadaran dalam konteks Islam selalu berorientasi pada kesadaran ilahiyah yang berbeda dengan kesadaran dalam konteks lainnya. Sedemikian rupa, sehingga dapat dikatakan bahwa manusia Muslim dalam melakukan setiap aktivitas kemanusiaannya akan selalu melandasinya dengan orientasi ke-Ilahi-an. Dalam konteks inilah maka banyak filsuf Muslim yang menyebutkan bahwa moralitas manusia pada dasarnya adalah perefleksian sifat-sifat Tuhan ke dalam diri manusia yang menjadikannya sebagai bagian yang tidak terlepaskan dari dirinya.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 28.35pt; line-height: 15pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;Dalam konteks Islam, iman sebagai realisasi ketauhidan manusia memiliki implikasi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan konsekuensi terhadap penegakan nilai-nilai moral yang tinggi dan mulia. Penumbuhkembangan perilaku moral manusia selalu berkenaan dengan sejauh mana ia menyadari, bahwa perilaku itu harus ia lakukan. Kesadaran dalam hal ini adalah bukti nyata dari sebuah keyakinan mendalam seseorang atas sesuatu yang dalam bahasa agama disebut dengan iman. Manusia yang menyadari bahwa dirinya, alam jagad raya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan Tuhannya merupakan tiga bagian yang tidak dapat dilupakan begitu saja dalam segala aktivitas kehidupannya, akan selalu mengorien-tasikan diri dan perilakunya pada keinginan&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Tuhannya, yakni dengan menjalankan secara ikhlas segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya. Dengan demikian terlihat, bahwa manusia tauhid akan selalu mengorien-tasikan tindakan-tindakannya baik bagi dirinya, masya-rakat maupun alam jagad raya, pada pendekatan diri dengan Penciptanya. Dalam konteks inilah, dapat dika-takan, bahwa manusia tauhid tidak akan pernah melupakan fungsi eksistensialitas dirinya sebagai &lt;i style=""&gt;mu`abbid, khalifah Allah SWT fi al-ardh &lt;/i&gt;dan &lt;i style=""&gt;`immarah fi al-ardh&lt;/i&gt; seperti telah diungkap sebelumnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 28.35pt; line-height: 15pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;Mengingat tauhid merupakan dasar bagi pemunculan sikap tanpa pamrih sebagai identitas yang menunjuk pada moralitas, maka pengupayaan moralitas mestilah pula diawali dengan penanaman nilai-nilai ketau-hidan ini. Hanya dengan cara demikian, maka&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;perilaku moral yang diinginkan oleh Allah SWT sebagai "personal" yang diwakili dapat ditumbuhkembangkan dengan baik. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 28.35pt; line-height: 15pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;Manusia tauhid,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tidak akan pernah memiliki keinginan apalagi melakukan segala sesuatu yang berseberangan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dengan keyakinan tauhid yang ia miliki. Dalam pengertian lain dapat diungkapkan, bahwa manusia tauhid adalah manusia yang dalam segala aktivitasnya selalu menampilkan perilaku moral yang didasari pada nilai-nilai ke-Illahi-an. Allah SWT, tidak hanya sebagai orientasi kehidupanya, tetapi juga sebagai "personal" yang diwakilinya di dunia ini, segala tindakannya selalu hendak mengaplikasikan sifat-sifat Tuhan ke dalam dirinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 28.35pt; line-height: 15pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;Kecuali hal di atas, manusia tauhid pun selalu menginginkan sesuatu yang benar dan senantiasa menegakkan kebenaran,&lt;/span&gt;&lt;a style="" href="#_ftn6" name="_ftnref6" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt; karena memang tidak akan ada suatu keyakinan ketauhidan tanpa kebenaran. Oleh karena itu pula manusia tauhid adalah manusia-manusia yang bertanggungjawab atas setiap apa yang diucapkan dan yang dilakukannya. Sedemikian rupa sehingga setiap perilakunya selalu disandarkan kepada nama Tuhannya yang Tinggi, karena memang ilmu yang ia peroleh bersifat relatif&lt;/span&gt;&lt;a style="" href="#_ftn7" name="_ftnref7" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;, tidak seperti ilmu Tuhannya yang mutlak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 28.35pt; line-height: 15pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;Implementasi praktis dalam aktivitas kependidikan, tentunya tidak hanya bergerak pada upaya metodologis-aplikatif akan pentransferan berbagai ilmu pengetahuan dan pembentukan skill &lt;i style=""&gt;an sich&lt;/i&gt; yang hakekatnya akan selalu berubah dan berkembang, tetapi juga pada upaya pentransferan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;nilai-nilai moral ke-Ilahi-an yang bersumber dari al-Qur’an dan sunah Nabi Muhamad SAW. Dalam konteks inilah dikatakan bahwa pendidikan Islam secara kategoris, tidak dapat dilepaskan dari dimensi ke-Ilahi-an sebagai wujud dari ketauhidannya. Apa&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pun yang dilakukan Islam termasuk persoalan moral mesti selalu terkait dengan Allah SWT. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 28.35pt; line-height: 15pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Mengingat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;seluruh tingkah laku manusia yang baik ataupun yang buruk yang dilakukan berdasarkan hasil pilihan bebas manusia itu sendiri selalu berkenaan dengan rasionalitas manusia itu sendiri, sedangkan rasionalitas itu selalu bersentuhan dengan kesadaran&lt;/span&gt;&lt;!--[if supportFields]&gt;&lt;span style='mso-element:field-begin'&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang=SV style='mso-ansi-language:SV'&gt; XE &amp;quot;kesadaran&amp;quot; &lt;/span&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if supportFields]&gt;&lt;span style='mso-element:field-end'&gt;&lt;/span&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;imani seseorang seperti diuraikan di atas, maka berarti di sini kesadaran merupakan &lt;i style=""&gt;starting point&lt;/i&gt; bagi realisasi moral manusia. Ketika ia memutuskan bahwa suatu perbuatan itu baik dan berguna bagi dirinya, maka ia pun akan memilihnya sebagai suatu perilaku yang mesti dilakukan.&lt;/span&gt;&lt;a style="" href="#_ftn8" name="_ftnref8" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; Karena&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;memang kesadaran adalah kata kunci bagi perealisasian moral dalam setiap gerak kehidupan manusia, seperti disinggung di atas, maka implikasinya dalam proses pendidikan moral adalah bahwa setiap upaya yang dilakukan mestilah didasari pada kesadaran subjek pendidik untuk menumbuhkan kesadaran moral pada anak didiknya agar dengan suka rela dan tanpa paksaan selalu mengarahkan perilakunya pada dimensi moral dan senantiasa atas dasar moral. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 28.35pt; line-height: 15pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Berdasarkan tesis ini pulalah, maka pendidikan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;agama dan moral yang diarahkan pada pengupayaaan pembinaan kesadaran&lt;/span&gt;&lt;!--[if supportFields]&gt;&lt;span style='mso-element:field-begin'&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang=SV style='mso-ansi-language: SV'&gt; XE &amp;quot;kesadaran&amp;quot; &lt;/span&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if supportFields]&gt;&lt;span style='mso-element:field-end'&gt;&lt;/span&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;anak didik ini dapat dilakukan melalui pendekatan rasional, yaitu suatu pendekatan moral melalui pendidikan dan pembinaan pada pembuatan putusan moral melalui pertimbangan-pertimbangan rasional. Hal ini sangat penting, terutama mengingat kesadaran manusia atas sesuatu selalu berhubungan dengan dapat tidaknya rasio mereka mencerna dan menerima sebuah ajaran sebagai sebuah keyakinan ontologis yang mesti diaktualisasikan dalam tindakan senyatanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent: 28.35pt; line-height: 15pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pendidikan sekolah yang diorientasikan pada nilai-nilai moral dan agama merupakan suatu kebutuhan dan memiliki urgensi bagi penumbuhkembangan perilaku&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;moral senyatanya pada anak didik. Membangkitkan nilai-nilai moral sebagai motivasi dalam segala aktivitas pendidikan dalam hal ini adalah suatu kemestian. Hal ini tidak saja mengingat bahwa upaya pendidikan selalu mengarah pada perbaikan dan perubahan, tetapi lebih dari itu adalah bahwa pendidikan bersentuhan langsung dengan penumbuh kembangan moralitas yang merupakan suatu hal yang esensial bagi humanitas manusia.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Konsekuensinya dalam pengembangan kemampuan memahami suatu ilmu pengetahuan semestinya pula diiringi dengan kemampuan pengapresiasi-an nilai-nilai moral yang ada dalam ilmu pengetahuan tersebut. Dalam konteks evaluasi pembelajaran pun selain dievaluasi kemampuan memahami suatu ilmu tidak hanya diukur dari seberapa jauh kemampuan memahami dan menguasai ilmu pengetahuan tertentu, tetapi mesti juga diiringi dengan mengapresiasikan nilai-nilai moral yang ada dalam ilmu tersebut dalam tindakan nyata. Tegasnya saat ini sekolah tidak lagi hanya melahirkan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;orang pintar&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;menguasai disiplin ilmu pengetahuan, tetapi mampu melahirkan orang yang cerdas dan brilian dalam mengapresiasikan nilai-nilai moral dari ilmu pengetahuan yang dimilikinya sehingga teraktualisasi ke dalam perilaku moral yang terpuji.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent: 28.35pt; line-height: 15pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sebagai subjek dan objek moral, manusia dituntut&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;memainkan peran proaktifnya dalam rangka menumbuh kembangkan perilaku moral dalam setiap aktivitas kehidupannya, terlebih lagi pada aktivitas pembelajaran di sekolah yang memang memiliki fungsi untuk itu. Untuk lebih meningkatkan fungsi utama sekolah seperti ini,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;diperlukan adanya upaya peningkatan pendidikan melalui rekonstruksi metodologis aplikatif pembelajaran dalam upaya menum-buhkembangkan moralitas subjek didik agar ianya menjadi landasan bagi segala tindak-tanduk dan perilakunya dalam kehidupan individu dan sosial kemasyarakatan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 0.25in; text-indent: -0.25in; line-height: 15pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 17.85pt; text-indent: -17.85pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;C. Tanggung jawab Sekolah dalam Penumbuhkembangan Nilai-Nilai Moral&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 15pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Seperti disebutkan di depan, bahwa pembentukan humanitas yang sarat dengan nuansa moralitas merupakan sesuatu yang tidak dapat ditawar-tawar dalam membangun peradaban masyarakat. Mengingat eksistensi sekolah memi-liki korelasi signifikan dengan transformasi masyarakat, seperti telah diungkap di atas, menjadikan nilai-nilai moral sebagai identitas yang tidak dapat dilepaskan dengan jati diri manusia, tentunya upaya pembinaan dan pembangunan di bidang ini mesti mendapat tempat terdepan dalam orientasi dan proses kependidikan sekolah. Hal ini akan semakin diperlukan terutama bila dihubungkan dengan fungsi sekolah yang memiliki korelasi signifiksn dengan pemenuhan kebutuhan transformasi sosial masyarakat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent2"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Berdasarkan realitas inilah maka pendidikan persekolahan mesti mampu menjadikan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang diberikan senantiasa sebagai wahana realisasi nilai-nilai moral. Hal ini sangat penting artinya terutama mengingat pengembangan watak manusia dalam menghasilkan budaya selalu bergerak dari interaksinya dengan kondisi-kondisi yang mengitarinya. Kondisi edukatif sekolah yang tertata dan terprogram akan menjadi hal yang kondusif untuk membangun peradaban masyarakat ke arah yang diinginkan. Jika sekolah tidak lagi berorientasi pada penumbuhkembangan nilai-nilai moral seperti digambarkan di depan, sama halnya sekolah telah beralih fungsi dan keluar dari esensi kemanusiaan yang sarat dengan nilai-nilai moral&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; line-height: 15pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; line-height: 15pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;D&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=""&gt;&lt;br clear="all"&gt;  &lt;hr size="1" width="33%" align="left"&gt;  &lt;!--[endif]--&gt;  &lt;div style="" id="ftn1"&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref1" name="_ftn1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="SV"&gt; “Dan Allah mengeluarkan kamu (manusia) dari perut ibumu belum mengetahui sesuatu apa pun. Dan Dia menciptakan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati agar kamu bersyukur”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn2"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref2" name="_ftn2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; Dalam konteks inilah Allah SWT berfirman dalam surah al-Zumar ayat 9, bahwa “Adakah sama orang-orang yang berilmu dengan orang-orang yang tidak berilmu? Begitu pula dalam surah Fathir ayat 28, Allah menerangkan, “bahwa sesungguhnya diantara hamba-hamba yang takut kepada Allah SWT hanyalah ulama`”, karena memang merekalah yang memiliki pengetahuan tentang itu, kemudian meyakininya sebagai sebuah kebenaran yang mesti diaplikasikan dalam bentuk amalan-amalan shalih.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn3"&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref3" name="_ftn3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; Lihat lebih lanjut Jack R, Fraenkel ,&lt;i&gt;Op .cit&lt;/i&gt; , h. 2-3 &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn4"&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref4" name="_ftn4" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; Lihat lebih lanjut Robert L.Ebel, “What are School s For” dalam Harvey F. Clarizio et all(ed).,&lt;i style=""&gt;Contemporary Issues In Educational psychology&lt;/i&gt;, Allyn and Bacon, Inc, &lt;st1:city w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;Boston&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;, 1977, h. 7-8&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn5"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref5" name="_ftn5" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Kuntowijoyo, “Ilmu Sosial Profetik: Etika Pengembangan Ilmu-Ilmu Sosial”, dalam&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;al-Jami`ah&lt;/i&gt;, No. 61/1998, h. 64.&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn6"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref6" name="_ftn6" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Dalam konteks ini Allah SWT berfirman dalam surahal-Isra’ ayat 36 yang maknanya: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. &lt;span style="" lang="SV"&gt;Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung-jawabannya.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn7"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref7" name="_ftn7" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; Dalam surah al-Isra’ ayat 85 disebutkan bahwa “… dan tidak-lah Kami berikan kamu ilmu&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kecuali sedikit”. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn8"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref8" name="_ftn8" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; Ibn Miskawaih, &lt;i style=""&gt;Tahzib al-Akhlaq,&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; Syekh Hasan Tamir (ed), Mahdawi, Bairut,1398, &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;h. 36.&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-top: 6pt; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4134222016972542877-298562384489127626?l=muhmidayeli-perpustakaanmuhmida.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhmidayeli-perpustakaanmuhmida.blogspot.com/feeds/298562384489127626/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muhmidayeli-perpustakaanmuhmida.blogspot.com/2009/06/normal-0-false-false-false.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4134222016972542877/posts/default/298562384489127626'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4134222016972542877/posts/default/298562384489127626'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhmidayeli-perpustakaanmuhmida.blogspot.com/2009/06/normal-0-false-false-false.html' title=''/><author><name>muhmidayeli</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08080079530456384027</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_sUDEfuQg6gw/SxYaajpzvvI/AAAAAAAAACU/jlIaHXHd_EA/S220/IMG_0122.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4134222016972542877.post-2121621234224820685</id><published>2009-03-17T01:03:00.000-07:00</published><updated>2009-03-17T01:15:12.403-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><title type='text'>Fungsionalisasi Peran Masyarakat dalam Peningkatan Mutu Pendidikan</title><content type='html'>Oleh: Muhmidayeli&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4134222016972542877#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;[*]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;E-mail: &lt;a href="mailto:muhmidayeli@yahoo.co.id"&gt;muhmidayeli@yahoo.co.id&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. Pendahuluan&lt;br /&gt;Perubahan, perbaikan dan kemajuan dalam suatu masyarakat selalu tertumpu pada bagaimana dunia pendidikan mengupayakan. Pendidikan dalam bahasa sosiologi dikatakan sebagai wadah yang tepat untuk menggerakkan masyarakat ke arah pola perubahan yang diinginkan dan karenanya mesti ditata dan dikelola sesuai dengan irama gerak perubahan yang diinginkan.&lt;br /&gt;Sebagai ujung tombak bangunan peradaban manusia, fungsi sekolah selalu berhadapan dengan kebutuhan-kebutuhan pembangunan anak manusia dalam berbagai aspeknya. Sedemikian rupa pendidikan diorientasikan pada pengembangan watak kemanusiaan dalam berbagai wilayah kebutuhan dalam berbagai jenis tingkatannya. Dalam paradigma ini, pendidikan mesti menjadi agen perubahan terdepan untuk percepatan pembangunan sumber daya manusia yang akan bergerak di segala sektor kehidupan.&lt;br /&gt;Tidak dapat disangkal bahwa pendidikan agama sebagai salah satu kebutuhan humanitas pembangunan kualitas sumber daya manusia saat ini banyak bertumpu pada kualitas sekolah. Persoalannya adalah bahwa dalam penyelenggaraannya tidaklah berdiri  sendiri, karena ada banyak varian yang bergelayut di atasnya, baik dari subjek, maupun dari varian lain yang berada di luar dirinya. Pengendalian kesemuanya tergantung pada keikut-sertaan semua pihak dalam jalinan kerjasama yang harmonis.&lt;br /&gt;Transformasi sosial dalam bidang agama dan moral tergantung pada orientasi, sistem dan strategi yang ditempuh oleh lembaga pendidikan, utamanya pendidikan formal yang secara niscaya lebih terencana, terprogram dan tertata secara rapi ke arah tujuan yang diinginkan. Oleh karena itu memfungsikan berbagai komponen masyarakat sebagai pemilik pendidikan adalah suatu kemestian, jika tidak ingin  pendidikan yang diselenggarakan terasing dari dirinya.&lt;br /&gt;Pendidikan agama yang diselenggarakan di sekolah sebagai lembaga pendidikan yang terencana dan tersistematisasi, dalam penyelenggaraan pembelajarannya selalu mendapat sorotan karena dianggap kurang efektif dan tidak tepat sasaran. Hal ini tidak saja dikarenakan praktik akademik pembelajarannya yang memang lebih mengutamakan pencapaian ranah kognitif, dan ada kesan ranah afektif dan psikomotor sebagai pinalitas tercapai tidaknya tujuan pendidikan belum tersentuh secara baik. Hal ini semakin dipersulit lagi dengan adanya sistem manajerial pendidikan yang sentralistik yang tidak memberikan rongga gerak bagi sekolah untuk membuat kreasi dan aksi yang berpusat pada problem dan kebutuhannya.&lt;br /&gt;Kompleksitas problem kependidikan agama seperti ini, akan semakin rumit lagi bila dikaitkan dengan kondisi kehidupan masyarakat saat ini yang memang sangat kompleks. Hal ini juga akan semakin memperberat tantangan pembinaan pendidikan agama di madrasah/sekolah yang memang berorientasi tidak saja pada aspek kebutuhan fisiologis subjek didiknya tetapi juga bagaimana ia dapat mengimplementasikan nilai-nilai luhur agama dan keberagamaan sebagai pemenuhan kebutuhan ruhaninya yang memang menjadi karakteristik dan bahkan menjadi muara bagi semua gerak langkah aktivitasnya.&lt;br /&gt;Diakui memang bahwa saat ini telah terjadi perubahan besar dalam kehidupan umat manusia, tidak saja dalam lapangan sosial budaya, sains dan teknologi, bahkan juga dalam lapangan agama. Khusus dalam lapangan ini, perubahan  apresiasi dan persepsi umat terhadap nilai-nilai agama. Agama dengan nilai-nilai dogmatis-imperatifnya yang telah diterima selama ini sangat terbuka kemungkinan untuk dipertanyakan dan dikritisi yang bahkan  tidak jarang akan bermuara pada penegasian dan pengabaian ajaran-ajaran agama dalam kehidupan keseharian umat.&lt;br /&gt;Pembinaan pendidikan agama di madrasah ataupun sekolah adalah juru kunci terbentuknya pola pikir dan perilaku yang bernuansakan relijius. Hal ini karena memang eksistensinya dapat membentuk pola perilaku anak manusia yang akan terimplikasi dalam sikap dan tingkah laku kesehariannya..  Di sisnilah letak pentingnya dunia persekolahan mestilah dapat menjawab kebutuhan manusia, tidak saja yang berdimensi pragmatis, tetapi juga idealis, tidak saja bercorakkan yang profan, tetapi juga yang sakral, tidak saja sarat dengan muatan pengetahuan, tetapi juga moral, baik untuk kepentingan individu maupun sosial, yang mencakup kepentingan kehidupan  sekarang dan mendatang.   &lt;br /&gt;Kondisi  kehidupan kontemporer saat ini memperlihatkan  perubahan yang amat cepat hampir diseluruh aspek kehidupan, yang tidak jarang menimbulkan kegoncangan dalam kehidupan masyarakat, termasuk goncangan dalam sikap keagamaan dan nilai moralitasnya.  Bila pembinaan pendidikan agama di madrasah maupun di sekolah-sekolah sebagai lembaga yang akan memenuhi tuntutan jasmani dan ruhani anak manusia kurang responsif dengan kondisi ini, maka  keberadaannya akan sangat dipertanyakan dan mungkin dijauhi oleh masyarakat.&lt;br /&gt;Tulisan ini terfokus pembahasannya tentang bagaimana memfungsionalisasikan masyarakat dalam peningkatan kualitas sekolah, utamanya dalam pembinaan pendidikan agama. Hal ini sangat penting didiskusikan mengingat pembinaan pendidikan agama bukanlah semata-mata tugas sekolah, tetapi adalah juga tugas dan tanggung jawab bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. Sekolah dan Perubahan Masyarakat; Sebuah kemestian kerjasama&lt;br /&gt;Semakin derasnya perubahan-perubahan sosial sebagai akibat dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, menjadikan tugas-tugas kependidikan agama semakin berat, bahkan sebahagian ahli pendidikan Islam akhir-akhir ini merasa khawatir jangan-jangan format pembinaan pendidikan Agama Islam yang tengah berlangsung saat ini tidak dapat menjawab pemenuhan kebutuhan humanitas manusia, baik sebagai makhluk individual dan sosial, maupun sebagai mu`abbid,  khalifah fi al-ardh dan `imarah fi al-ardh.&lt;br /&gt;Mengingat madrasah sebagai agen transformasi sosial yang secara niscaya akan melahirkan suatu peradaban baru yang mengacu pada perbaikan dan kemajuan, maka dalam berbagai aktivitasnya ia mesti menjadi bagian yang integral dengan masyarakatnya. Hal ini tidak dapat dielakkan terutama karena memang suatu kebudayaan lahir selalu berdasarkan pada pola adaptasi yang dilakukan oleh individu atau kelompok dengan lingkungan masyarakatnya. Apa  pun yang dilakukan manusia dalam kehidupan kesehariannya selalu bekenaan dengan pembentukan kebudayaannya. Oleh karena itu,  pendidikan secara efisiensi mesti mengacu pada kepentingan rekonstruksi masyarakat. Pendidikan mesti diarahkan untuk memampukan subjek-subjek didik membangun dunia bagi masyarakat melalui pendayagunaan kemampuan akal, indra dan intuisi, sehingga pendidikan harus menjadikan subjek didiknya yang mampu menggunakan ilmu pengetahuan yang diperolehnya sebagai wahana bagi perealisasian nilai-nilai spritual.&lt;br /&gt;Pendidikan sebagai suatu lembaga masyarakat tentulah diarahkan pada upaya rekayasa sosial, sehingga segala aktivitasnya pun senantiasa merupakan solusi bagi berbagai problem kehidupan dalam masyarakat. Sekolah dalam hal ini menjadi agen perubahan sosial, politik dan ekonomi yang primer. Oleh karena itu, lembaga pendidikan mesti memiliki komitmen untuk menciptakan masyarakat baru yang sarat dengan nilai-nilai dasar budaya dan sosial ekonomi yang akan membentuk harmonisasi suatu masyarakat. Pendidikan dalam hal ini mesti diarahkan pada perubahan pola pikir masyarakat, sehingga teknologi-teknologi yang begitu besar lebih dijadikan sebagai sumber kreativitas dari pada untuk menghancurkan. Transformasi sosial merupakan suatu keniscayaan dan ini hanya dapat dilakukan melalui pendidikan.&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4134222016972542877#_edn1" name="_ednref1"&gt;[1]&lt;/a&gt; John Dewey (1859-1952 M) dalam hal ini mengatakan, bahwa education as recontruction.&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4134222016972542877#_edn2" name="_ednref2"&gt;[2]&lt;/a&gt; Ini berarti bahwa pendidikan persekolahan adalah wadah yang tepat untuk membangun masyarakat baru yang lebih maju dan dapat bersaing di tengah-tengah peradaban dunia.&lt;br /&gt;Jika demikian, pendidikan sekolah ataupun madrasah yang merupakan usaha sadar bersama setiap individu terkait, secara fungsional struktural mesti melaksanakan tugas-tugasnya secara seksama dan terarah menuju terciptanya manusia-manusia ideal, yakni manusia yang memiliki kepribadian moralis, baik fungsinya sebagai mu`abbid, khalifah fi al-ardh dan `immarah fi al-ardh yang memang menjadi lambang sejati manusia di dunia.&lt;br /&gt;Kecuali itu, mengingat pendidikan adalah tugas bersama manusia dalam merealisasikan misi kemanusiaan seperti ini, maka sudah selayiknya pula pendidikan persekolahan diatur berdasarkan hubungan intersubjektif dan interrelasional, sehingga semua komponen benar-benar berjalan secara fungsional struktural dalam kerangka yang jelas dan terarah pada peraihan tujuan-tujuan yang diinginkan.&lt;br /&gt;Madrasah/sekolah adalah agen perubahan besar yang memiliki arti strategis bagi pembangunan suatu masyarakat dan oleh karenanya ia mesti dikelola secara baik dan terprogram secara bersama-sama antar berbagai komponen lapisan masyarakat.  Hal ini sangat penting, terutama dalam upaya pembinaan pendidikan agama dan moral.&lt;br /&gt;Membangkitkan nilai-nilai agama dan moral adalah suatu kemestian namun pelaksanaannya dalam pembelajaran di sekolah bukanlah mudah. Hal ini tidak saja karena cakupannya yang luas, tetapi juga karena memang identitasnya mesti melalui pembiasaan-pembiasaan yang sukar dijangkau oleh persekolahan yang semata-mata mengandalkan unsur formalistik belaka. Pendeknya, kemampuan memahami anak didik dalam pengetahuan agama yang semestinya diiringi dengan kemampuan pengapresiasian nilai-nilainya ada dalam berbagai aktivitas jarang terrealisasi dengan baik. konsekuensinya dalam evaluasi pembelajaran pun selain dievaluasi kemampuan memahami suatu ilmu hanya diukur dari seberapa jauh kemampuan memahami dan menguasai ilmu pengetahuan tertentu, pada hal mesti juga diiringi dengan melihat apresiasi nilai-nilai moral yang ada dalam ilmu tersebut dalam tindakan nyata.&lt;br /&gt;Saat ini pendidikan sekolah diharapkan tidak lagi hanya melahirkan orang pintar yang menguasai ragam disiplin ilmu pengetahaun, tetapi hendaknya mampu melahirkan orang yang cerdas dan brilian dalam mengapresiasikan nilai-nilai agama dan moral dari ilmu pengetahuan yang dimilikinya sehingga teraktualisasi ke dalam perilaku nyata yang terpuji. Pembinaan pendidikan agama adalah sesuatu yang mesti mendapat perhatian tersendiri, terutama karena eksistensinya yang memang diorientasikan pada pembangunan kepribadian bangsa yang diharapkan.  Agama dan moral dalam nuansa era globalisasi saat ini mesti dimaknai dalam konteks yang luas, sehingga eksistensinya bukan semata-mata untuk kepentingan pribadi dan Tuhannya, tetapi meliputi dirinya dan masyarakat, alam dan dunia dalam kaitannya dengan Yang Maha Pencipta. Dengan pemahaman seperti ini akan memperlihatkan bahwa orang yang beragama dan bermoral akan memperlihatkan kemajuannya dalam berbagai lini kehidupan.  &lt;br /&gt;Sehubungan hal di atas, pembenahan  penyelenggaraan pendidikan agama mutlak  dilakukan, baik dalam akademik-pembelajaran maupun dalam mengatur strategi antisipatif dan kooperatif dengan melibatkan ragam unsur masyarakat sebagai pemilik persekolahan. Hal ini sangat urgen, terutama karena berkaitan langsung dengan efektivitas aktivitas pembinaan pendidikan agama di madrasah ataupun di sekolah.&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4134222016972542877#_edn3" name="_ednref3"&gt;[3]&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;Problem pembinaan pendidikan agama seperti digambarkan di atas, menjadikan lembaga pendidikan mesti membuat alinan kerjasama yang baik antara sekolah dan masyarakat. Jalinan  kerjasama dengan berbagai komponen yang dilakukan semestinya tidak saja dalam hal partisipasi penyediaan dana pendidikan saja seperti yang dipahami kebanyakan orang, tetapi lebih dari itu, bahwa masyarakat dilibatkan dalam berbagai suasana yang akan menghasilkan kualitas pendidikan yang menjadi harapan bersama, keluarga, sekolah dan masyarakat. Perubahan paradigma manajemen pendidikan dari sentralistik ke desentralistik menjadikan peluang kerjasama keluarga, sekolah dan masyarakat ini akan lebih mudah terwujud. Yang terpenting di sini adalah bagaimana menciptakan situasi yang kondusif untuk terciptanya suasana hubungan ini berjalan dengan harmonis. Untuk itu dibutuhkan suasana komunikatif yang tinggi antara ketiga komponen ini, karena memang tanpa itu, hubungan kerjasama akan menjadi tinggal lambang atan atau omong kosong belaka.&lt;br /&gt;Keniscayaan harmonisasi hubungan keluarga, sekolah dan masyarakat seperti ini tidak saja karena ketiga unsur ini sama-sama memiliki kepentingan terhadap jalannya proses pendidikan, tetapi lebih dari itu di mana ketiga unsur ini sama-sama bertanggungjawab atas jalannya proses itu. Dan oleh karena itu pulalah, maka keterlibatan ketiga unsur ini mestilah disertai dengan keterlibatan mental dan emosional, riil dan bertanggungjawab.&lt;br /&gt;Keaktifan masyarakat dalam mendukung proses kependidikan di sekolah ini, tidak saja mengingat sekolah adalah wadah transformasi sosial dalam berbagai varian, tetapi juga disebabkan oleh karena sekolah akan dapat menjawab keinginan dan tuntutan masyarakat. Keaktifan ini akan dapat membuahkan berbagai pengetahuan, pemahaman , keterampilan dan sikap bagi masyarakat yang secara niscaya tentu akan membentuk pola pikir dan gaya hidup yang merupakan lambang bagi suatu transformasi sosial. oleh karena itu, sudah sepantasnya masyarakat sebagai pengguna produk kependidikan sekolah turut berpartisifasi dalam membina dan memperlancar proses kependidikan di sekolah agar ianya efektif dalam fungsi dan tugasnya. Kualitas pendidikan di sekolah, pada prinsipnya adalah tanggungjawab bersama anggota masyarakat dalam berbagai lapisan.&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4134222016972542877#_edn4" name="_ednref4"&gt;[4]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hal ini semakin kuat pula dengan adanya P.P No. 39 tahun 1992 bab 2 pasal 2 yang menyatakan, bahwa partisipasi masyarakat dengan mendayagunakan segala kekuatan potensialnya sangat dibutuhkan dalam rangka menciptakan, memelihara dan meningkatkan kualitas pendidikan.&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4134222016972542877#_edn5" name="_ednref5"&gt;[5]&lt;/a&gt; Berdasarkan ini pulalah dituntut adanya saling keterbukaan antar komponen agar permaslahan hakiki mencuat dan pemecahannya pun akan mudah dilakukan.&lt;br /&gt;Masyarakat sebagai pendamping personil kependidikan di sekolah, dapat menunjukkan partisipasinya dalam bentuk aktivitas-aktivitas sebagaimana yang diungkap dalam pasal 4 bab 3 P.P no. 39 tahun 1992 sebagai berikut:&lt;br /&gt;1.      Pendirian dan penyelenggaraan satuan pendidikan pada jalur pendidikan sekolah atau jalur pendidikan luar sekolah pada semua jenjang pendidikan kecuali pendidikan kedinasan.&lt;br /&gt;2.      pengadaan dan pemberian tenaga pendidikan&lt;br /&gt;3.      bantuan tenaga ahli&lt;br /&gt;4.      pengadaan dana dan pemberian bantuan yang dapat berupa wakaf, hibah, sumbangan pinjaman, beasiswa dan bentuk-bentuk lain sejenis&lt;br /&gt;5.      pengadaan atau penyelenggaraan program pendidikan yang belum diselenggarakan oleh pemerintah&lt;br /&gt;6.      pengadaan dan bantuan buku pelajaran dan peralatan pendidikan untuk kegiatan belajar mengajar&lt;br /&gt;7.      memberikan kesempatan magang atau latihan kerja&lt;br /&gt;8.      memberikan bantuan ruangan gedung dan tanah untuk belajar mengajar&lt;br /&gt;9.      bantuan manajemen bagi penyelengaraan satuan pendidikan dan pengembangan pendidikan nasional&lt;br /&gt;10.  memberikan bantuan pemikiran dan pertimbangan berkenaan dengan penentuan kebijaksanaan atau penyelenggaraan pembangunan pendidikan&lt;br /&gt;11.  memberikan bantuan dan kerjasama dengan kegiatan penelitian dan pengembangan pendidikan&lt;br /&gt;12.  keikutsertaan dalam program pendidikan atau penelitian yang diselenggarakan oleh pemerintah di dalam atau di luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III. Bentuk Kerja Sama Sekolah dan Masyarakat dalam Pendidikan Agama&lt;br /&gt;Komite sekolah/madrasah atau dewan sekolah adalah bentuk organisasi independen dalam lingkup suatu sistem dalam sistem persekolahan yang dibentuk untuk mencarikan solusi atas berbagai problem kependidikan yang terkait dengan upaya-upaya yang layik untuk dilakukan dalam proses peningkatan kualitas sekolah agar menjadi sekolah yang unggul dalam berbagai aspek yang berkenaan dengan kependidikan. Komite sekolah dan dewan sekolah pada prinsipnya didirikan dengan dasar pemikiran bahwa sekolah tidak lain adalah bagian yang tidak terlepaskan dari unsur penting lainnya dalam masyarakat. Oleh karena itu, apa pun yang dilakukan sekolah mestilah dari dan untuk masyarakat, sehingga melibatkan masyarakat dalam memikirkan persoalaan kependididkan merupakan suatu keniscayaan, seperti yang telah disinggung di depan.&lt;br /&gt;Mengingat sekolah adalah milik masyarakat seperti diuraikan di atas, maka ketergantungannya pada pihak luar tidak dapat dielakkan. Hal yang perlu dicatat adalah bagaimana ketergantungan ini jangan sampai menjadikannya menghambat kreativitas dan inovasi dalam diri sekolah itu sendiri, sehingga sekolah tidak lagi dilihat sebagai objek kepentingan orang perorang atau kelompok tertentu yang akan dapat menjadikan sekolah kehilangan jati dirinya sebagai lembaga penanaman nilai-nilai. Yang lebih penting lagi adalah bahwa sekolah mesti dipandang sebagai wadah transformasi sosial yang meniscayakan keterkaitannya pada unsur-unsur masyarakat.&lt;br /&gt;Dengan demikian, sekolah  yang pada umumnya terkait dengan suatu badan yang terikat dengan kultur dan birokrasi, mestilah diupayakan untuk tidak bertolak dan atau menyalahi prinsip-prinsip dan fungsi dasar MBS. Hal ini sangat diperlukan mengingat dalam sistem MBS menghendaki keterlibatan penuh semua elemen masyarakat sekolah untuk menciptakan suasana kerja sama yang bermuara pada kemajuan dan peningkatan kualitas sekolah.&lt;br /&gt;Kecuali itu, pengelola sekolah mesti benar-benar menyadari bahwa peran pimpinan sekolah adalah juga bagaimana memaksimalkan potensi masyarakat dalam meningkatkan kualitas sekolah yang dipimpinnya. Inti penting dari kepemimpinan kepala sekolah adalah bagaimana mengoptimalkan semua elemen terkait agar fungsional dalam mewujudkan visi dan misi sekolah secara baik guna melahirkan sekolah yang berkualitas.&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn6" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4134222016972542877#_edn6" name="_ednref6"&gt;[6]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dari sisi dapat dilihat, bahwa komite sekolah merupakan sesuatu yang sangat penting, karena melalui komite ini dapat dibangun sinergi antara pengelola sekolah dengan masyarakat dengan berbagai unsur dan pemerintah sehingga terbangun tanggungjawab bersama dalam membangun hubungan interdepensi sekolah dan masyarakat secara baik. Dengan cara demikian sekolah tidak lagi terasing dari pemiliknya, masyarakat..&lt;br /&gt;Persoalan yang sering muncul kemudian adalah anggapan yang menyebutkan bahwa komite madrasah mestilah terdiri dari orang tua siswa karena memang eksistensinya berhubungan langsung dengan kepentingan mereka. Hal ini lumrah terjadi di negara-negara berkembang seperti Indonesia, karena masih dangkalnya pemahaman masyarakat akan arti pentingnya suatu lembaga pendidikan bagi kepentingannya. Ini semakin ditunjang pula oleh karena kondisi sosial ekonomi yang masih rendah yang akan menjadikan perhatiannya tertuju semata-mata untuk sektor ini.&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn7" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4134222016972542877#_edn7" name="_ednref7"&gt;[7]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Asumsi seperti ini muncul, mengingat hukum kausalitas yang dimunculkan akibat proses yang dilakukan sekolah yang secara nyata terlihat bahwa pengguna jasa pendidikan sekolah seolah-olah orang tua saja. Pada hal, komite sekolah bukanlah suatu badan organisasi penunjang finansial terhadap efektivitas proses akademik dan hal lain yang bergelayut di dalamnya saja, tetapi lebih dari itu, meliputi segala aspek yang akan menyokong terwujudnya realisasi tujuan-tujuan yang telah digariskan dengan standar yang optimal. Oleh karena itu, komite madrasah mestilah terdiri  dari orang-orang yang memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi atas keberlangsungan proses kependidikan di sekolah dan ianya memang mengerti dan memiliki kompetensi dalam dan dengan persoalan kependidikan.&lt;br /&gt;Sebagai suatu bentuk badan partisipasi masyarakat yang peduli dan legal dalam tanggung jawab kemajuan proses pendidikan persekolahan, komite sekolah di samping sebagai wadah perantara sekolah dan masyarakat, komite sekolah juga turut bertanggung jawab atas efektivitas dan efisiensi pelaksanaan tugas-tugas kependidikan sekolah. Hal ini berarti, bahwa komite sekolah tidak saja berfungsi sebagai penyedia dana seperti dipahami umum, namun sesungguhnya lebih dari itu, bahwa ia mesti juga dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan, baik dalam aspek perencanaan, penyelenggaraan program, perolehan manfaat, bahkan evaluasi dan pengendalian program sekolah. Pendeknya, komite sekolah pada prinsipnya adalah wujud kepedulian semua anggota masyarakat akan kualitas pendidikan, sekaligus juga menunjukkan kesadaran masyarakat akan arti pentingnya pendidikan persekolahan sebagai wahana transformasi sosial dalam berbagai bidangnya, seperti politik, ekonomi, hukum dan sebagainya. Kesadaran masyarakat akan makna pendidikan ini adalah akar tunggang bagi pembangunan peradaban manusia yang tentu juga akan mempercepat lahirnya masyarakat madani yang diidamkan semua orang.&lt;br /&gt;Berdasarkan hal di atas, optimalisasi fungsi masyarakat untuk kemajuan sekolah/madrasah sesungguhnya merupakan kebutuhan yang tidak dapat ditawar-tawar dalam rangka peningkatan kualitas pendidikan sekolah. Hal ini tidak saja karena sekolah merupakan bagian yang tidak terlepaskan dari keluarga dan masyarakat seperti yang telah dijelaskan di muka, tetapi lebih dari itu bahwa perjalanan proses pendidikannya mesti dipikirkan dan diaktualisasikan secara profesional agar eksistensi sekolah benar-benar dapat menjawab persoalan masyarakat, dan ia pun tidak terasing bagi masyarakat pemiliknya.&lt;br /&gt;Dalam konteks ini, Mulyasa&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn8" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4134222016972542877#_edn8" name="_ednref8"&gt;[8]&lt;/a&gt; menyebutkn bahwa agar partisifasi masyarakat dalam hubungan sekolah/madrasah, perlu adanya pemahaman masyarakat yang baik  terhadap fungsi dan peran masyarakat dalam membangun kemajuan-kemajuan di era globalisasi. Hal ini akan tampak dalam hubungan kerja samanya dalam:&lt;br /&gt;mengembangkan pemahaman masyarakat terhadap sekolah&lt;br /&gt;menilai program sekolah&lt;br /&gt;mempersatukan visi orang tua untuk memenuhi kebutuhan peserta didik&lt;br /&gt;mengembangkan kesadaran kesadaran masyarakat akan arti pentingnya peran sekolah di era global&lt;br /&gt;membangun kepercayaan masyarakat pada sekolah&lt;br /&gt;menggerakkan partisipasi masyarakat dalam pemeliharaan dan peningkatan mutu sekolah.&lt;br /&gt;Adapun tugas dan fungsi komite sekolah secara umum dapat digambarkan sebagai berikut.&lt;br /&gt;1.      menyelenggarakan rapat-rapat komite sesuai program yang ditetapkan;&lt;br /&gt;2.      bersama-sama sekolah merumuskan dan menetapkan visi dan misi&lt;br /&gt;3.      bersama-sama sekolah menyusun standar pelayanan pembelajaran&lt;br /&gt;4.      bersama-sama sekolah menyusun rencana strategis pengembangan sekolah&lt;br /&gt;5.      bersama-sama sekolah menyusun dan menetapkan rencana program sekolah tahunan, termasuk dalam menyusun anggaran perbelanjaan pembelajaran&lt;br /&gt;6.      membahas dan turut menetapkan pemberian tambahan kesejahteraan berupa uang honorarium yang diperoleh dari masyarakat kepada  kepala sekolah, tenaga pendidik dan tenaga kependidikan.&lt;br /&gt;7.      bersama-sama sekolah mengembangkan potensi ke arah prestasi unggulan baik akademis maupun yang bersifat non akademis&lt;br /&gt;8.      menghimpun dan menggali sumber dana untuk meningkatkan kualitas madrasah&lt;br /&gt;9.      mengelola kontribusi masyarakat berupa material dan non material yang diberikan pada sekolah&lt;br /&gt;10.  mengevaluasi program sekolah secara proporsional sesuai kesepakatan dengan pihak sekolah meliputi pengawasan, penggunaan sarana dan prasarana, pengawasan dan penggunaan keuangan secara berkala dan berkesenambungan&lt;br /&gt;11.  mengidentifikasi berbagai permasalahan dan memecahkannya besama-sama dengan pihak sekolah&lt;br /&gt;12.  memberi respon terhadap kurikulum yang dikembangkan secara tersdandar nasional maupun lokal&lt;br /&gt;13.  memberikan motivasi, penghargaan material maupun non material kepada tenaga kependidikan atau kepada orang berjasa pada sekolah secara proporsional sesuai dengan kaedah profesional pendidik atau tenaga kependidikan sekolah&lt;br /&gt;14.  memberikan otonomi profesional kepada pendidik mata pelajaran dalam melaksanakan tugas-tugas pendidikannya sesuai dengan kaedah kompetensi guru&lt;br /&gt;15.  membangun kerjasama dengan pihak luar yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas  pelayanan proses dan hasil pendidikan.&lt;br /&gt;16.  memantau kualitas proses pelayanan dan hasil pendidikan di madrasah&lt;br /&gt;17.  mengkaji laporan pertanggung jawaban pelaksanaan program yang dikonsultasikan oleh kepada sekolah&lt;br /&gt;18.  menyampaikan usul kepada pemerintah daerah untuk meningkatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan kebutuhan madrasah.&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn9" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4134222016972542877#_edn9" name="_ednref9"&gt;[9]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dari tugas dan fungsi komite sekolah di atas tercermin tuntutan yang sangat serius dalam bekerja serta peka terhadap dinamika sosial masyarakat dan mampu membuat antisifasi kondisi mendatang. Jika komite madrasah memang terdiri dari anggota masyarakat yang memiliki komitmen kuat terhadap kemajuan pendidikan madrasah dalam segala aspeknya baik akademis maupun non akademis, tentulah ia akan berfungsi sebagai badan yang benar-benar peduli dengan kemajuan pendidikan sekolah, bahkan ia juga berperan aktif dalam keseluruhan gerak kemajuan pendidikan madrasah itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IV. Penutup&lt;br /&gt;Pembinaan pendidikan agama sesungguhnya merupakan tugas bersama semua orang agar ianya benar-benar mencapai sasaran, yaitu membentuk kepribadian yang benar-benar kukuh dalam menjalankan nilai-nilai keagamaan itu dalam kehidupan kesehariannya.&lt;br /&gt;Pendidikan agama di sekolah dan madrasah pada hakikatnya adalah bagaimana menghantarkan subjek didik ke pintu gerbang terbentuknya kepribadian itu. Bagaimana subjek didik hidup dan menghidup-suburkan nilai-nilai itu di dalam dirinya tergantung pada pelatihan-pelatihan terus menerus yang selalu sekolah mengalami kesulitan dalam pembinaan dan pengawasannya. Padahal hal terpenting dalam keseluruhan proses kependidikan agama itu, tidak lain adalah bagaimana subjek didik mengimplementasikan nilai-nilai yang diterimanya di kelas dalam kehidupan kesehariannya.&lt;br /&gt;Kepribadian secara utuh hanya mungkin dibangun melalui lingkungan. Jika lingkungan rumah dan teman-teman subjek didik tidak mendukung materi pembelajaran agama di sekolah, maka apa yang telah dibangun di sekolah tidak berkelanjutan dan memang tidak dibiasakan penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari. Kondisi ini akan semakin dilematis jika di sekolah pun subjek didik tidak mampu terhantar sampai ke pintu gerbang kepribadian muslim, yaitu memiliki akhlak mulia yang dalam segala aspeknya sangat terkait dengan kualitas iman subjek didik. Ini sesuai dengan sabda Nabi: bahwa orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang mukmin yang paling baik akhlaknya. &lt;br /&gt;Kondisi proses pembelajaran disekolah dan juga madrasah kurang mendukung pembentukan kepribadian muslim yang diinginkan, terutama mengingat:&lt;br /&gt;1.      Materi pendidikan agama di madrasah yang berkisar 30 % dari keseluruhan materi pembelajaran dan di sekolah yang hanya sekelumit saja dari jumlah jam pelajaran yang ditawarkan kepada mereka.&lt;br /&gt;Adanya input silang yang menjadikan tingkat dasar kepribadian yang sangat tidak linier.&lt;br /&gt; Kurangnya kreativitas guru dalam menciptakan suasana pembelajaran yang harmonis yang menjadikan subjek didik mencintai materi pendidikan agama.&lt;br /&gt;Tingkat profesionalitas guru yang berbeda-beda. Dan lain-lain sebagainya&lt;br /&gt;Pembentukan kepribadian muslim sebagai cita-cita pendidikan agama Islam sebenarnya adalah upaya sadar bersama antara semua komponen lapisan masyarakat untuk mengubah sikap ke arah kecenderungan terhadap nilai-nilai keislaman. Dan oleh karena itu, fungsionalisasi komite sekolah sebagai lembaga yang peduli dengan persoalan kependidikan di sekolah dalam peningkatan kualitas pembinaan pendidikan agama diharapkan. Dengan fungsinya membantu para pendidik dalam meraih tujuan dan bahkan dalam perumusan dan strategi pembinaannya, menjadikan kehadiran komite sekolah di sini dapat membantu tugas guru dalam membentuk kepribadian  muslim sebagai tujuan pendidikan agama itu.&lt;br /&gt;Paling tidak ada beberapa peran yang dapat dilakukan oleh komite sekolah dalam meningkatkan pembinaan pendidikan di sekolah dan atau di madrasah, yaitu:&lt;br /&gt;1.      Bersama-sama pendidik dan sekolah merumuskan langkah-langkah pemecahan masalah kependidikan agama&lt;br /&gt;2.      Mengkondisikan refresing akademik tenaga pendidik agar ianya memiliki wawasan dan bahan analogis bagi dirinya dalam mendidik.&lt;br /&gt;Bersama-sama pendidik dan sekolah menggerakan gerakan moral di sekolah dan di lingkungan rumah&lt;br /&gt;Bersama-sama pendidik dan sekolah memberikan penyadaran pada orang tua dalam pengawasan upaya pembiasaan kepribadian.&lt;br /&gt;Bersama-sama pendidik dan sekolah mengupayakan proses pembelajaran yang harmonis agar subjek didik suka dan tertarik mempelajari agama Islam dan mengamalkannya.&lt;br /&gt;V&lt;br /&gt;Lahirnya sekolah dan madrasah secara filosofis dan historis tidak lain adalah untuk menjawab kebutuhan masyarakat. Dan oleh karena itu, eksistensinya tidak dapat dilepaskan dari masyarakat. Masyarakat  mestilah menjadi bagian terdepan dalam menyokong segala sesuatu yang berhubungan dengan penyelenggaraan madrasah. Oleh karena itu hubungan interdependensi keluarga, sekolah dan masyarakat tidak dapat dielakkan begitu saja jika menginginkan madrasah tidak terasing bagi pemiliknya, yaitu masyarakat. Dan  masyarakat mestilah pula bertanggungjawab atas keberlangsungan aktivitas pembelajaran di madrasah.&lt;br /&gt;Komite madrasah sebagai lembaga independen dalam sistem pendidikan madrasah merupakan lembaga yang  mewadahi berbagai kepentingan yang dibutuhkan dalam proses pendidikan madrasah agar efektif dan efisien dalam menjalankan fungsi dan perannya sebagai penumbuhkembangan kualitas sumber daya manusia yang tidak lain adalah inti bagi pembangunan masyarakat dan negara yang tidak terelakkan.&lt;br /&gt;Peranan komite madrasah ini bukan saja dalam penyediaan dana dan unsur materi lainnya, tetapi lebih dari, meliputi segala sesuatu yang berkenaan dengan berbagai persoalan yang behubungan dengan kualitas penyelenggaraan proses kependidikan di madrasah.&lt;br /&gt;--------&lt;br /&gt;DAFTAR KEPUSTAKAAN&lt;br /&gt;Davis K., and Newstrom, J.W., Human Behavior at Work, Mc. Graw Hill, New York, 1985.&lt;br /&gt;Depag RI., Pedoman Komite Madrasah, Dirjen Bimbaga Islam, Jakarta, 2003.&lt;br /&gt;Ebel, Robert L., “What are Schools for” dalam Harvey F. Clarizio et all (ed)., Contemporary Issues in Educational Psychology, Allyn and Bacon, Inc, Boston, 1977&lt;br /&gt;Faqence, Citizen Participation Planning, Mc. Graw Hill, New York, 1985.&lt;br /&gt;Mulyasa dan Taufiq Dahlan, Pedoman Manajemen berbasis Madrasah, Dirjen Kelembagaan Agama Islam Depag RI, Jakara&lt;br /&gt;Ndaka Talizudu, Pembangunan Masyarakat: Mempersiapkan Masyarakat Tinggal Landas, Rennika Cipta, Jakarta, 1990.&lt;br /&gt;Uyoh Sadullah, Pengantar Filsafat Pendidikan, Al-fabeta, Bandung, 2003..&lt;br /&gt;Wijaya, A.W., Manusia Indonesia; Individu, Keluarga dan Masyarakat, Presindo, ..Palembang, 1985.&lt;br /&gt;Zamroni, Paradigma Pendidikan Masa Depan, Bigraf, Yogyakarta, 2000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4134222016972542877#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;[*]&lt;/a&gt; Dosen Filsafat Pendidikan Islam pada fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Suska Riau&lt;br /&gt;Alamat: Puri Rajawalimas E5. Jl. Rajawali Sakti Panam Pekanbaru Telp/HP: 0761 561749/0816370599&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4134222016972542877#_ednref1" name="_edn1"&gt;[1]&lt;/a&gt; George F. Kneller,  Introduction To The Philosophy of Education, Second Edition, John Wiley &amp;amp; Sons, Inc, New York, 1971, h. 47. Lihat juga Arthur K. Ellis dkk., Introduction To The Foundations of Education, Prentice Hall, New Jersey, 1986, h. 122.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4134222016972542877#_ednref2" name="_edn2"&gt;[2]&lt;/a&gt; Zuhairini dkk., Filsafat Pendidikan Islam,  Bumi Aksara, Jakarta, 1992, h. 29.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4134222016972542877#_ednref3" name="_edn3"&gt;[3]&lt;/a&gt; Uraian lebih lanjut, dapat dilihat tulisan Jup Schlerens, Peningkatan Mutu Sekolah, Logos, Jakarta, 1999, h. 25.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4134222016972542877#_ednref4" name="_edn4"&gt;[4]&lt;/a&gt; Dapat dilihat umpamanya E. Mulyasa, Menjadi Kepala Sekolah Profesional, Rosda Karya, Bandung, 1998, h. 170.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4134222016972542877#_ednref5" name="_edn5"&gt;[5]&lt;/a&gt; Lihat Undang-Undang RI, tentang Sistem Pendidikan Nasional, Sinar Graha, Jakarta, 1992, h. 290.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn6" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4134222016972542877#_ednref6" name="_edn6"&gt;[6]&lt;/a&gt; Uraian yang lebih rinci dapat dibaca lebih lanjut, Dep. Agama RI., Pedoman Komite Madrasah, Dirjen Bimbaga Islam, Jakarta, 2003.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn7" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4134222016972542877#_ednref7" name="_edn7"&gt;[7]&lt;/a&gt; Made Pidarta, Manajemen Pendidikan Indonesia, Rinneka Cipta, Jakarta, 2004, h. 185.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn8" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4134222016972542877#_ednref8" name="_edn8"&gt;[8]&lt;/a&gt; Mulyasa dan Taufiq Dahlan, Pedoman Manajemen berbasis Madrasah, Dirjen Kelembagaan Agama Islam Depag RI, Jakara, h. 92&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn9" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4134222016972542877#_ednref9" name="_edn9"&gt;[9]&lt;/a&gt; Uraian lebih rinci dapat dilihat Depag RI., Pedoman Komite Madrasah, Dirjen Bimbaga Islam, Jakarta, 2003.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4134222016972542877-2121621234224820685?l=muhmidayeli-perpustakaanmuhmida.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhmidayeli-perpustakaanmuhmida.blogspot.com/feeds/2121621234224820685/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://muhmidayeli-perpustakaanmuhmida.blogspot.com/2009/03/fungsionalisasi-peran-masyarakat-dalam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4134222016972542877/posts/default/2121621234224820685'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4134222016972542877/posts/default/2121621234224820685'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhmidayeli-perpustakaanmuhmida.blogspot.com/2009/03/fungsionalisasi-peran-masyarakat-dalam.html' title='Fungsionalisasi Peran Masyarakat dalam Peningkatan Mutu Pendidikan'/><author><name>muhmidayeli</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08080079530456384027</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_sUDEfuQg6gw/SxYaajpzvvI/AAAAAAAAACU/jlIaHXHd_EA/S220/IMG_0122.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
